Minggu, 18 Juni 2023

Final Challenge Oprec ODOP

Kesan dan pesan Mengikuti Oprec ODOP


Tahun lalu, saya pernah ingin mengikuti ODOP tapi terlambat mendaftar. Syukurlah, di tahun ini saya bisa mengikuti Oprec ODOP.


ODOP adalah suatu komunitas yang mewadahi para penulis blog yang aktif menulis setiap hari. One Day One Post. Oprec (Open Recruitment) ODOP bertujuan untuk menyaring calon anggota baru di komunitas ini. Dengan syarat postingan setiap hari dan beberapa tantangan setiap pekannya, saya sampai pada hari ini.


Awal seleksi sebelum menuju oprec, ODOP meminta tulisan tentang kenakalan remaja. Mulanya, saya menganggap remeh. Ini seperti sebuah tulisan umum bak tugas di jaman sekolah saya dulu. Namun, menulis kenakalan remaja ternyata tetap jadi kesulitan mengingat saya sudah lama lulus sekolah. Entah bagaimana dengan calon peserta lain yang usianya jauh di atas saya. Tentu tantangannya jadi lebih berat. Dengan tulisan yang saya buat sepenuh hati, saya pun mengisi formulir pendaftaran. Daaan, saya lulus seleksi. Oprec ODOP pun dimulai.


Para peserta, mentor, dan penanggung jawab dikumpulkan di satu grup wa bernama Aula. Selain grup Aula, grup untuk para peserta dibagi atas dua grup kecil, yakni Grup Buya Hamka dan Grup Dee Lestari. Di dalamnya terdapat satu penanggung jawab yang bertugas membantu mengatur kelancaran di masing-masing grup tersebut. Saya termasuk yang bergabung dalam Grup Buya Hamka.


Bagi saya yang sudah pernah mengikuti event serupa di komunitas lain, syarat utamanya tidaklah sulit. Hanya menulis setiap hari, dan posting di blog masing-masing. Jumlah katanyalah yang menjadi pembeda. Setiap pekan, minimum jumlah kata yang ditulis terus naik. Saya yang terbiasa menulis hanya sedikit-sedikit setiap hari, cukup merasa kelimpungan. Ditambah lagi, tulisan tantangan pekanan yang harus diselesaikan. Tantangannya cukup beragam, dan sejalur dengan kelas yang diikuti. Yap, kelas.


Oprec ODOP tak hanya meminta peserta untuk menulis. Melainkan juga membagi ilmu untuk menulis lebih baik dan beragam. Mulai dari menulis cernak, review buku, tulisan opini, hingga cerita bersambung. Sangat bermanfaat sekali.


Saya sangat menyesali kelalaian saya yang tidak menyimak sepenuhnya setiap materi yang ada. Tuntutan pekerjaan dan beban yang saya tanggung membuat saya tidak leluasa mengikuti jalannya Oprec ini. Meski begitu, saya tetap berusaha mengikuti langkah dasarnya. Menulis setiap hari. Tidak mulus. Beberapa kali saya harus berutang tulisan dan tertatih mencapai poin minimum yang ditetapkan untuk lolos eliminasi setiap minggunya. Di setiap hari Senin, saya akan mengucap syukur karena bukan saya yang tereliminasi.


Oprec ODOP terisi oleh orang-orang hebat lintas usia maupun profesi, dan disatukan oleh keinginan untuk belajar menulis. Mentor-mentor yang dihadirkan membawa hal spesial di setiap kelasnya.


Terima kasih untuk penyelenggara, yang menghadirkan event keren seperti ini. Terima kasih untuk penanggung jawab yang mengingatkan dan menyemangati setiap hari. Terima kasih pada teman-teman sesama peserta terutama di Grup Buya Hamka yang selalu membagi ilmu, tulisan berharga, dan komentar membangun.


Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Oprec kali ini. Semoga lulus, dan saya bisa mengikuti kegiatan ODOP kedepannya dengan lebih baik lagi.


Sabtu, 17 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (4-Selesai)

Dalam kondisi yang sudah sangat sakit hati, aku pun menceritakan hal itu. Hal yang sudah lama aku pendam. “Yas, sebenernya, Yudi pernah minta nete ama gue. Gue nolak. Kayaknya, Yudi jadi makin kasar semenjak gue nolak itu.”


Mama dan Yasmin pun terlihat sangat terkejut. “Nete? Maksud lu, nyusu gitu? Ngempeng di payudara lu?” tanya Yasmin.


Aku mengangguk sambil menangis. Yasmin memelukku sambil gemetar dalam kemarahannya. Hingga kami menyadari ternyata Sam berada di depan pintu Yasmin. Ia mendengar semuanya.


Dia segera masuk dan bicara padaku. “Sar. Udahlah. Aku nggak tahan lagi lihat kamu diginiin sama keluarga kamu. Mending, sekarang, kamu pamit baik-baik sama Mpok. Kamu pisah rumah aja. Kamu ngontrak sendiri. Nanti aku bantuin. Ya?” bujuknya.


Aku gemetar membayangkan kemungkinan mesti berpisah dengan keluargaku. Aku menatap Mama. Mengharapkan tanggapannya.


“Mama nggak tahu, Sar. Bingung Mama. Yaudah, kamu coba aja. Cuma tinggal terpisah, bukan meninggalkan. Siapa tahu, setelah tinggal terpisah kepalanya Ani jadi lebih dingin dan bisa mikir jernih. Inget, izin baik-baik,” nasihat Mama.


Aku pun pulang. Demi menghindari kerusuhan, Sam tidak mengantarku ke rumah. Dia hanya menunggu di depan gang dekat rumahku. Di rumah, aku berbicara baik-baik pada Mpok Ani tentang niatku untuk mengontrak sendiri. Namun, bukan jawaban yang kuterima, aku justru menerima makian dari Mpok Ani. Dengan rasa kesal, aku pun membongkar kelakuan suaminya yang pernah meminta menyusu padaku dan kelakuan-kelakuan menjijikan lainnya. Ani terkejut sejenak. Yudi yang menyimak dan nyinyir sejak tadi, murka. Dengan kepalan tangannya , ia memukul kepalaku bertubi-tubi. Kakinya bahkan menginjakku. Tidak membelaku sama sekali, Ani kakak kandungku hanya menontonku yang sedang dianiaya.


Sam yang khawatir datang dan naik pitam saat melihat kondisiku. Sam mengambil batu bata dan memukulkan ke kepala Yudi hingga berdarah. Mpok Ani menjerit-jerit. Situasi di rumah pun menjadi kacau. Tetangga yang tertarik dengan keributan itu pun menahan Sam. Mereka memperlakukan Sam seperti penjahat. Sam diseret ke pelataran besar sebuah rumah yang masih keluarga Sam.


Saat itulah, aku baru tahu ternyata keluarga besar Sam adalah orang yang cukup terpandang. Kong Anwar, Engkongnya Sam marah melihat Sam diperlakukan buruk oleh orang-orang. Dengan wibawanya, Sam pun di sidang di depan orang banyak. Tidak ada yang membela kami. Semuanya menganggap perlakuan Mpok Ani sebagai kewajaran. Juga, tidak ada yang berani berkomentar terhadap kelakuan Yudi.


Bapakku yang datang, tidak menengahi justru mengompori masyarakat, “Penjarain aja, penjarain!”


Orang-orang pun mulai berceloteh dengan asal, “Udah nikahin aja. Biar nggak jadi keributan.”


Akhirnya, diusiaku yang masih 16 tahun, kami dipaksa menikah. Kami memang berencana menikah, tapi bukan tahun ini. Dengan pernikahan yang mendadak dan diminta secepatnya, keluarga Sam pun kalang kabut. Namun, akhirnya pernikahan itu pun terlaksana. Pernikahan yang terjadi karena tragedi.


Saat ini, kami sudah memiliki seorang putri. Masa laluku mungkin sangat buruk. Pernikahan kami juga terjadi karena tragedi. Namun, kasih sayang yang kami miliki murni adanya. Sam juga selalu berusaha menjadi suami yang baik. Aku, sebagai seseorang yang banyak merugikannya, berusaha menjadi istri yang baik. Kami juga berusaha menjadi orang tua yang baik untuk putri kami.


Bukan berarti tidak ada halangan. Justru halangan dari Mpok Ani tetap saja datang. Saat ini, dia sering menelpon meminta uang. Dia sudah menjadi janda, sejak Yudi menceraikannya dan menikah lagi. Aku yang sudah cukup lama mengetahui perselingkuhan Yudi, merasa bersyukur dengan perceraian mereka. Namun, Mpok Ani yang terbiasa mengandalkan uang dari Yudi, tidak bisa berkutik saat ditinggalkan begitu saja. Aku dan Sam pun jadi diteror dengan keluhan Mpok Ani. Aku yang kasihan dengan kedua keponakanku, juga adikku Alvin, berusaha membantu sebisaku.


Aku harap, apa yang terjadi padaku tidak terjadi pada orang lain. Kasih sayang bukanlah sesuatu yang harus dilarang. Yang salah dan harus dilarang adalah nafsu manusia, cinta buta yang menutup mata hati Mpok selama ini, dan caraku mencari kasih sayang yang menjadi sebuah kenakalan. Tidakkah jika kasih sayang itu dipupuk dengan baik, maka cahayanya akan melebar?


Aku mengecup kening putriku dan berucap, “Mama sayang kamu.”


_ Selesai

Jumat, 16 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (3)

Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum pernah kuceritakan pada Yasmin. Aku enggan menceritakannya. Sungguh, jika aku menceritakan ini, mungkin banyak hal buruk yang akan terjadi. Jadi, aku menutupnya rapat-rapat.


Waktu berlalu dan aku sudah berusaha mengambil hati Mpok. Aku bersikap baik di rumah, Sam juga sudah berusaha menunjukkan sikap baik setiap bertemu Mpok. Namun, Mpok selalu terang-terangan bersikap kasar dan mencemooh Sam. Aku kenal Sam. Dia sebenarnya bukan orang mudah menahan amarah. Demi aku, dia rela menerima semua perlakuan tidak enak dari Mpok. Mpok tetap berusaha memisahkanku dengan Sam, sampai menerima bujukan Yudi untuk menjodohkanku dengan temannya yang bernama Yadi.


“Mpok bukannya nggak suka sama Sam gara-gara dia supir truk? Yadi kan juga supir, Mpok!” erangku.


“Eh, Sar. Yadi itu supir kontener. Duitnya banyak. Lu cuma lulusan SMP, mesti nyari laki yang duitnya banyak!” tegas Mpok Ani.


Berkali-kali pun aku menolaknya, Mpok Ani dan suaminya tetap saja menjodohkan aku dengan Yadi. Yadi pun berusaha mengambil hatiku dengan beragam barang. Dia sampai memberikanku sebuah ponsel yang cukup bagus. Melihat barang-barang yang dibawa Yadi, Mpok Ani semakin gencar memaksaku. Padahal aku masih menjalin hubungan dengan Sam.


Aku semakin tidak suka berada di rumah. Kadang, aku berada di rumah Yasmin. Kadang, aku juga berada di rumah keluarga Sam. Berbaur bersama orang tua dan adik-adik Sam yang penuh kehangatan. Hingga hari itu pun tiba.


Aku sedang membantu ibunya Sam memasak di dapur, Mpok Ani datang ke rumah Sam sambil mengamuk. Memintaku untuk pulang. Sebenarnya, aku juga berniat langsung pulang karena rasa malu, tapi belum sempat keluar rumah, Yudi dan Yadi datang dengan motornya sambil membawa botol kaca yang sudah kosong. Mereka berdua berteriak dengan mengancam dengan kata-kata yang sangat kasar. Botol kaca itu sampai dipecahkan sambil menunjuk-nunjuk keluarga Sam.


Mungkin, inilah batas kesabaran Sam. Seseorang yang terbiasa dengan kerasnya jalanan, tidak bisa melihat keluarganya diperlakukan buruk. Sam mengambil parang dan kami semua ketakutan dibuatnya. Suasananya menjadi semakin kacau. Aku menangis, khawatir Sam berbuat nekat. Adik-adik Sam pun berusaha menahan Sam. Melihat Sam yang kalap dengan dengan parangnya, Yudi dan Yadi kabur begitu saja meninggalkan Mpok Ani. Beruntung, setelah kepergian Yudi dan Yadi, Sam pun mulai tenang. Segera, aku pulang agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk.


Setelah hari itu, keluarga Sam juga mulai membenciku. Mereka juga melarang Sam berhubungan denganku. Berkali-kali aku berusaha, keluarga Sam tetap enggan menerimaku. Sementara itu, perlakuan Mpok Ani dan Yudi semakin menjadi. Mereka mulai main fisik untuk menyiksaku. Bahkan Yudi, tidak segan menendang dan memukulku. Aku tidak takut. Aku justru semakin ingin pergi. Namun, kini aku tidak punya siapa pun lagi. Mpok lebih menyayangi suaminya dibanding aku. Alvin adikku bahkan dihasut untuk membenciku. Hampir setiap hari, aku hanya bisa menangis dan mengadu pada Yasmin sahabatku.


“Mama juga nggak bisa berbuat banyak, Sar. Bagaimanapun, Ani itu kakak kamu. Mama nggak punya hak buat membela kamu lebih dari ini. Mama bingung cara bantunya bagaimana. Mpok kamu juga nggak bisa dinasihati, dia udah dibikin buta mata hatinya karena si Yudi. Bapak kamu juga, nggak pernah memihak kamu karena takut nggak dikasih duit sama Yudi. Heran, semuanya tergila-gila sama duit. Padahal duitnya Yudi juga nggak seberapa,” sesal Mama.


“Ay, sebenarnya Sam masih sayang sama lu. Dia sering nanyain kabar lu ke gua. Cuma Sam belum bisa dateng, dia lagi berusaha ngeyakinin keluarganya dulu. Sumpah deh, gua kesel banget ama si Yudi itu. Udah tua kok nggak punya otak. Bisa-bisanya mukul cewek. Mpok lu juga bukannya belain lu,” omel Yasmin.


Dalam kondisi yang sudah sangat sakit hati, aku pun menceritakan hal itu. Hal yang sudah lama aku pendam. “Yas, sebenernya, Yudi pernah minta nete ama gue. Gue nolak. Kayaknya, Yudi jadi makin kasar semenjak gue nolak itu.”


Kamis, 15 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (2)

Aku lulus dengan nilai yang terbilang kurang. Tidak seperti Yasmin yang bisa bersekolah di SMA Negeri, tidak ada sekolah negeri yang mau menerimaku. Sementara Mpok Ani tidak mampu membiayaiku di sekolah swasta. Aku pun menerima takdirku untuk berpuas diri sebagai lulusan SMP. Aku bekerja di sebuah pabrik roti dan berusaha menabung. Hubunganku dengan Sam pun terjalin baik. Beberapa kali kami bertengkar karena sifatku yang kekanakan, tapi Yasmin selalu membantu menengahi kami. Hal yang tidak bisa kuatasi adalah, Mpok tidak merestui hubungan kami.


“Yang bener aje lu, Sar. Laki-laki modelan begitu lu pacarin. Mau jadi ape lu?” ucap Mpok.


“Sam baek, Mpok. Dia dewasa. Mpok liat dong, gimana dia sama keluarganya. Dia laki-laki yang bertanggung-jawab.”


“Elu mana tahu soal laki-laki yang baek!” oceh Mpok lagi.


Dengan kesal, aku pun membalasnya, “Terus yang baek itu modelan Yudi? Yang suka ngejablay?”


“Lu didiemin makin kurang ajar, ya!” Mpok mulai menimpukku dengan barang-barang terdekat yang ada di dekatnya. Aku pun memilih pergi dengan tangis tertahan. “Sono! Pergi lu ke rumah si Yasmin! Enak lu ye, ada yang lindungin!” Aku tidak menggubris ocehannya.


Aku memang ke rumah Yasmin. Rumah yang menerimaku dengan tangan terbuka. Kadang, aku juga memilih tidur di sini. Bahkan, tanpa kuminta, Mama yang kini kuanggap seperti ibuku sendiri, sering memasak makanan kesukaanku.


“Ma, masak apa?” tanyaku pada wanita yang suka tersenyum lebar itu.


“Ayam kecap. Kamu makan gih, ajak Yasmin. Dia belum makan, nunggu kamu katanya,” jawab Mama sambil mengisi buku teka-teki silang favoritnya.


“Yas, lu belum makan?” tanyaku pada Yasmin yang asik membaca novelnya. Tak mendengarku, dia pun tak menjawab. Inilah Yasmin. Dia tidak bisa mendengar apa pun kalau pikirannya sudah masuk ke buku. “Yas, woi, makan. Jangan baca melulu.” Aku melambaikan tanganku untuk mengganggunya.


“Eh, Ay. Udah dateng?” tanyanya setelah kembali fokus di dunia nyata.


“Makan, hayuk,” ajakku.


“Duh, belom kelar baca, nih, tinggal 200 halaman lagi,” rengeknya.


Aku menggeleng-geleng melihatnya. Apa serunya menghabiskan buku beratus-ratus halaman? “Lu bohong sama Mama, ya? Bilangnya nungguin gue, padahal emang lu ga pengen diganggu karena lagi baca, kan?” ejekku. Yasmin membalasku dengan cengiran khasnya. “Ya udah, gue makan duluan, ya,” ucapku.


“Ah, jangan. Hayuk bareng.” Yasmin segera bangkit. Aku pun tertawa melihatnya. Yasmin lebih suka makan sepiring berdua dibanding makan sendiri. Aku pun mulai menyukainya. Tidak peduli menambah beberapa kali karena masih lapar, makan bersama memang lebih menyenangkan.


Aku menyendok nasi dan lauk sementara Yasmin menunggu. Masih dengan bukunya yang ia baca sambil mencuri-curi waktu. Begitu piring dan dua sendok dihidangkan di hadapannya, ia segera menutup buku dan makan bersamaku.


“Lu berantem lagi sama Mpok Ani, ya?” tebak Yasmin asal-asalan.


“Iya. Gua kebawa emosi pas dia ngatain Sam. Dia bilang, ‘laki-laki modelan begitu’. Nyebelin banget,” curhatku.


“Padahal suaminya lebih parah, ya,” komentar Yasmin.


“Nah, itu! Gue nyindir suaminya terus dia jadi ngamuk. Gue tinggal pergi aja.”


Yasmin mengangkat sepotong ayam dengan tangan dan menggigitnya. “Lu, lagian. Mpok lu emosi, lu bales emosi. Kapan ademnya? Pelan-pelan, Ay. Kali aja ntar kebuka hatinya.”


“Iya, sih. Tahulah. Gue juga nggak paham. Kalo sama orang laen bisa sabar, kalo ama Mpok gue gampang ikutan emosi. Gue keselnya dia selalu belain suaminya dibanding gue, adeknya sendiri. Udah jelas lakinya yang salah, tetep aja gue yang diomelin,” celotehku.


Yasmin menatapku simpati. “Gua kalo jadi lu kesel juga, sih.”


Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum pernah kuceritakan pada Yasmin. Aku enggan menceritakannya. Sungguh, jika aku menceritakan ini, mungkin banyak hal buruk yang akan terjadi. Jadi, aku menutupnya rapat-rapat.

Rabu, 14 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (1)

*kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Selamat membaca.


Mama pergi tepat saat aku sedang menjalani Ujian Kelulusan Sekolah Dasar. Ibu dari sahabatku datang dan mengabarkan Mama sedang berada di detik-detik terakhirnya. Jadi, aku meninggalkan sekolah dan pulang untuk menemani Mama.


Ada sakit hati yang sangat dalam, mengingat Mama sakit sekian lama karena menahan luka hati yang begitu besar. Bapak menikah lagi dan tidak terlalu mengurus kami secara finansial. Bukannya lepas tangan sama sekali, Bapak masih sering berkunjung tapi sekedar menanyakan kabar lalu pergi lagi. Namun, aku harus sedikit lega karena Mama kini tidak sakit lagi. Tinggallah aku, Mpok Ani, dan Adikku Alvin, harus terbiasa mandiri.


Lihat, itu Yasmin sahabatku yang selalu memanggilku dengan panggilan sayang ‘Ay’. Tubuh kurusnya memelukku, sementara air matanya membasahi bajuku. Sedekat apa pun hubungan kami, aku masih sering terkejut dengan melankolisnya. Ia menangis dengan ketulusan seakan ia juga merasakan kesedihan yang kualami. Padahal ia bukan keluargaku, tapi ia menangis seperti itu.


“Ay, yang tabah ya... Lu tahu, kan, gua bakal selalu ada buat lu,” hiburnya. Sebuah hiburan yang justru membuat air mataku mengalir lagi. Kepergian Mama jadi terasa begitu nyata.


Ibunya Yasmin kini gantian memelukku. “Di sini juga ada saya. Anggap saya seperti Mama sendiri ya. Almarhumah mama kamu juga dekat dengan saya selama ini. Jadi, jangan sungkan. Sekarang, kamu bisiki Mama, bilang kalau kamu sudah ikhlas. Bilang kamu akan jaga Alvin. Tapi, jangan sampai air mata kamu menetes ke badan Mama, kasihan.”


Aku menuruti nasihat Mamanya Yasmin. Sambil menahan tangis, aku membuka kain yang menutup wajah Mama dan berbisik, “Ma, Sarah ikhlas. Mama yang tenang, ya. Sarah bakal jaga Alvin bareng Mpok Ani. Mama jangan khawatir.”


Namun, setelah kepergian Mama, aku yang pemberontak ini tidak bisa menepati janji pada Mama. Hubunganku dengan Mpok Ani tidak begitu baik. Mpok Ani sering sekali marah-marah karena hal yang sepele menurutku dan aku menjadi tidak nyaman di rumah. Itu berlanjut hingga aku SMP. Aku tidak masuk ke sekolah yang sama dengan Yasmin, jadi aku mulai memiliki teman-teman baru di sekolah. Aku mulai jarang bermain dengan Yasmin, tetapi sesekali aku berkunjung ke rumahnya untuk curhat dan menghilangkan penat.


Di sekolah, aku melakukan banyak kenakalan remaja dengan teman satu geng. Hingga, kenakalan remajaku semakin parah. Aku terjerumus dalam seks bebas. Aku memanfaatkan tubuh dan wajahku yang seperti orang dewasa untuk mendapatkan kasih sayang dari laki-laki. Juga, demi mendapatkan uang dan barang-barang yang tidak akan bisa kumiliki jika meminta pada Mpok.


Beberapa kali berganti kekasih, aku tersadar saat kekasihku masuk penjara karena obat-obatan terlarang. Masa depan seperti apa yang bisa kumiliki jika mendapat pasangan hidup sepertinya? Aku pun memutuskan hubungan dan berusaha menjadi lebih baik. Aku semakin sering bersama Yasmin, dan Mama -panggilanku untuk Mamanya Yasmin- mulai menerimaku kembali setelah sebelumnya sangat kesal dengan kenakalanku.


Saat itulah, aku bertemu dengannya. Hubunganku dengan Sam dimulai dengan sederhana. Dia adalah saudara dari tetanggaku. Beberapa pertemuan membuat kami menjadi dekat dan kedewasaannya membuatku nyaman. Dia mengajariku hal-hal baik. Aku pun merasa, dia adalah orang yang bisa melindungiku.


Dia bukan orang yang berpendidikan. Dia juga bukan orang yang memiliki pekerjaan keren. Dia hanya supir truk, yang berjuang menafkahi orang tua dan kelima adiknya. Kami bersama hingga aku lulus SMP. Dengan perbedaan usia enam tahun, dia membantuku melewati masa-masa sulit.


Aku lulus dengan nilai yang terbilang kurang. Tidak seperti Yasmin yang bisa bersekolah di SMA Negeri, tidak ada sekolah negeri yang mau menerimaku. Sementara Mpok Ani tidak mampu membiayaiku di sekolah swasta. Aku pun menerima takdirku untuk berpuas diri sebagai lulusan SMP. Aku bekerja di sebuah pabrik roti dan berusaha menabung. Hubunganku dengan Sam pun terjalin baik. Beberapa kali kami bertengkar karena sifatku yang kekanakan, tapi Yasmin selalu membantu menengahi kami. Hal yang tidak bisa kuatasi adalah, Mpok tidak merestui hubungan kami.

Selasa, 13 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing (6 - Selesai)

 “Memangnya putri dalam dongeng apa yang ada dalam bayanganmu? Dia hanya ingin menikah dengan kau, pangerannya, dengan nuansa terbuka dan konsep alamiah.”


Dafi menatap Milo dengan mulut ternganga. Selama ini Dafi pikir Risa ingin pernikahan mewah seperti pernikahan Cinderella. Astaga. Kenapa jadi melenceng jauh seperti ini?


“Aku harus segera mencari cara untuk pulang dan menemui Risa,” gumam Dafi.


“Mudah saja. Nenek tadi bisa membantu kita,” ucap Milo.


“Membantu bagaimana? Beneran membantu? Kalau ternyata dia jahat bagaimana?”


Milo menggeleng. “Aku tidak tahu caranya, tapi nenek tadi bilang bisa membantu. Ayo,” ajak Milo sambil melangkah lebih dulu. Melihat Dafi masih terpaku, Milo menggigit celana Dafi dan berusaha menariknya. “Ayo, walau seram nenek itu tidak jahat, kok. Kau harus percaya pada naluri seekor kucing.”


Dengan terpaksa, Dafi pun kembali ke gubuk itu. Di depan gubuk, nenek itu sudah menunggu dengan tidak sabar.


“Kenapa lama sekali? Memangnya kalian tidak ingin pulang?” tanya nenek itu dengan kesal.


“Mau, Nek. Mau. Tolong bawa kami pulang,” ucap Dafi.


“Sini masuk.” Dafi dan Milo di bawa ke dalam dan diminta duduk lesehan di bawah. Sementara itu, si nenek membuat sesuatu di kualinya. “Maaf ya, sepertinya kau tidak sengaja masuk lewat portal yang kubuka. Tadinya aku hanya ingin memanggil gagakku yang lupa pulang, eh, kalian malah masuk. Yah, bukan salahku juga sih. Kalian yang sembarangan masuk. Kalian ini harus hati-hati. Kalau pergi ke mana pun, baca doa. Untung saja aku yang membuat portalnya. Kalian bisa saja terdampar di gua milik siluman yang jahat.” Nenek itu mengaduk sambil terus mengoceh.


Tak butuh waktu lama, nenek itu pun memberi mereka sebuah minuman berwarna hijau pucat yang aneh. Dafi mendapat segelas, sementara Milo mendapat semangkuk kecil. “Tidak perlu dihabiskan. Seteguk saja sudah cukup untuk membawa kalian pulang. Namun, sebelum kau meminumnya, aku peringatkan kau.” Nenek itu menatap tajam pada Dafi. “Kalau kau bersikap kasar pada kucing, aku akan menghantuimu dalam mimpi. Bumi itu bukan milikmu sendiri. Jangan angkuh.”


Dafi bergidik sementara Milo tertawa geli. “Dafi tidak jahat, kok, Nek. Yah, walau aku tidak tahu setelah ini dia masih mau mengajakku bermain atau tidak,” celoteh Milo.


“Aku mau. Mari kita bermain lagi setelah ini,” jawab Dafi. “Kau kan menyayangi Risa. Risa juga menyayangimu. Kurasa itu sudah cukup menjadi alasan untukku belajar menyayangimu juga.”


“Bagus. Sekarang cepatlah pulang,” ucap nenek itu dengan nada mengusir.


Milo menjulurkan lidahnya ke mangkuk, sementara Dafi memejamkan mata sebelum meneguk isi cangkirnya. Karena tidak ada rasanya, Dafi pun membuka mata. Risa menatapnya dengan wajah menahan tawa. “Kalian habis main apa, sih. Sampai ketiduran begitu,” ucap Risa.


Dafi mengamati sekitarnya. Rupanya ia tertidur di sofa. Milo yang berada di perutnya, bangun lebih dulu dan menjilat wajah Dafi. Herannya, perasaan tidak suka pada Milo lenyap begitu saja. “Aku bermimpi aneh,” ucap Dafi sambil duduk. Milo turun dari perutnya dan menghampiri Risa. Kucing itu mengolet manja di dekat kaki Risa.


“Sepertinya mimpinya sangat aneh sampai kamu bisa tertidur nyenyak dengan Milo. Aku belum pernah melihat kalian begitu dekat.” Risa lagi-lagi tertawa.


Melihat Risa tertawa, Dafi jadi teringat ucapan Milo dalam mimpinya,”Risa, apa kau setuju jika aku mempercepat tanggal pernikahan kita?”


Risa kini menatapnya dengan tatapan bahagia. “Tentu saja. Aku sebenarnya sangat menantikan itu, kau tahu?”


Dafi bangun dan memeluk Risa. “Maaf, ya, aku kurang peka,”


Risa menyambut pelukannya. Beberapa menit, Dafi menikmati momen ini, hingga Dafi merasakan Risa mendorongnya. “Dafi, plakatku kenapa?” Risa bangun dan melihat plakat yang berserakan di atas meja. Salah satu plakat itu memiliki retakan yang besar.


Dengan panik, Dafi langsung menoleh mencari Milo. Di depan pintu kamar Risa, Dafi melihat Milo menjulurkan lidahnya.

Senin, 12 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing (5)

 Dafi menutup pintu dan memilih jongkok di dalam. Dafi berpikir, apa yang membuat ia bisa terdampar di sini. Tadi, setelah lantai 10, harusnya ia sampai di atap, kan? Dipikir seperti apapun, ini tidak masuk akal.


“Apa yang kau lakukan di rumahku?” sebuah suara yang sangat mengerikan terdengar. Dafi mendongak dan melihat seorang nenek-nenek yang jelek menghampirinya.


“Huwa!” Melihat nenek-nenek itu membawa pisau besar, Dafi berteriak dan berlari keluar gubuk. Ia terus berlari sampai mendengar sebuah suara memanggilnya. Dafi pun berhenti dan mengambil napas. Ia berusaha mendengarkan.


“Tunggu. Dafi, tunggu.” Suara itu terdengar lagi. Dafi menoleh ke arah suara dan tidak melihat siapa pun kecuali Milo yang berlari menghampirinya. “Wah, kau kejam sekali meninggalkanku bersama nenek seram itu,” ucap Milo.


“Huwa!” Saking terkejutnya, Dafi pun jatuh terduduk.


“Ck! Kenapa lagi manusia ini?” Milo ikut duduk dan menjilati bulu di ekornya.


“Kau... Kau bisa bicara!” seru Dafi.


Kali ini, gantian Milo yang terkejut. “Eh, kau bisa mengerti yang kukatakan?” Dafi mengangguk cepat beberapa kali.


 “Benarkah? Sekarang, masih kedengaran? Hei, Dafi. Halo, Dafi. Dafi jelek. Apa kau mengerti yang kukatakan?”


“Tentu saja. Berhenti menyebut namaku. Lagipula, yang jelek itu kau, bukan aku.” Dafi merasa, rasa takutnya sudah berkurang. Sekarang sisa rasa heran yang ada di hatinya.


“Wah, keren. Aku sudah sangat lama ingin bisa bicara denganmu.” Milo berlari mengelilingi Dafi dengan rasa senang.


“Ini tidak keren. Ini cenderung... mengerikan,” timpal Dafi.


“Mengerikan apanya? Hei, Dafi. Kau tidak tahu, ya? Aku menyukaimu, tahu!” cerocos Milo.


“Huh. Kau kan hanya menyukai Risa. Kerjamu hanya menggangguku selama ini,” Dafi tidak percaya sekarang ia sedang berbincang dengan seekor kucing.


“Mengganggu? Hei, jangan membuatku tersinggung. Kan, kau yang mengajakku bermain.” Milo kini menatapnya dengan kesal.


“Memang itu kenyataannya,” jawab Dafi. “Apalagi tadi. Kau pendatang baru pasti tidak tahu betapa berharganya plakat-plakat itu bagi Risa. Dengan bodohnya, kau merusak plakat itu.”


“Eh? Benarkah? Aku tidak berniat menjatuhkannya tadi. Karena kau memasang wajah lucu dari bawah, kupikir kau ingin main lempar tangkap.” Milo memberinya penjelasan. Namun, Dafi mengacuhkannya. “Baiklah, maaf. Kurasa hanya aku yang kegirangan sendiri. Risa tidak pernah mengajakku bermain, jadi aku senang sekali bermain denganmu. Risa lebih sering menangis.”


Dafi kini tertarik. “Risa sering menangis?” Dafi jarang sekali melihat Risa menangis. Wanita itu lebih sering menunjukkan wajah penuh semangat.


“Iya. Sejak pertama Risa membawaku ke rumahnya, aku langsung jatuh cinta padanya.”


“Ja... Jatuh cinta?” Dafi tercekat.


“Bukan seperti cintamu padanya. Ah, kau tidak akan tahu perasaan seekor kucing.” Milo menggeleng cepat. “Intinya, karena aku mencintainya, aku ingin membahagiakannya. Namun, ia tetap saja sering menangis.”


“Em, kau tahu penyebab ia sering menangis?” tanya Dafi penasaran.


“Tentu saja. Aku kan teman curhatnya. Beberapa karena tekanan deadline dan penulis yang sulit bekerja sama, tetapi yang paling sering adalah karena kau.”


Dafi terkejut. “Aku?” Dafi berusaha mengingat, kesalahan apa yang ia lakukan sampai membuat Risa menangis. Tidak ada. Selama ini, kan, Dafi sangat berusaha menjaga perasaan tunangannya itu.


“Ck ck ck... Inilah yang terjadi kalau berhubungan dengan pria tidak peka dan tertutup sepertimu.” Milo menggelengkan kepalanya dengan prihatin. “Risa sedih karena kau terus mengundur tanggal pernikahan kalian.”


“He? Kukira Risa senang-senang saja. Aku hanya ingin mengabulkan harapannya agar bisa menikah dengan tema seperti putri dalam dongeng.”


“Memangnya putri dalam dongeng apa yang ada dalam bayanganmu? Dia hanya ingin menikah dengan kau, pangerannya, dengan nuansa terbuka dan konsep alamiah.”


Dafi menatap Milo dengan mulut ternganga. Selama ini Dafi pikir Risa ingin pernikahan mewah seperti pernikahan Cinderella. Astaga. Kenapa jadi melenceng jauh seperti ini?


“Aku harus segera mencari cara untuk pulang dan menemui Risa,” gumam Dafi.

“Mudah saja. Nenek tadi bisa membantu kita,” ucap Milo.


“Membantu bagaimana? Beneran membantu? Kalau ternyata dia jahat bagaimana?”


Milo menggeleng. “Aku tidak tahu caranya, tapi nenek tadi bilang bisa membantu. Ayo,” ajak Milo sambil melangkah lebih dulu. Melihat Dafi masih terpaku, Milo menggigit celana Dafi dan berusaha menariknya. “Ayo, walau seram nenek itu tidak jahat, kok. Kau harus percaya pada naluri seekor kucing.”