Sudah sejak dulu, kenakalan remaja menjadi santapan hangat di meja-meja gosip. Akhir-akhir ini kenakalan remaja lebih ramai diperbincangkan berkat sosial media yang menampilkan remaja-remaja tak beradab. Mulai dari yang mematikan sekring listrik masjid saat salat tarawih, hingga anak pejabat yang menganiaya manusia lain hingga nyaris kehilangan nyawanya. Mari kesampingkan membicarakan hukuman yang pantas, karena pembahasan itu sudah cukup banyak didiskusikan. Kali ini, saya ingin mengajak pembaca berkeliling. Ya, berkelilinglah dan mulai kenali remaja-remaja di sekitarmu.
Sebagai manusia yang pernah remaja, saya tahu bahwa menjadi remaja tidaklah semudah kelihatannya. Dari luar, usia remaja terlihat seperti rentang usia yang "seharusnya" belum memiliki banyak masalah layaknya orang dewasa. Kenyataannya, pada usia ini masalah sudah mengantri di depan mereka.
Masalah umum adalah remaja dihadapkan pada perubahan biologis mereka. Masa pubertas saat remaja mengalami perubahan fisik dan hormon. Remaja perempuan mengalami masa menstruasi dengan kondisi emosional yang mereka sendiri bingung menghadapinya. Sedangkan remaja laki-laki mulai menyadari ada nafsu yang harus mereka kendalikan.
Sejak kecil, sebagian besar mereka tahu bahwa ada hal-hal yang terlarang untuk dilakukan. Ada hal-hal yang bisa merugikan jika dilakukan. Di masa anak-anak, mereka mudah menjawab, "Tidak akan saya lakukan." Saat remaja, mereka terkaget-kaget bahwa menghindari itu lebih sulit dari yang diduga. Terutama, saat lingkungan dengan senang hati menenggelamkan mereka dalam lumpur. Terutama, saat orang-orang yang harusnya mengasihi mereka, malah menghancurkan mental mereka.
Beberapa hal miris yang tertangkap mata adalah ada orang-orang dewasa melarang dengan kata, tapi tindakan mereka menunjukkan hal sebaliknya. Di mulut, orang tua mengajarkan hal baik, tapi mereka mencontohkan hal buruk. Ada yang melarang tapi tidak memberi jawaban hal baik apa yang bisa dilakukan sebagai penggantinya. Ada yang melarang, tapi memberikan suasana yang menunjukkan keegoisan dan mengundang tanya. Pada akhirnya, remaja berpikir bahwa hal terlarang itu tidak sepenuhnya terlarang. Mereka mulai mencari-cari pembenaran. Kemudian, terciptalah wilayah abu-abu di antara hitam dan putih.
Sungguh sangat disayangkan. Banyak remaja yang terjurumus pada kenakalan-kenakalan yang merugikan. Kenakalan yang merusak fisik dan jiwa mereka. Kenakalan yang membuat mereka akan menyesal di masa depan, atau sudah menyesal karena masa kini adalah masa depan mereka dahulu.
Meski begitu, sadarilah. Perlu diapresiasi, masih banyak remaja yang sadar dan berjuang untuk kembali mengarahkan kapalnya ke jalur yang tepat. Hingga mereka tak perlu menabrak karang. Sungguh perlu diapresiasi, masih banyak remaja yang kapalnya terlanjur hancur, tapi tidak patah semangat untuk membenahinya. Meski begitu, sadarilah. Sungguh perlu diapresiasi, masih banyak remaja yang bisa menjaga dirinya saat ada begitu banyak cara lingkungan menghancurkan mereka.
Karena sungguh, banyaknya remaja yang dianggap buruk, maupun banyaknya remaja yang dianggap baik, tergantung dari cara kita melihat dunia. Kalau saya, saya melihat bahwa remaja saat ini masih banyak yang berpikir panjang untuk masa depan mereka. Banyak dari mereka yang masih rajin sekolah. Contohnya, dari jumlah murid di satu kelas, lebih banyak yang masuk atau yang bolos? Alih-alih sibuk menghakimi, mari kita fokus untuk menjaga dan melindungi.
Remaja yang nakal bukan untuk dimaklumi kenakalannya dengan dalil "masih anak-anak", karena mereka bukan lagi anak-anak. Mereka harusnya sudah bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Meski begitu, karena mereka belum sepenuhnya dewasa, tugas kitalah untuk menjaga mereka agar tak tergelincir. Jangan malah kita yang sudah dewasa, bersikap layaknya remaja tanpa aturan.
Alih-alih berkata, "Saya sudah terlanjur rusak, kamu yang masih remaja jangan ikut-ikutan." Akan lebih baik jika bisa membenahi diri. Tugas kita juga untuk menjadi role model mereka.
Ayah dan Ibu, sudahkah kita memberikan suasana rumah yang hangat untuk remajamu? Bapak Guru dan Ibu Guru, sudahkah kita memberikan lingkungan yang memotivasi? Sekali lagi, alih-alih mengucilkan dan memusuhi remaja nakalmu. Mari fokus untuk menjaga dan melindungi.
Untuk remaja yang mungkin membaca tulisan ini, ketahuilah bahwa melakukan kesalahan adalah hal yang wajar. Tapi, usahamu untuk mencegah kesalahan terjadi merupakan hal penting. Kalaupun terlanjur salah, tidak boleh ada jiwa yang berhak menghentikanmu untuk menjadi lebih baik. Jangan lupakan kesalahanmu agar kau bisa menghindari kesalahan yang sama.
Selalu berusaha dan lebih berusaha memilah yang baik dan buruk. Pasti ada hal baik yang bisa kau ambil. Memandanglah lebih luas, jika memang orangtua dan lingkunganmu kurang layak menjadi teladan. Kau akan menyadari semesta lebih bijaksana dari kelihatannya.