“Memangnya putri dalam dongeng apa yang ada dalam bayanganmu? Dia hanya ingin menikah dengan kau, pangerannya, dengan nuansa terbuka dan konsep alamiah.”
Dafi menatap Milo dengan mulut ternganga. Selama ini Dafi pikir Risa ingin pernikahan mewah seperti pernikahan Cinderella. Astaga. Kenapa jadi melenceng jauh seperti ini?
“Aku harus segera mencari cara untuk pulang dan menemui Risa,” gumam Dafi.
“Mudah saja. Nenek tadi bisa membantu kita,” ucap Milo.
“Membantu bagaimana? Beneran membantu? Kalau ternyata dia jahat bagaimana?”
Milo menggeleng. “Aku tidak tahu caranya, tapi nenek tadi bilang bisa membantu. Ayo,” ajak Milo sambil melangkah lebih dulu. Melihat Dafi masih terpaku, Milo menggigit celana Dafi dan berusaha menariknya. “Ayo, walau seram nenek itu tidak jahat, kok. Kau harus percaya pada naluri seekor kucing.”
Dengan terpaksa, Dafi pun kembali ke gubuk itu. Di depan gubuk, nenek itu sudah menunggu dengan tidak sabar.
“Kenapa lama sekali? Memangnya kalian tidak ingin pulang?” tanya nenek itu dengan kesal.
“Mau, Nek. Mau. Tolong bawa kami pulang,” ucap Dafi.
“Sini masuk.” Dafi dan Milo di bawa ke dalam dan diminta duduk lesehan di bawah. Sementara itu, si nenek membuat sesuatu di kualinya. “Maaf ya, sepertinya kau tidak sengaja masuk lewat portal yang kubuka. Tadinya aku hanya ingin memanggil gagakku yang lupa pulang, eh, kalian malah masuk. Yah, bukan salahku juga sih. Kalian yang sembarangan masuk. Kalian ini harus hati-hati. Kalau pergi ke mana pun, baca doa. Untung saja aku yang membuat portalnya. Kalian bisa saja terdampar di gua milik siluman yang jahat.” Nenek itu mengaduk sambil terus mengoceh.
Tak butuh waktu lama, nenek itu pun memberi mereka sebuah minuman berwarna hijau pucat yang aneh. Dafi mendapat segelas, sementara Milo mendapat semangkuk kecil. “Tidak perlu dihabiskan. Seteguk saja sudah cukup untuk membawa kalian pulang. Namun, sebelum kau meminumnya, aku peringatkan kau.” Nenek itu menatap tajam pada Dafi. “Kalau kau bersikap kasar pada kucing, aku akan menghantuimu dalam mimpi. Bumi itu bukan milikmu sendiri. Jangan angkuh.”
Dafi bergidik sementara Milo tertawa geli. “Dafi tidak jahat, kok, Nek. Yah, walau aku tidak tahu setelah ini dia masih mau mengajakku bermain atau tidak,” celoteh Milo.
“Aku mau. Mari kita bermain lagi setelah ini,” jawab Dafi. “Kau kan menyayangi Risa. Risa juga menyayangimu. Kurasa itu sudah cukup menjadi alasan untukku belajar menyayangimu juga.”
“Bagus. Sekarang cepatlah pulang,” ucap nenek itu dengan nada mengusir.
Milo menjulurkan lidahnya ke mangkuk, sementara Dafi memejamkan mata sebelum meneguk isi cangkirnya. Karena tidak ada rasanya, Dafi pun membuka mata. Risa menatapnya dengan wajah menahan tawa. “Kalian habis main apa, sih. Sampai ketiduran begitu,” ucap Risa.
Dafi mengamati sekitarnya. Rupanya ia tertidur di sofa. Milo yang berada di perutnya, bangun lebih dulu dan menjilat wajah Dafi. Herannya, perasaan tidak suka pada Milo lenyap begitu saja. “Aku bermimpi aneh,” ucap Dafi sambil duduk. Milo turun dari perutnya dan menghampiri Risa. Kucing itu mengolet manja di dekat kaki Risa.
“Sepertinya mimpinya sangat aneh sampai kamu bisa tertidur nyenyak dengan Milo. Aku belum pernah melihat kalian begitu dekat.” Risa lagi-lagi tertawa.
Melihat Risa tertawa, Dafi jadi teringat ucapan Milo dalam mimpinya,”Risa, apa kau setuju jika aku mempercepat tanggal pernikahan kita?”
Risa kini menatapnya dengan tatapan bahagia. “Tentu saja. Aku sebenarnya sangat menantikan itu, kau tahu?”
Dafi bangun dan memeluk Risa. “Maaf, ya, aku kurang peka,”
Risa menyambut pelukannya. Beberapa menit, Dafi menikmati momen ini, hingga Dafi merasakan Risa mendorongnya. “Dafi, plakatku kenapa?” Risa bangun dan melihat plakat yang berserakan di atas meja. Salah satu plakat itu memiliki retakan yang besar.
Dengan panik, Dafi langsung menoleh mencari Milo. Di depan pintu kamar Risa, Dafi melihat Milo menjulurkan lidahnya.
Bagus banget, Nur. Ending-nya enak menyenangkan. Cara memaparkannya pun nyaman banget dibaca.
BalasHapusBikin lagi, Nur. Bikin lagi kayak gini. Kamu jagoan!
Siap Bang Jago!
HapusSeru bgt. Aku suka cerita2 fantasi ky gini
BalasHapusAku juga suka! Hehe
HapusAkhirnya ending juga, seru banget tahu, cocok banget nih buat dongeng ntar malam
BalasHapusBoleeh
HapusSeru cerita nya, enak dibaca saat mau tidur.
BalasHapusSemoga mimpi indah!
HapusBang Jamal udah bilang kamu jagoan, berarti karyamu udah keren.
BalasHapusTapi setiap bikin cerita horor dikata lucu ama doi mah.
HapusKalau baca dari awal kayaknya seru banget ya, Kak. Namun, yang jelas saya suka bacanya, ceritanya mengalir
BalasHapusThank u!
HapusCeritanya mengalir. idenya tentang portal benar-benar unik.
BalasHapusThank u!
Hapusceritanya seru banget, enak dibaca
BalasHapusAku selalu suka membaca cerita bergenre ini, butuh imajinasi yang tinggi loh ini.
BalasHapus