Minggu, 18 Juni 2023

Final Challenge Oprec ODOP

Kesan dan pesan Mengikuti Oprec ODOP


Tahun lalu, saya pernah ingin mengikuti ODOP tapi terlambat mendaftar. Syukurlah, di tahun ini saya bisa mengikuti Oprec ODOP.


ODOP adalah suatu komunitas yang mewadahi para penulis blog yang aktif menulis setiap hari. One Day One Post. Oprec (Open Recruitment) ODOP bertujuan untuk menyaring calon anggota baru di komunitas ini. Dengan syarat postingan setiap hari dan beberapa tantangan setiap pekannya, saya sampai pada hari ini.


Awal seleksi sebelum menuju oprec, ODOP meminta tulisan tentang kenakalan remaja. Mulanya, saya menganggap remeh. Ini seperti sebuah tulisan umum bak tugas di jaman sekolah saya dulu. Namun, menulis kenakalan remaja ternyata tetap jadi kesulitan mengingat saya sudah lama lulus sekolah. Entah bagaimana dengan calon peserta lain yang usianya jauh di atas saya. Tentu tantangannya jadi lebih berat. Dengan tulisan yang saya buat sepenuh hati, saya pun mengisi formulir pendaftaran. Daaan, saya lulus seleksi. Oprec ODOP pun dimulai.


Para peserta, mentor, dan penanggung jawab dikumpulkan di satu grup wa bernama Aula. Selain grup Aula, grup untuk para peserta dibagi atas dua grup kecil, yakni Grup Buya Hamka dan Grup Dee Lestari. Di dalamnya terdapat satu penanggung jawab yang bertugas membantu mengatur kelancaran di masing-masing grup tersebut. Saya termasuk yang bergabung dalam Grup Buya Hamka.


Bagi saya yang sudah pernah mengikuti event serupa di komunitas lain, syarat utamanya tidaklah sulit. Hanya menulis setiap hari, dan posting di blog masing-masing. Jumlah katanyalah yang menjadi pembeda. Setiap pekan, minimum jumlah kata yang ditulis terus naik. Saya yang terbiasa menulis hanya sedikit-sedikit setiap hari, cukup merasa kelimpungan. Ditambah lagi, tulisan tantangan pekanan yang harus diselesaikan. Tantangannya cukup beragam, dan sejalur dengan kelas yang diikuti. Yap, kelas.


Oprec ODOP tak hanya meminta peserta untuk menulis. Melainkan juga membagi ilmu untuk menulis lebih baik dan beragam. Mulai dari menulis cernak, review buku, tulisan opini, hingga cerita bersambung. Sangat bermanfaat sekali.


Saya sangat menyesali kelalaian saya yang tidak menyimak sepenuhnya setiap materi yang ada. Tuntutan pekerjaan dan beban yang saya tanggung membuat saya tidak leluasa mengikuti jalannya Oprec ini. Meski begitu, saya tetap berusaha mengikuti langkah dasarnya. Menulis setiap hari. Tidak mulus. Beberapa kali saya harus berutang tulisan dan tertatih mencapai poin minimum yang ditetapkan untuk lolos eliminasi setiap minggunya. Di setiap hari Senin, saya akan mengucap syukur karena bukan saya yang tereliminasi.


Oprec ODOP terisi oleh orang-orang hebat lintas usia maupun profesi, dan disatukan oleh keinginan untuk belajar menulis. Mentor-mentor yang dihadirkan membawa hal spesial di setiap kelasnya.


Terima kasih untuk penyelenggara, yang menghadirkan event keren seperti ini. Terima kasih untuk penanggung jawab yang mengingatkan dan menyemangati setiap hari. Terima kasih pada teman-teman sesama peserta terutama di Grup Buya Hamka yang selalu membagi ilmu, tulisan berharga, dan komentar membangun.


Saya sangat bersyukur bisa mengikuti Oprec kali ini. Semoga lulus, dan saya bisa mengikuti kegiatan ODOP kedepannya dengan lebih baik lagi.


Sabtu, 17 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (4-Selesai)

Dalam kondisi yang sudah sangat sakit hati, aku pun menceritakan hal itu. Hal yang sudah lama aku pendam. “Yas, sebenernya, Yudi pernah minta nete ama gue. Gue nolak. Kayaknya, Yudi jadi makin kasar semenjak gue nolak itu.”


Mama dan Yasmin pun terlihat sangat terkejut. “Nete? Maksud lu, nyusu gitu? Ngempeng di payudara lu?” tanya Yasmin.


Aku mengangguk sambil menangis. Yasmin memelukku sambil gemetar dalam kemarahannya. Hingga kami menyadari ternyata Sam berada di depan pintu Yasmin. Ia mendengar semuanya.


Dia segera masuk dan bicara padaku. “Sar. Udahlah. Aku nggak tahan lagi lihat kamu diginiin sama keluarga kamu. Mending, sekarang, kamu pamit baik-baik sama Mpok. Kamu pisah rumah aja. Kamu ngontrak sendiri. Nanti aku bantuin. Ya?” bujuknya.


Aku gemetar membayangkan kemungkinan mesti berpisah dengan keluargaku. Aku menatap Mama. Mengharapkan tanggapannya.


“Mama nggak tahu, Sar. Bingung Mama. Yaudah, kamu coba aja. Cuma tinggal terpisah, bukan meninggalkan. Siapa tahu, setelah tinggal terpisah kepalanya Ani jadi lebih dingin dan bisa mikir jernih. Inget, izin baik-baik,” nasihat Mama.


Aku pun pulang. Demi menghindari kerusuhan, Sam tidak mengantarku ke rumah. Dia hanya menunggu di depan gang dekat rumahku. Di rumah, aku berbicara baik-baik pada Mpok Ani tentang niatku untuk mengontrak sendiri. Namun, bukan jawaban yang kuterima, aku justru menerima makian dari Mpok Ani. Dengan rasa kesal, aku pun membongkar kelakuan suaminya yang pernah meminta menyusu padaku dan kelakuan-kelakuan menjijikan lainnya. Ani terkejut sejenak. Yudi yang menyimak dan nyinyir sejak tadi, murka. Dengan kepalan tangannya , ia memukul kepalaku bertubi-tubi. Kakinya bahkan menginjakku. Tidak membelaku sama sekali, Ani kakak kandungku hanya menontonku yang sedang dianiaya.


Sam yang khawatir datang dan naik pitam saat melihat kondisiku. Sam mengambil batu bata dan memukulkan ke kepala Yudi hingga berdarah. Mpok Ani menjerit-jerit. Situasi di rumah pun menjadi kacau. Tetangga yang tertarik dengan keributan itu pun menahan Sam. Mereka memperlakukan Sam seperti penjahat. Sam diseret ke pelataran besar sebuah rumah yang masih keluarga Sam.


Saat itulah, aku baru tahu ternyata keluarga besar Sam adalah orang yang cukup terpandang. Kong Anwar, Engkongnya Sam marah melihat Sam diperlakukan buruk oleh orang-orang. Dengan wibawanya, Sam pun di sidang di depan orang banyak. Tidak ada yang membela kami. Semuanya menganggap perlakuan Mpok Ani sebagai kewajaran. Juga, tidak ada yang berani berkomentar terhadap kelakuan Yudi.


Bapakku yang datang, tidak menengahi justru mengompori masyarakat, “Penjarain aja, penjarain!”


Orang-orang pun mulai berceloteh dengan asal, “Udah nikahin aja. Biar nggak jadi keributan.”


Akhirnya, diusiaku yang masih 16 tahun, kami dipaksa menikah. Kami memang berencana menikah, tapi bukan tahun ini. Dengan pernikahan yang mendadak dan diminta secepatnya, keluarga Sam pun kalang kabut. Namun, akhirnya pernikahan itu pun terlaksana. Pernikahan yang terjadi karena tragedi.


Saat ini, kami sudah memiliki seorang putri. Masa laluku mungkin sangat buruk. Pernikahan kami juga terjadi karena tragedi. Namun, kasih sayang yang kami miliki murni adanya. Sam juga selalu berusaha menjadi suami yang baik. Aku, sebagai seseorang yang banyak merugikannya, berusaha menjadi istri yang baik. Kami juga berusaha menjadi orang tua yang baik untuk putri kami.


Bukan berarti tidak ada halangan. Justru halangan dari Mpok Ani tetap saja datang. Saat ini, dia sering menelpon meminta uang. Dia sudah menjadi janda, sejak Yudi menceraikannya dan menikah lagi. Aku yang sudah cukup lama mengetahui perselingkuhan Yudi, merasa bersyukur dengan perceraian mereka. Namun, Mpok Ani yang terbiasa mengandalkan uang dari Yudi, tidak bisa berkutik saat ditinggalkan begitu saja. Aku dan Sam pun jadi diteror dengan keluhan Mpok Ani. Aku yang kasihan dengan kedua keponakanku, juga adikku Alvin, berusaha membantu sebisaku.


Aku harap, apa yang terjadi padaku tidak terjadi pada orang lain. Kasih sayang bukanlah sesuatu yang harus dilarang. Yang salah dan harus dilarang adalah nafsu manusia, cinta buta yang menutup mata hati Mpok selama ini, dan caraku mencari kasih sayang yang menjadi sebuah kenakalan. Tidakkah jika kasih sayang itu dipupuk dengan baik, maka cahayanya akan melebar?


Aku mengecup kening putriku dan berucap, “Mama sayang kamu.”


_ Selesai

Jumat, 16 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (3)

Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum pernah kuceritakan pada Yasmin. Aku enggan menceritakannya. Sungguh, jika aku menceritakan ini, mungkin banyak hal buruk yang akan terjadi. Jadi, aku menutupnya rapat-rapat.


Waktu berlalu dan aku sudah berusaha mengambil hati Mpok. Aku bersikap baik di rumah, Sam juga sudah berusaha menunjukkan sikap baik setiap bertemu Mpok. Namun, Mpok selalu terang-terangan bersikap kasar dan mencemooh Sam. Aku kenal Sam. Dia sebenarnya bukan orang mudah menahan amarah. Demi aku, dia rela menerima semua perlakuan tidak enak dari Mpok. Mpok tetap berusaha memisahkanku dengan Sam, sampai menerima bujukan Yudi untuk menjodohkanku dengan temannya yang bernama Yadi.


“Mpok bukannya nggak suka sama Sam gara-gara dia supir truk? Yadi kan juga supir, Mpok!” erangku.


“Eh, Sar. Yadi itu supir kontener. Duitnya banyak. Lu cuma lulusan SMP, mesti nyari laki yang duitnya banyak!” tegas Mpok Ani.


Berkali-kali pun aku menolaknya, Mpok Ani dan suaminya tetap saja menjodohkan aku dengan Yadi. Yadi pun berusaha mengambil hatiku dengan beragam barang. Dia sampai memberikanku sebuah ponsel yang cukup bagus. Melihat barang-barang yang dibawa Yadi, Mpok Ani semakin gencar memaksaku. Padahal aku masih menjalin hubungan dengan Sam.


Aku semakin tidak suka berada di rumah. Kadang, aku berada di rumah Yasmin. Kadang, aku juga berada di rumah keluarga Sam. Berbaur bersama orang tua dan adik-adik Sam yang penuh kehangatan. Hingga hari itu pun tiba.


Aku sedang membantu ibunya Sam memasak di dapur, Mpok Ani datang ke rumah Sam sambil mengamuk. Memintaku untuk pulang. Sebenarnya, aku juga berniat langsung pulang karena rasa malu, tapi belum sempat keluar rumah, Yudi dan Yadi datang dengan motornya sambil membawa botol kaca yang sudah kosong. Mereka berdua berteriak dengan mengancam dengan kata-kata yang sangat kasar. Botol kaca itu sampai dipecahkan sambil menunjuk-nunjuk keluarga Sam.


Mungkin, inilah batas kesabaran Sam. Seseorang yang terbiasa dengan kerasnya jalanan, tidak bisa melihat keluarganya diperlakukan buruk. Sam mengambil parang dan kami semua ketakutan dibuatnya. Suasananya menjadi semakin kacau. Aku menangis, khawatir Sam berbuat nekat. Adik-adik Sam pun berusaha menahan Sam. Melihat Sam yang kalap dengan dengan parangnya, Yudi dan Yadi kabur begitu saja meninggalkan Mpok Ani. Beruntung, setelah kepergian Yudi dan Yadi, Sam pun mulai tenang. Segera, aku pulang agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk.


Setelah hari itu, keluarga Sam juga mulai membenciku. Mereka juga melarang Sam berhubungan denganku. Berkali-kali aku berusaha, keluarga Sam tetap enggan menerimaku. Sementara itu, perlakuan Mpok Ani dan Yudi semakin menjadi. Mereka mulai main fisik untuk menyiksaku. Bahkan Yudi, tidak segan menendang dan memukulku. Aku tidak takut. Aku justru semakin ingin pergi. Namun, kini aku tidak punya siapa pun lagi. Mpok lebih menyayangi suaminya dibanding aku. Alvin adikku bahkan dihasut untuk membenciku. Hampir setiap hari, aku hanya bisa menangis dan mengadu pada Yasmin sahabatku.


“Mama juga nggak bisa berbuat banyak, Sar. Bagaimanapun, Ani itu kakak kamu. Mama nggak punya hak buat membela kamu lebih dari ini. Mama bingung cara bantunya bagaimana. Mpok kamu juga nggak bisa dinasihati, dia udah dibikin buta mata hatinya karena si Yudi. Bapak kamu juga, nggak pernah memihak kamu karena takut nggak dikasih duit sama Yudi. Heran, semuanya tergila-gila sama duit. Padahal duitnya Yudi juga nggak seberapa,” sesal Mama.


“Ay, sebenarnya Sam masih sayang sama lu. Dia sering nanyain kabar lu ke gua. Cuma Sam belum bisa dateng, dia lagi berusaha ngeyakinin keluarganya dulu. Sumpah deh, gua kesel banget ama si Yudi itu. Udah tua kok nggak punya otak. Bisa-bisanya mukul cewek. Mpok lu juga bukannya belain lu,” omel Yasmin.


Dalam kondisi yang sudah sangat sakit hati, aku pun menceritakan hal itu. Hal yang sudah lama aku pendam. “Yas, sebenernya, Yudi pernah minta nete ama gue. Gue nolak. Kayaknya, Yudi jadi makin kasar semenjak gue nolak itu.”


Kamis, 15 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (2)

Aku lulus dengan nilai yang terbilang kurang. Tidak seperti Yasmin yang bisa bersekolah di SMA Negeri, tidak ada sekolah negeri yang mau menerimaku. Sementara Mpok Ani tidak mampu membiayaiku di sekolah swasta. Aku pun menerima takdirku untuk berpuas diri sebagai lulusan SMP. Aku bekerja di sebuah pabrik roti dan berusaha menabung. Hubunganku dengan Sam pun terjalin baik. Beberapa kali kami bertengkar karena sifatku yang kekanakan, tapi Yasmin selalu membantu menengahi kami. Hal yang tidak bisa kuatasi adalah, Mpok tidak merestui hubungan kami.


“Yang bener aje lu, Sar. Laki-laki modelan begitu lu pacarin. Mau jadi ape lu?” ucap Mpok.


“Sam baek, Mpok. Dia dewasa. Mpok liat dong, gimana dia sama keluarganya. Dia laki-laki yang bertanggung-jawab.”


“Elu mana tahu soal laki-laki yang baek!” oceh Mpok lagi.


Dengan kesal, aku pun membalasnya, “Terus yang baek itu modelan Yudi? Yang suka ngejablay?”


“Lu didiemin makin kurang ajar, ya!” Mpok mulai menimpukku dengan barang-barang terdekat yang ada di dekatnya. Aku pun memilih pergi dengan tangis tertahan. “Sono! Pergi lu ke rumah si Yasmin! Enak lu ye, ada yang lindungin!” Aku tidak menggubris ocehannya.


Aku memang ke rumah Yasmin. Rumah yang menerimaku dengan tangan terbuka. Kadang, aku juga memilih tidur di sini. Bahkan, tanpa kuminta, Mama yang kini kuanggap seperti ibuku sendiri, sering memasak makanan kesukaanku.


“Ma, masak apa?” tanyaku pada wanita yang suka tersenyum lebar itu.


“Ayam kecap. Kamu makan gih, ajak Yasmin. Dia belum makan, nunggu kamu katanya,” jawab Mama sambil mengisi buku teka-teki silang favoritnya.


“Yas, lu belum makan?” tanyaku pada Yasmin yang asik membaca novelnya. Tak mendengarku, dia pun tak menjawab. Inilah Yasmin. Dia tidak bisa mendengar apa pun kalau pikirannya sudah masuk ke buku. “Yas, woi, makan. Jangan baca melulu.” Aku melambaikan tanganku untuk mengganggunya.


“Eh, Ay. Udah dateng?” tanyanya setelah kembali fokus di dunia nyata.


“Makan, hayuk,” ajakku.


“Duh, belom kelar baca, nih, tinggal 200 halaman lagi,” rengeknya.


Aku menggeleng-geleng melihatnya. Apa serunya menghabiskan buku beratus-ratus halaman? “Lu bohong sama Mama, ya? Bilangnya nungguin gue, padahal emang lu ga pengen diganggu karena lagi baca, kan?” ejekku. Yasmin membalasku dengan cengiran khasnya. “Ya udah, gue makan duluan, ya,” ucapku.


“Ah, jangan. Hayuk bareng.” Yasmin segera bangkit. Aku pun tertawa melihatnya. Yasmin lebih suka makan sepiring berdua dibanding makan sendiri. Aku pun mulai menyukainya. Tidak peduli menambah beberapa kali karena masih lapar, makan bersama memang lebih menyenangkan.


Aku menyendok nasi dan lauk sementara Yasmin menunggu. Masih dengan bukunya yang ia baca sambil mencuri-curi waktu. Begitu piring dan dua sendok dihidangkan di hadapannya, ia segera menutup buku dan makan bersamaku.


“Lu berantem lagi sama Mpok Ani, ya?” tebak Yasmin asal-asalan.


“Iya. Gua kebawa emosi pas dia ngatain Sam. Dia bilang, ‘laki-laki modelan begitu’. Nyebelin banget,” curhatku.


“Padahal suaminya lebih parah, ya,” komentar Yasmin.


“Nah, itu! Gue nyindir suaminya terus dia jadi ngamuk. Gue tinggal pergi aja.”


Yasmin mengangkat sepotong ayam dengan tangan dan menggigitnya. “Lu, lagian. Mpok lu emosi, lu bales emosi. Kapan ademnya? Pelan-pelan, Ay. Kali aja ntar kebuka hatinya.”


“Iya, sih. Tahulah. Gue juga nggak paham. Kalo sama orang laen bisa sabar, kalo ama Mpok gue gampang ikutan emosi. Gue keselnya dia selalu belain suaminya dibanding gue, adeknya sendiri. Udah jelas lakinya yang salah, tetep aja gue yang diomelin,” celotehku.


Yasmin menatapku simpati. “Gua kalo jadi lu kesel juga, sih.”


Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum pernah kuceritakan pada Yasmin. Aku enggan menceritakannya. Sungguh, jika aku menceritakan ini, mungkin banyak hal buruk yang akan terjadi. Jadi, aku menutupnya rapat-rapat.

Rabu, 14 Juni 2023

Salah Kasih Sayang (1)

*kisah ini terinspirasi dari kisah nyata. Selamat membaca.


Mama pergi tepat saat aku sedang menjalani Ujian Kelulusan Sekolah Dasar. Ibu dari sahabatku datang dan mengabarkan Mama sedang berada di detik-detik terakhirnya. Jadi, aku meninggalkan sekolah dan pulang untuk menemani Mama.


Ada sakit hati yang sangat dalam, mengingat Mama sakit sekian lama karena menahan luka hati yang begitu besar. Bapak menikah lagi dan tidak terlalu mengurus kami secara finansial. Bukannya lepas tangan sama sekali, Bapak masih sering berkunjung tapi sekedar menanyakan kabar lalu pergi lagi. Namun, aku harus sedikit lega karena Mama kini tidak sakit lagi. Tinggallah aku, Mpok Ani, dan Adikku Alvin, harus terbiasa mandiri.


Lihat, itu Yasmin sahabatku yang selalu memanggilku dengan panggilan sayang ‘Ay’. Tubuh kurusnya memelukku, sementara air matanya membasahi bajuku. Sedekat apa pun hubungan kami, aku masih sering terkejut dengan melankolisnya. Ia menangis dengan ketulusan seakan ia juga merasakan kesedihan yang kualami. Padahal ia bukan keluargaku, tapi ia menangis seperti itu.


“Ay, yang tabah ya... Lu tahu, kan, gua bakal selalu ada buat lu,” hiburnya. Sebuah hiburan yang justru membuat air mataku mengalir lagi. Kepergian Mama jadi terasa begitu nyata.


Ibunya Yasmin kini gantian memelukku. “Di sini juga ada saya. Anggap saya seperti Mama sendiri ya. Almarhumah mama kamu juga dekat dengan saya selama ini. Jadi, jangan sungkan. Sekarang, kamu bisiki Mama, bilang kalau kamu sudah ikhlas. Bilang kamu akan jaga Alvin. Tapi, jangan sampai air mata kamu menetes ke badan Mama, kasihan.”


Aku menuruti nasihat Mamanya Yasmin. Sambil menahan tangis, aku membuka kain yang menutup wajah Mama dan berbisik, “Ma, Sarah ikhlas. Mama yang tenang, ya. Sarah bakal jaga Alvin bareng Mpok Ani. Mama jangan khawatir.”


Namun, setelah kepergian Mama, aku yang pemberontak ini tidak bisa menepati janji pada Mama. Hubunganku dengan Mpok Ani tidak begitu baik. Mpok Ani sering sekali marah-marah karena hal yang sepele menurutku dan aku menjadi tidak nyaman di rumah. Itu berlanjut hingga aku SMP. Aku tidak masuk ke sekolah yang sama dengan Yasmin, jadi aku mulai memiliki teman-teman baru di sekolah. Aku mulai jarang bermain dengan Yasmin, tetapi sesekali aku berkunjung ke rumahnya untuk curhat dan menghilangkan penat.


Di sekolah, aku melakukan banyak kenakalan remaja dengan teman satu geng. Hingga, kenakalan remajaku semakin parah. Aku terjerumus dalam seks bebas. Aku memanfaatkan tubuh dan wajahku yang seperti orang dewasa untuk mendapatkan kasih sayang dari laki-laki. Juga, demi mendapatkan uang dan barang-barang yang tidak akan bisa kumiliki jika meminta pada Mpok.


Beberapa kali berganti kekasih, aku tersadar saat kekasihku masuk penjara karena obat-obatan terlarang. Masa depan seperti apa yang bisa kumiliki jika mendapat pasangan hidup sepertinya? Aku pun memutuskan hubungan dan berusaha menjadi lebih baik. Aku semakin sering bersama Yasmin, dan Mama -panggilanku untuk Mamanya Yasmin- mulai menerimaku kembali setelah sebelumnya sangat kesal dengan kenakalanku.


Saat itulah, aku bertemu dengannya. Hubunganku dengan Sam dimulai dengan sederhana. Dia adalah saudara dari tetanggaku. Beberapa pertemuan membuat kami menjadi dekat dan kedewasaannya membuatku nyaman. Dia mengajariku hal-hal baik. Aku pun merasa, dia adalah orang yang bisa melindungiku.


Dia bukan orang yang berpendidikan. Dia juga bukan orang yang memiliki pekerjaan keren. Dia hanya supir truk, yang berjuang menafkahi orang tua dan kelima adiknya. Kami bersama hingga aku lulus SMP. Dengan perbedaan usia enam tahun, dia membantuku melewati masa-masa sulit.


Aku lulus dengan nilai yang terbilang kurang. Tidak seperti Yasmin yang bisa bersekolah di SMA Negeri, tidak ada sekolah negeri yang mau menerimaku. Sementara Mpok Ani tidak mampu membiayaiku di sekolah swasta. Aku pun menerima takdirku untuk berpuas diri sebagai lulusan SMP. Aku bekerja di sebuah pabrik roti dan berusaha menabung. Hubunganku dengan Sam pun terjalin baik. Beberapa kali kami bertengkar karena sifatku yang kekanakan, tapi Yasmin selalu membantu menengahi kami. Hal yang tidak bisa kuatasi adalah, Mpok tidak merestui hubungan kami.

Selasa, 13 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing (6 - Selesai)

 “Memangnya putri dalam dongeng apa yang ada dalam bayanganmu? Dia hanya ingin menikah dengan kau, pangerannya, dengan nuansa terbuka dan konsep alamiah.”


Dafi menatap Milo dengan mulut ternganga. Selama ini Dafi pikir Risa ingin pernikahan mewah seperti pernikahan Cinderella. Astaga. Kenapa jadi melenceng jauh seperti ini?


“Aku harus segera mencari cara untuk pulang dan menemui Risa,” gumam Dafi.


“Mudah saja. Nenek tadi bisa membantu kita,” ucap Milo.


“Membantu bagaimana? Beneran membantu? Kalau ternyata dia jahat bagaimana?”


Milo menggeleng. “Aku tidak tahu caranya, tapi nenek tadi bilang bisa membantu. Ayo,” ajak Milo sambil melangkah lebih dulu. Melihat Dafi masih terpaku, Milo menggigit celana Dafi dan berusaha menariknya. “Ayo, walau seram nenek itu tidak jahat, kok. Kau harus percaya pada naluri seekor kucing.”


Dengan terpaksa, Dafi pun kembali ke gubuk itu. Di depan gubuk, nenek itu sudah menunggu dengan tidak sabar.


“Kenapa lama sekali? Memangnya kalian tidak ingin pulang?” tanya nenek itu dengan kesal.


“Mau, Nek. Mau. Tolong bawa kami pulang,” ucap Dafi.


“Sini masuk.” Dafi dan Milo di bawa ke dalam dan diminta duduk lesehan di bawah. Sementara itu, si nenek membuat sesuatu di kualinya. “Maaf ya, sepertinya kau tidak sengaja masuk lewat portal yang kubuka. Tadinya aku hanya ingin memanggil gagakku yang lupa pulang, eh, kalian malah masuk. Yah, bukan salahku juga sih. Kalian yang sembarangan masuk. Kalian ini harus hati-hati. Kalau pergi ke mana pun, baca doa. Untung saja aku yang membuat portalnya. Kalian bisa saja terdampar di gua milik siluman yang jahat.” Nenek itu mengaduk sambil terus mengoceh.


Tak butuh waktu lama, nenek itu pun memberi mereka sebuah minuman berwarna hijau pucat yang aneh. Dafi mendapat segelas, sementara Milo mendapat semangkuk kecil. “Tidak perlu dihabiskan. Seteguk saja sudah cukup untuk membawa kalian pulang. Namun, sebelum kau meminumnya, aku peringatkan kau.” Nenek itu menatap tajam pada Dafi. “Kalau kau bersikap kasar pada kucing, aku akan menghantuimu dalam mimpi. Bumi itu bukan milikmu sendiri. Jangan angkuh.”


Dafi bergidik sementara Milo tertawa geli. “Dafi tidak jahat, kok, Nek. Yah, walau aku tidak tahu setelah ini dia masih mau mengajakku bermain atau tidak,” celoteh Milo.


“Aku mau. Mari kita bermain lagi setelah ini,” jawab Dafi. “Kau kan menyayangi Risa. Risa juga menyayangimu. Kurasa itu sudah cukup menjadi alasan untukku belajar menyayangimu juga.”


“Bagus. Sekarang cepatlah pulang,” ucap nenek itu dengan nada mengusir.


Milo menjulurkan lidahnya ke mangkuk, sementara Dafi memejamkan mata sebelum meneguk isi cangkirnya. Karena tidak ada rasanya, Dafi pun membuka mata. Risa menatapnya dengan wajah menahan tawa. “Kalian habis main apa, sih. Sampai ketiduran begitu,” ucap Risa.


Dafi mengamati sekitarnya. Rupanya ia tertidur di sofa. Milo yang berada di perutnya, bangun lebih dulu dan menjilat wajah Dafi. Herannya, perasaan tidak suka pada Milo lenyap begitu saja. “Aku bermimpi aneh,” ucap Dafi sambil duduk. Milo turun dari perutnya dan menghampiri Risa. Kucing itu mengolet manja di dekat kaki Risa.


“Sepertinya mimpinya sangat aneh sampai kamu bisa tertidur nyenyak dengan Milo. Aku belum pernah melihat kalian begitu dekat.” Risa lagi-lagi tertawa.


Melihat Risa tertawa, Dafi jadi teringat ucapan Milo dalam mimpinya,”Risa, apa kau setuju jika aku mempercepat tanggal pernikahan kita?”


Risa kini menatapnya dengan tatapan bahagia. “Tentu saja. Aku sebenarnya sangat menantikan itu, kau tahu?”


Dafi bangun dan memeluk Risa. “Maaf, ya, aku kurang peka,”


Risa menyambut pelukannya. Beberapa menit, Dafi menikmati momen ini, hingga Dafi merasakan Risa mendorongnya. “Dafi, plakatku kenapa?” Risa bangun dan melihat plakat yang berserakan di atas meja. Salah satu plakat itu memiliki retakan yang besar.


Dengan panik, Dafi langsung menoleh mencari Milo. Di depan pintu kamar Risa, Dafi melihat Milo menjulurkan lidahnya.

Senin, 12 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing (5)

 Dafi menutup pintu dan memilih jongkok di dalam. Dafi berpikir, apa yang membuat ia bisa terdampar di sini. Tadi, setelah lantai 10, harusnya ia sampai di atap, kan? Dipikir seperti apapun, ini tidak masuk akal.


“Apa yang kau lakukan di rumahku?” sebuah suara yang sangat mengerikan terdengar. Dafi mendongak dan melihat seorang nenek-nenek yang jelek menghampirinya.


“Huwa!” Melihat nenek-nenek itu membawa pisau besar, Dafi berteriak dan berlari keluar gubuk. Ia terus berlari sampai mendengar sebuah suara memanggilnya. Dafi pun berhenti dan mengambil napas. Ia berusaha mendengarkan.


“Tunggu. Dafi, tunggu.” Suara itu terdengar lagi. Dafi menoleh ke arah suara dan tidak melihat siapa pun kecuali Milo yang berlari menghampirinya. “Wah, kau kejam sekali meninggalkanku bersama nenek seram itu,” ucap Milo.


“Huwa!” Saking terkejutnya, Dafi pun jatuh terduduk.


“Ck! Kenapa lagi manusia ini?” Milo ikut duduk dan menjilati bulu di ekornya.


“Kau... Kau bisa bicara!” seru Dafi.


Kali ini, gantian Milo yang terkejut. “Eh, kau bisa mengerti yang kukatakan?” Dafi mengangguk cepat beberapa kali.


 “Benarkah? Sekarang, masih kedengaran? Hei, Dafi. Halo, Dafi. Dafi jelek. Apa kau mengerti yang kukatakan?”


“Tentu saja. Berhenti menyebut namaku. Lagipula, yang jelek itu kau, bukan aku.” Dafi merasa, rasa takutnya sudah berkurang. Sekarang sisa rasa heran yang ada di hatinya.


“Wah, keren. Aku sudah sangat lama ingin bisa bicara denganmu.” Milo berlari mengelilingi Dafi dengan rasa senang.


“Ini tidak keren. Ini cenderung... mengerikan,” timpal Dafi.


“Mengerikan apanya? Hei, Dafi. Kau tidak tahu, ya? Aku menyukaimu, tahu!” cerocos Milo.


“Huh. Kau kan hanya menyukai Risa. Kerjamu hanya menggangguku selama ini,” Dafi tidak percaya sekarang ia sedang berbincang dengan seekor kucing.


“Mengganggu? Hei, jangan membuatku tersinggung. Kan, kau yang mengajakku bermain.” Milo kini menatapnya dengan kesal.


“Memang itu kenyataannya,” jawab Dafi. “Apalagi tadi. Kau pendatang baru pasti tidak tahu betapa berharganya plakat-plakat itu bagi Risa. Dengan bodohnya, kau merusak plakat itu.”


“Eh? Benarkah? Aku tidak berniat menjatuhkannya tadi. Karena kau memasang wajah lucu dari bawah, kupikir kau ingin main lempar tangkap.” Milo memberinya penjelasan. Namun, Dafi mengacuhkannya. “Baiklah, maaf. Kurasa hanya aku yang kegirangan sendiri. Risa tidak pernah mengajakku bermain, jadi aku senang sekali bermain denganmu. Risa lebih sering menangis.”


Dafi kini tertarik. “Risa sering menangis?” Dafi jarang sekali melihat Risa menangis. Wanita itu lebih sering menunjukkan wajah penuh semangat.


“Iya. Sejak pertama Risa membawaku ke rumahnya, aku langsung jatuh cinta padanya.”


“Ja... Jatuh cinta?” Dafi tercekat.


“Bukan seperti cintamu padanya. Ah, kau tidak akan tahu perasaan seekor kucing.” Milo menggeleng cepat. “Intinya, karena aku mencintainya, aku ingin membahagiakannya. Namun, ia tetap saja sering menangis.”


“Em, kau tahu penyebab ia sering menangis?” tanya Dafi penasaran.


“Tentu saja. Aku kan teman curhatnya. Beberapa karena tekanan deadline dan penulis yang sulit bekerja sama, tetapi yang paling sering adalah karena kau.”


Dafi terkejut. “Aku?” Dafi berusaha mengingat, kesalahan apa yang ia lakukan sampai membuat Risa menangis. Tidak ada. Selama ini, kan, Dafi sangat berusaha menjaga perasaan tunangannya itu.


“Ck ck ck... Inilah yang terjadi kalau berhubungan dengan pria tidak peka dan tertutup sepertimu.” Milo menggelengkan kepalanya dengan prihatin. “Risa sedih karena kau terus mengundur tanggal pernikahan kalian.”


“He? Kukira Risa senang-senang saja. Aku hanya ingin mengabulkan harapannya agar bisa menikah dengan tema seperti putri dalam dongeng.”


“Memangnya putri dalam dongeng apa yang ada dalam bayanganmu? Dia hanya ingin menikah dengan kau, pangerannya, dengan nuansa terbuka dan konsep alamiah.”


Dafi menatap Milo dengan mulut ternganga. Selama ini Dafi pikir Risa ingin pernikahan mewah seperti pernikahan Cinderella. Astaga. Kenapa jadi melenceng jauh seperti ini?


“Aku harus segera mencari cara untuk pulang dan menemui Risa,” gumam Dafi.

“Mudah saja. Nenek tadi bisa membantu kita,” ucap Milo.


“Membantu bagaimana? Beneran membantu? Kalau ternyata dia jahat bagaimana?”


Milo menggeleng. “Aku tidak tahu caranya, tapi nenek tadi bilang bisa membantu. Ayo,” ajak Milo sambil melangkah lebih dulu. Melihat Dafi masih terpaku, Milo menggigit celana Dafi dan berusaha menariknya. “Ayo, walau seram nenek itu tidak jahat, kok. Kau harus percaya pada naluri seekor kucing.”

Minggu, 11 Juni 2023

Review Buku : The Society of S

Judul Buku : The Society of S

Penulis : Susan Hubbard

Alih Bahasa : Vita Yuliani K

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit : 2009

Jumlah halaman : 392 halaman


"Kalau kau ingin bersembunyi dari dunia, tinggallah di kota kecil, di mana semua orang sepertinya anonim."

Demikian nasihat dari Ariella Montero, remaja dua belas tahun yang tinggal dengan ayahnya di Saratoga Springs, New York,

di rumah yang lebih banyak dihantui rahasia daripada kenangan. The Society of S melacak perjalanan Ariella ke Asheville dari Savannah, hingga ke Florida, saat ia tahu bahwa semua yang ia ketahui tentang keluarganya adalah dusta.

Ketika menemukan ibunya, ia baru tahu yang sebenarnya: Ariella adalah anggota baru Masyarakat S.

S adalah singkatan dari Sanguinis: sekte pencinta lingkungan yang memusatkan perhatian mereka pada masalah etika dan hak asasi manusia-meskipun secara kebetulan mereka juga vampir. S juga kependekan dari Sinestesia: kemampuan melihat kata-kata dan huruf dalam warna-warni. Huruf S adalah keberuntungan bagi Sara, ibu Ariella, yang tertarik pada kota-kota seperti Savannah dan Sarasota. Tapi apakah itu juga akan menjadi huruf keberuntungan bagi Ariella?



Ariella baru menyadari berapa kontras kehidupannya setelah melihat bagaimana kehidupan keluarga temannya, Kathleen. Ariella yang hanya mengikuti kelas di rumah bersama Dennis dan ayahnya, rumah Ariella yang berisi buku-buku -sangat banyak buku-, keluarga mereka yang tidak menonton televisi, dan hidup keluarga mereka yang terasa terlalu tertata, menjadi sebagian buktinya. Kehidupannya menjadi semakin terlihat berbeda setelah Ariella menonton film vampir pertamanya.


Dalam sudut pandang orang ketiga, penulis mengajak pembaca menyelami pemikiran seorang anak remaja yang sedang beranjak dewasa. Bukan sembarang remaja, melainkan seorang remaja yang telah dididik oleh ayahnya menjadi remaja dengan pemikiran logis dan kritis. Bukan berarti Ari -panggilan akrab Ariella- menjadi gadis lugu, jiwa remaja yang beranjak dewasa ini juga terus memberinya banyak pengalaman baru. Hal-hal yang terus membuat Ayah Ari menatap khawatir. Sekhawatir Ari yang tak bisa melihat sosok ayahnya dalam foto yang dicetak Kathleen.


Pertanyaan demi pertanyaan menekannya dan Edgar Allan Poe menjawabnya sedikit demi sedikit. Hanya sedikit. Meski begitu, Edgar Allan Poe justru memberi lebih banyak tanda tanya tentang ibunya. Pertanyaan itu semakin menggunung saat Kathleen mati dengan malangnya. Setelahnya, butuh tiga bab untuk Ayah Ari menyelesaikan cerita tentang dia dan Sara Stephenson, Ibu Ari.


Bab Sepuluh, Ari memulai pembangkangan pertamanya. Dipandu oleh huruf favorit ibunya -huruf s-, Ari mencari keberadaan Sara Stephenson. Kali ini, fakta demi fakta menjadi semakin jelas. Ibunya semakin dekat, sedekat orang yang membuat keluarga Ari menjadi tercerai-berai seperti ini.


Saya menyukai buku ini. Alasan utamanya, karena buku ini berisi tentang pecinta buku. Saya menyukai saat-saat Ariella membahas buku dengan ayahnya. Meski begitu, buku ini butuh konsentrasi yang tinggi saat membacanya, dan dalam beberapa bagian perjalanannya terasa terlalu beruntung.


Bagaimanapun, kisah perjalanan Ari layak untuk dibaca. Fakta unik lain yang saya temukan saat membuat review buku ini adalah, "ternyata belum banyak pembaca Indonesia yang membuat ulasan tentang buku ini."


Tentang Penulis :

Susan Hubbard adalah seorang penulis fiksi Amerika dan profesor emerita di University of Central Florida. Dia telah menulis tujuh buku fiksi, dan merupakan pemenang Associated Writing Program Prize for Short Fiction dan Janet Heidinger Kafka Priz untuk buku prosa terbaik tahun ini oleh seorang wanita Amerika.

Review Buku : Perjuangan Menghargai Hidup

Judul buku : Perjuangan Menghargai Hidup : Tiyas Si Anak Jalanan

Penulis : Tiyas Nurhayati

Penerbit : Jejak Publisher

Editor : Resa Awahita

Desain & Penata Letak : Hamdi Alfansuri

Jumlah Halaman : 120 halaman

Dimensi : 14 x 20 cm

ISBN : 978-623-338-829-0

E-ISBN : 978-623-338-830-6


"Banyak orang berkata ingin kembali ke masa kecil mereka. Masa yang erat dengan permen, kepolosan, dan pelukan kasih sayang seorang ibu. Meski begitu, tidak semua anak merasakan kehidupan yang melulu indah di masa kecil mereka. Seperti kisah nyata yang dialami seorang anak dalam buku ini contohnya.


Selami kehidupan seorang anak yang dibesarkan di jalanan ini. Rasakan bisingnya terminal dan makian yang mendewasakannya. Kehidupan seorang penjual koran, pemulung, kondektur metromini, dan pengamen, mungkin bisa menjadi suatu hal yang akan kau kagumi setelah ini."


Buku ini merupakan memoar yang sederhana dan jujur. Terlihat dari blurb yang seperti sudah membongkar isi bukunya. Isi tulisannya pun ditulis dengan bahasa sederhana.


Penulisnya adalah wanita yang baru saja dewasa. Usianya 25 tahun saat menulis ini. Di dalam prakata, penulis berkata, "Buku ini penulis dedikasikan untuk menghormati diri sendiri. Seperti janji penulis pada diri sendiri, dengan selesainya buku ini, penulis sudah melepaskan sebuah balon udara yang sangat besar dan semua luka pergi bersamanya. Ketika penulis membuka kembali hasil tulisan ini, penulis akan tersenyum karena tulisan inilah bukti bangkit yang nyata."


Secara garis besar, buku ini berisi tentang kisah hidup seorang anak bernama Tiyas sejak ia berumur 5 tahun hingga lulus kuliah. Penulis mengisahkan beberapa hal unik yang mungkin tidak lazim dialami oleh anak-anak seumurannya. Bahkan, oleh orang dewasa sekalipun.


Tentang dunia kanak-kanaknya yang terjun ke jalanan ibu kota demi beberapa recehan. Tentang kenakalan dan kontranya dengan sang ibu. Tentang beragam rasa yang pernah ditelannya sendirian. Tentang rapuhnya yang membuatnya tidak layak hidup. Hingga kuatnya tekad untuk bertahan dan menghargai kehidupannya saat ini.


Tak hanya menyuguhkan kisah, buku ini diselingi dengan kutipan yang menyentuh hati. Juga ada surat yang relevan dengan siapapun yang sedang berjuang menjalani kehidupan.


Kutipan di halaman 94

"Tersadar, aku melupakan hal penting.


“Hidup adalah tentang menjalaninya sebaik mungkin.”


Aku terlalu memetakan syaratku untuk sukses dan bahagia. Padahal, saat aku bisa menjalani hidupku dengan usaha terbaik yang bisa kulakukan, itulah kesuksesanku. Itulah kebahagiaanku."


Penggalan "Surat Cinta Untuk Aku" di halaman 93 :


Duhai, Aku. Kau yang cengeng, manja, dan mudah mengeluh, selalu ingat tujuan hidupmu saat ini, ya. Kau bilang ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi sesamamu. Kau bilang ingin membuat keberadaanmu membawa perubahan baik bagi orang yang sayangi. Kau bisa. Pasti. Jangan menyerah dan meninggalkan hal yang akan kau sesali di penghujung usiamu.


Buku ini direkomendasikan sebagai salah satu bacaan wajib bagi penikmat buku, yang saat ini sedang merasa tidak baik-baik saja. Baca buku ini dan sadarilah dengan nyata bahwa kita tidak sendirian. Sadarilah dengan nyata, bahwa rasa syukur tidak harus datang dalam kondisi yang sempurna. Sadarilah dengan nyata bahwa diri yang sekuat ini juga hal harus disyukuri.

 

Buku ini ditulis dengan tujuan yang baik. Gaya penulisan yang sederhana dan seakan penulis sedang bercerita dari dekat, bisa membuat pembaca merasa nyaman. Meski begitu, sangat disayangkan buku solo pertama dari Tiyas Nurhayati ini masih memiliki kesalahan penulisan di sana sini.


Tentang Penulis :

Nurhayati Kurnianing Tiyas dengan nama pena Tiyas Nurhayati adalah perempuan kelahiran 1997 yang menyukai sastra sejak kecil. Mendalami sastra di SMAN 110 Jakarta dan berkuliah ekonomi di Universitas Gunadarma. Bertahun-tahun menggeluti teori ekonomi tidak menghapus rasa cinta pada sastra. Kini, setelah menyelesaikan sarjana, Tiyas bertekad untuk mewujudkan cita-cita masa kecilnya. Menjadi penulis. Tiyas bisa dihubungi melalui email tiyasnurhayati09@gmail.com atau Instagram @tiyasnurhayati09

Jumat, 09 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing (4)

 Marah besar, Dafi berusaha memukul Milo dengan sapu ijuk, tetapi yang ia dapat hanya rasa lelah karena Milo terlalu gesit. Sebuah ide jahat pun terbesit di kepalanya. Dafi membuka pintu apartemen dan mengganjalnya. Membiarkan pintu itu terbuka, Dafi lalu merebahkan diri di sofa. Rencananya berhasil. Milo yang penasaran, turun dan melihat keluar. Saat Milo di luar, Dafi segera menutup pintu apartemennya. Dafi tertawa dalam hati.


Hanya butuh satu menit untuk membuat Dafi tersadar. Risa bisa kecewa padanya jika Milo sampai hilang. Jadi, ia segera membuka pintu dan menyesal. Milo sudah tidak ada. Dafi menyusuri lorong dan mencari Milo. Tidak ada celah untuk bersembunyi di sini. Harusnya Milo bisa dengan mudah ditemukan. Ya, perkiraan Dafi tepat. Milo terlihat berjalan di depan pintu tangga darurat yang terbuka. Terbuka! Astaga, siapa sih yang membiarkan pintu tangga darurat terbuka? Dafi menggerutu.


“Milo, Milo, ke mari. Ayo pulang, nanti Risa mencarimu,” panggil Dafi lembut.


Kucing itu tidak tertarik pada Dafi sama sekali. Dafi tidak berani menangkapnya dengan tangan kosong. Jadi, Dafi membuka jaketnya, berharap itu cukup untuk menjadi alat penangkap kucing. Dafi berlari hendak mendahului Milo dan menggiringnya ke arah unit Risa, tetapi melihat Dafi berlari, Milo justru ikut berlari lebih kencang. Ia masuk ke tangga darurat dan naik ke atas.


Aksi kejar-kejaran antara Dafi dan Milo pun berlangsung. Pintu di tiap lantai tertutup. Lantai 8, lantai 9, lantai 10, satu lantai lagi memiliki pintu yang terbuka. Saat Milo keluar, hap! Dafi berhasil menangkap Milo. Dafi berniat kembali karena ia tidak tahan menggendong Milo terlalu lama. Namun, baru saja membalikkan badan, pintu itu tertutup. Dafi berusaha membuka tetapi terkunci rapat. Dafi berbalik lagi hendak mencari jalan lain, namun pemandangan di depannya membuat Dafi tercengang.


Dafi berada dalam sebuah gubuk yang sangat jelek. Dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu, atapnya terlihat akan rubuh, dan yang paling jelek dari semua itu adalah perabotannya. Perabotannya terlihat lusuh. Di tengah ruangan ada kuali besar yang sangat jelek. Dafi berbalik lagi, mencoba membuka pintu itu lagi. Berhasil. Belum sempat merasa lega, pintu yang harusnya terhubung ke tangga darurat kini menjadi hutan belantara.


“Hahaha...,” tawa Dafi frustrasi. Ia menutup pintu dan membukanya lagi. Menutupnya lagi lalu membuka lagi. Berkali-kali dilakukan, tetap saja pemandangan itu tetap sama. Ia berada dalam gubuk reot yang berada di tengah hutan. “Hahaha...,” Dafi tertawa lagi, “parah, sih, bercandanya,”

Dafi dan Seekor Kucing (3)

 "Jaga Milo? Memang kamu mau ke mana?” tanya Dafi bingung.


“Aku mau bertemu dengan seorang penulis sebentar,” jawab Risa sambil memakai sepatunya.


Sedikit sedih karena akan ditinggal, Dafi berusaha melarang, “Memang harus hari ini? Kamu, kan, sedang tidak terlalu sehat, Risa.” Dafi menempelkan tangannya ke kening Risa. Memeriksa suhu tubuhnya. Sudah tidak sepanas hari sebelumnya.


“Aku sudah membaik. Lagi pula, lokasinya dekat. Kamu tahu Hazel’s Cafe di Jalan Deli, kan? Kami akan bertemu di sana. Hanya sebentar, aku janji.” Risa mengecup pipi Dafi kemudian menuju pintu. “Oh, jangan lupa isi mangkuk susunya Milo, ya,” pesan Risa tepat sebelum ia menutup pintu.


Dafi menghela napas dan meletakkan cokelat yang ia beli ke atas meja. Lagi-lagi, Dafi harus berduaan dengan kucing itu. Ogah-ogahan, Dafi mengambil susu dari kulkas dan menuangnya ke mangkuk Milo.


“Tuan Milo, susunya sudah siap...,” ucap Dafi meledek. Dafi menoleh ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak melihat kehadiran Milo. Suara gemerusuk dari suatu tempat terdengar mencurigakan. Dafi pun mencari asal suaranya.


Jantung Dafi berdebar cepat saat melihat kucing itu berdiri di atas lemari, tepat di tempat plakat-plakat kesayangan Risa berada. “Hus! Hus! Milo, turun! Nanti plakatnya jatuh!” teriak Dafi. Bukannya turun, kucing itu malah melenggak lenggok memamerkan kelihaiannya berjalan di antara plakat itu. Ekornya bergoyang dan mengelus plakat itu satu persatu.


Dafi benar-benar khawatir. Kalau jatuh, plakat-plakat itu akan pecah berantakan dan mungkin tidak akan bisa diperbaiki. Mengambil sapu, Dafi mencoba menakuti Milo. “Hus! Hus! Turun!” perintah Dafi sambil mengayunkan sapunya.


Melihat Dafi membawa sapu, Milo duduk terdiam di antara plakat. “Bagus. Kucing pintar, ayo turun.” Dafi tidak percaya ia sekarang sedang bersikap manis di depan seekor kucing. Namun, bayangan Risa yang sedih karena plakatnya rusak membuat Dafi frustrasi.


Saat melihat Milo bangun, Dafi kira Milo akan turun. Di luar dugaan, kucing itu malah dengan sengaja mendorong plakat itu dengan tangannya. Ya, tangannya! Atau kaki depannya bisa dibilang. Plakat itu bergeser hingga ke pinggir lemari. Dafi segera melepas sapunya dan bersiap menangkap. “Milo, please, jangan,” bujuk Dafi. Dengan cengiran menyebalkan, kucing itu mendorong sekali lagi. Nice catch, plakat itu selamat di tangan Dafi. Dafi segera meletakkan plakat itu di atas meja.


“Kucing sialan!” maki Dafi. Milo menggoyangkan ekornya dengan rasa senang. “No, jangan lagi. Milo jangan!” tangan Dafi berkejaran menangkap plakat yang satu persatu dijatuhkan Milo. Satu plakat tertangkap saat masih ada satu plakat di tangannya. Dua plakat itu bertubrukan di tangannya hingga membuat retakan yang cukup besar.

Kamis, 08 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing (2)

 "Ya ampun, lucunya...," ucap Risa sambil menggendong kucing kurus dengan tatapan tidak sopan itu.


"Jelek gitu, Sa. Kurus. Bulunya lepek," sambar Dafi.


Risa tersenyum cerah sambil mengangkat kucing itu lebih tinggi. Dafi berusaha menjaga raut wajah sementara ia menata detak jantungnya yang semakin keras. Dalam hati, Dafi ketakutan setengah mati. Takut kucing itu tiba-tiba lompat dan menubruk wajahnya. "Mau taruhan?" tanya Risa.


"Maksudnya?" Dafi bertanya balik.


"Kalau kucing ini jadi lebih cantik bulan depan, kamu harus memberiku sebatang cokelat yang besar." Risa menggendong kucing itu di bahunya dan berjalan pulang. Dafi merasa khawatir saat melihat kucing itu berpegangan dan mencengkram baju Risa. Pasti sakit, kan? Namun, Dafi tidak cukup mental untuk menggantikan Risa. Risa sendiri terlihat senang-senang saja.


"Maksudnya, kucingnya mau kamu pelihara?" Dalam hati, Dafi berharap Risa menjawab tidak.


Alih- alih menggeleng seperti yang Dafi harapkan, Risa malah menoleh dan memberinya pandangan berbinar. "Aku akan memberinya nama Milo."


Begitu saja, kucing jantan berwarna putih pucat dengan corak kecokelatan yang aneh terutama di ujung-ujung telinganya itu, menguasai Risa beserta seluruh apartemennya. Seperti kata Risa, penampilan kucing itu membaik. Tubuhnya kini gemuk dan bulunya semakin cerah walau warna putih pucat yang mengganggu itu ternyata memang dari sananya. Namun, seperti apa pun monster diberi tuksedo, tetap saja seekor monster.


Kucing itu sangat licik. Setiap Dafi mengobrol dengan Risa, si Milo itu selalu mengganggu dengan beragam cara. Di depan Risa dia berpura-pura bersikap baik, tapi saat Risa tidak ada nakalnya tidak karuan. Kembali ke masa kini, Dafi menatap ujung sepatunya yang rusak karena dibuat mainan oleh hewan penggigit itu. Menghela napas kesal, Dafi membuang mangkuk es krimnya yang telah habis dan kembali melangkah.


Langkah kaki Dafi memasuki sebuah halaman apartemen. Salah satu unit di apartemen yang memiliki sepuluh lantai itu adalah tempat tinggal Risa. Pekerjaan Risa sebagai seorang editor di sebuah penerbitan terbilang cukup sibuk. Seringkali Risa lupa makan hingga jatuh sakit. Seperti hari ini. Herannya, Risa tidak pernah lupa memberi makan Milo.


Di depan unit B701 Dafi menekan interkom dan memanggil, "Risa, ini Dafi. Aku masuk, ya." Dafi menekan sandi pintu yang berupa hari ulang tahun Dafi. Dafi tidak meminta Risa mengatur sandi dengan hari ulang tahunnya. Risa sendiri yang mau. Yah, Dafi mengakui, ini lumayan mengharukan.


Pintu terbuka, terlihat terduduk di meja kerjanya sambil memasukkan notes dan pulpen. "Dafi, pas sekali," ujar Risa, "tolong jaga Milo sebentar, ya."

Rabu, 07 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing

Kucing itu duduk di tengah trotoar. Menghalangi jalur pejalan kaki yang akan Dafi lewati. Bersikap seolah menjadi pemilik jalan, kucing itu sibuk menjilati bulu-bulunya. Dengan rasa kesal, Dafi turun dari trotoar dan memilih berjalan di jalan raya dibanding harus berdekatan dengan kucing itu.


"Ma, lihat! Omnya takut kucing," ujar seorang anak kecil kepada ibunya. Dari depan, Dafi bisa mendengar ibu anak itu tertawa geli di belakangnya.


Bukan takut, tahu! Aku benci, gerutu Dafi dalam hati.


Dafi memang benci kucing. Benci sekali! Ia tidak mengerti mengapa banyak pecinta kucing di bumi ini. Hewan itu hanya bisa tidur, memamerkan perut, mengibas ekor, menempelkan tubuhnya di kaki, mencuri ikan dan merusak perabotan. Apa bagusnya? Sungguh, Dafi tidak mengerti.


Waktu kecil kepolosan Dafi pernah dinodai oleh kucing. Bagaimana tidak? Melihat kucing yang tertidur pulas, Dafi kecil hanya mengelusnya sekali. Hanya sekali. Lalu, ia berakhir di ruang UGD karena gigitan kucing itu mengenai pembuluh darahnya. Dafi masih ingat betapa terkejutnya ia menyadari bahwa hewan yang terlihat lemah itu adalah pembunuh berdarah dingin.


Bagi Dafi semua semua kucing sama saja. Kucing kampung, kucing luar negeri, kucing luar angkasa, semuanya sama saja. Semuanya sama-sama menjengkelkan. Namun, Dafi lebih baik dihadapan dengan semua kucing di dunia, dibanding bertemu kucing itu. Kucing paling menyeramkan yang pernah Dafi temui. Ya, kucing yang dipelihara oleh Risa, tunangannya.


Entah, kesalahan apa yang pernah Dafi buat di kehidupan sebelumnya, hingga harus mencintai seorang pecinta kucing. Sebenarnya, Dafi tahu ini adalah harga yang harus ia bayar jika ingin memiliki seseorang yang penyayang seperti Risa. Namun, setidaknya dulu Risa tidak memelihara kucing!


Dafi masuk ke sebuah minimarket, lalu membeli sebatang cokelat besar untuk Risa dan semangkuk es krim untuk dirinya sendiri. Memanfaatkan sebuah kursi kosong di depan minimarket, Dafi menyantap es krimnya sambil membayangkan hari itu. Hari saat Risa membawa kucing itu pulang ke apartemennya.

Selasa, 06 Juni 2023

Suara Indah

 Telinga tidak bisa menyortir suara yang masuk. Saat suara itu datang, telingamu akan mendengarkan secara otomatis. Saat ada musisi jalanan bernyanyi, kau tidak bisa memilih mode senyap untuk suara kendaraan di belakangnya.


Suara memengaruhi tindakanmu. Saat ada seseorang yang menyebut namamu, otomatis kau akan berbalik. Terutama suara yang kau sukai. Suara kucing kesayanganmu, tawa anakmu di halaman belakang rumah, atau nyanyian ibu di kamar tidurmu.


Walau kau tidak bisa memilih suara apa yang harus didengar, kau masih bisa menyortir tindakan apa yang harus kau lakukan setelah mendengarnya.


Tak ada manusia yang ingin hidup dalam penyesalan tetapi pepatah yang berbunyi penyesalan selalu datang terlambat sering kali menjadi kenyataan. Salah satu penyebabnya adalah tindakan setelah mendengar sesuatu. Pilihan-pilihan yang ada setelah mendengar suara adalah pilihan yang bisa memengaruhi masa depan. Akankah kita beraksi segera atau memikirkannya terlebih dahulu. Biasanya, kita memiliki tiga pilihan.


Pertama, kau membiarkan reflek menguasaimu. Jerit minta tolong seorang wanita yang terjatuh membuatmu langsung berlari dan memberi bantuan. Akankah tuduhan tetangga bahwa anakmu mencuri sebuah cincin membuatmu langsung memukulnya?


Kedua, berpikir terlebih dahulu, memastikan kebenaran atas apa yang kau dengar, memilih tindakan terbaik setelahnya. Sahabatmu berkata telah melihat istrimu berselingkuh lalu kau memastikan kebenaran dengan bertanya langsung pada istrimu, juga melihat bukti dan alibi yang ada. Jika kau seorang pengguna narkoba yang berkali-kali memastikan tentang kebenaran bahaya narkoba, apakah itu kebijaksanaan atau hanya ego yang tak ingin merasa disalahkan?


Ketiga, kau memilih mengabaikannya seakan tidak mendengar apapun. Seseorang berkata buruk padamu, kau memilih untuk mengabaikannya demi kesehatan mentalmu. Akankah kau mengabaikan nasihat seseorang yang menyayangimu?


Aku pernah salah melalui semuanya dan seringkali kesalahan itu berulang. Seolah menjadi kebiasaan yang sulit untuk diubah. Kemudian, penyesalan bertubi menderaku.


Aku tidak mendengarkan nasihat orang-orang yang menyayangiku, berusaha mencari pembenaran akan sikapku. Aku sering terburu-buru dalam bersikap, mudah marah saat mendengar hal yang tidak ingin kudengar. Sedangkan, aku malah memikirkan dalam-dalam perkataan buruk orang lain hingga menangis semalaman padahal itu tidak memberi manfaat apapun untukku. Aku yakin, tidak hanya aku yang pernah bersikap seperti ini, bukan? Aku ingin berubah jadi lebih baik, bagaimana denganmu?

Aku ingin menyortir tindakan atas apa yang kudengar dengan lebih baik lagi. Sebisa mungkin aku akan bergerak cepat saat seseorang memerlukan bantuan, berpikir terlebih dahulu saat menerima informasi yang belum pasti, serta mengabaikan suara-suara yang tidak memberi manfaat untukku.

Kuharap, kedepannya aku akan lebih sering mendengar suara indah. Suara-suara yang memacu semangatku untuk menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain dan memacu semangatku untuk mengejar cita-cita. Suara-suara yang bisa membuatku lebih bersyukur dan mencintai diri sendiri. Kau juga, ya.


Harapan yang Dibekukan

 Lagu-lagu yang muncul dari daftar lagu di sebuah aplikasi musik, terasa begitu mengusik. Cinta tidak mengerti mengapa lagu-lagu bertema kehilangan begitu mudah masuk tangga lagu teratas. Mungkin karena lagu-lagu itu mudah menyentuh hati banyak orang.


Cinta pun terhanyut saat mendengar sebuah lagu. Bukan bertema kehilangan, melainkan tentang seseorang yang takut bertambah dewasa. Cinta paham betul perasaan yang disampaikan oleh penyanyinya.


Bagi Cinta, pada awalnya berlari mengejar cita-cita terasa begitu menyenangkan. Cinta ingat, saat kecil Ibu dan Ayahnya bertanya, "Apa cita-citamu saat besar nanti?"


Wajah polos Cinta antusias melihat-lihat daftar profesi yang terdapat di Buku Tema dari sekolahnya. "Jadi Polwan, Bu, Yah," jawab Cinta mantap. Gambar wanita berseragam cokelat di buku itu terlihat sangat gagah.


Berjalannya waktu, hampir setiap tahun, Cinta mengganti cita-citanya. Cinta menunjuk tiap cita-cita seakan hanya itulah yang ia butuhkan untuk meraihnya. Dari polwan, Cinta beralih ke dokter gigi, berubah lagi ingin menjadi pelukis, lalu karena terinspirasi dari gurunya Cinta juga ingin menjadi seorang guru.


"Kamu harus rajin belajar," nasihat Ayahnya sebelum Cinta berangkat sekolah, "agar cita-citamu tercapai, ya, Cinta." Cinta menjawabnya dengan mengacungkan ibu jari.


Cinta rajin belajar. Ia pun selalu menjadi juara kelas. Namun, semakin bertambah usia Ia menyadari untuk meraih cita-cita tidaklah semudah menunjuk sesuatu. Terutama, setelah Ayahnya berpulang dan Ibunya harus membanting tulang demi Cinta dan adik-adiknya.


Sekolah Menengah Atas, ia berusaha membagi waktu untuk membantu Ibunya berjualan sambil menjaga nilai-nilainya tetap stabil. Namun, ia menelan kecewa karena lulus hanya dengan posisi sepuluh besar di kelasnya.


Orang-orang memujinya karena lulus dengan nilai baik, tapi harapan terasa jauh bagi Cinta. Ia menyadari, nilainya tidak akan cukup untuk bisa lolos melalui jalur beasiswa ke universitas pendidikan yang ia inginkan. Menantang kekhawatirannya, harapan Cinta patah begitu saja karena tidak lolos semua gelombang seleksi masuk. Tanpa beasiswa, Cinta tidak akan bisa kuliah. Tidak tanpa menyusahkan Ibunya. Sedangkan, adik-adiknya masih butuh banyak biaya sekolah.


Saat orang-orang ramai merasakan kehilangan kekasih hati, Cinta menangis karena kehilangan harapan. Ia harus melepas cita-citanya. Cinta harus berpuas diri menjadi seorang petugas kasir di swalayan. Walaupun begitu, Cinta tahu gadis sekeras kepala dirinya tidak mudah menyerah begitu saja. Cita-cita itu masih sering datang menjadi bunga dalam tidurnya.


Sampai pada suatu tahun, Cinta menyaksikan satu persatu teman-teman seusianya menjadi sarjana. Tiga di antaranya bahkan mulai menjalani profesi sebagai guru. Menatap dirinya di cermin, Cinta menghibur diri. Ia tak kalah hebat.  Ia hebat karena tak membebani Ibunya bahkan bisa membantu biaya sekolah adik-adiknya.


Bagaimanapun Cinta berusaha, ia tidak mampu mengatasi patah hatinya. Pada akhirnya Cinta sadar, selama ini harapannya tidaklah hilang. Ia hanya membekukannya di suatu tempat dalam hatinya. Cinta pun mulai menyusun strategi untuk menyusul ketertinggalannya. Membuka buku tabungan dan catatan pengeluaran bulanannya di depan keluarga kecilnya, Cinta mendapat sambutan hangat saat mengemukakan keinginannya untuk kuliah.


“Mungkin harapanmu tidaklah hilang seperti yang dipikirkan. Ia hanya menunggumu untuk bangkit kembali dan merealisasikannya.”

(Tiyas Nurhayati)

Minggu, 04 Juni 2023

Ulang Tahun Jakarta : Ancol Gratis!

Info tiket masuk Ancol gratis sukses viral di Jakarta. Promo ini diselenggarakan untuk memeriahkan ulang tahun Jakarta yang ke 469. Saya jadi salah satu dari ribuan orang yang mengambil kesempatan ini.


Cara mengambil promonya cukup mudah. Hanya dengan memesan tiket melalui website ancol.com , tiket gratisnya sudah bisa didapatkan. Syarat lainnya, pemesanannya harus 1 hari sebelum kunjungan, dan satu email hanya bisa digunakan untuk memesan satu tiket. Tiketnya juga berlaku di jam kunjungan jam 17.00 sampai jam 23.00. Promonya juga hanya untuk tiket orang yang masuk, tidak termasuk untuk tiket kendaraannya. Syaratnya masih cukup menarik, mengingat masih banyak yang bisa dilakukan dari jam 5 sore hingga malam hari. Khususnya, bagi saya yang memiliki anak kecil.


Saya memesan tiket untuk dua orang. Satu tiket menggunakan email saya, dan satu tiket lagi menggunakan email suami saya. Tak lupa juga saya tambahkan tiket masuk motor dengan harga tiket 20rb. Biaya admin 5rb rupiah. Sedangkan anak saya yang belum genap setahun belum perlu membeli tiket. Total yang saya keluarkan untuk 2 orang dan 1 motor adalah 25ribu rupiah.


Sebelumnya, saya sudah membaca banyak berita mengenai macetnya Ancol karena promo spektakuler ini. Namun, saya sendiri tidak begitu merasakan kemacetannya. Sedikit ada rasa bingung karena ada pintu masuk yang ditutup dan saya dialihkan ke pintu barat. Pintu yang cukup jauh untuk menuju ke area Beach Pool. Selain itu, memang sedikit terjadi kepadatan saat memasuki area pantai, tapi masih belum memicu emosi. Saya rasa masih dalam kewajaran. Meski begitu, saya tidak yakin bisa sabar jika saya menggunakan mobil. Kepadatan yang terjadi membuat pengguna mobil harus berjalan sangat pelan.


Berikutnya, sebelum memasuki bundaran air mancur, hanya beberapa meter lagi dari beach pool, jalurnya ditutup. Motor dan mobil sudah harus memarkir kendaraannya. Padahal, biasanya motor bisa diparkir di dekat beach poolnya sehingga tidak harus berjalan kaki terlalu jauh. Kemudian, kebingungan kembali saya rasakan. Parkiran penuh. Suami saya ekstra hati-hati saat memarkir karena motor kanan kiri begitu padat.


Kami berjalan kaki menuju beach pool dan area itu penuh sekali. Hahaha. Namun, adanya festival kuliner dengan harga kaki lima benar-benar membuat saya tidak masalah berjalan kaki sedikit lebih jauh hingga mendapat lokasi yang lebih lengang. Dari sini, saya menikmati keceriaan dengan anak. Kami bermain pasir dan bahkan masih sempat bermain air laut juga. Tak ada lagi uang yang saya keluarkan karena saya mempersiapkan bekal dan air minum. Dan secara keseluruhan, karena anak saya banyak tertawa di hari ini, saya benar-benar bersyukur sudah datang ke Ancol hari ini.


Saya yakin, pihak Ancol sudah berusaha memfasilitasi sebaik mungkin. Terima kasih atas promo bulan ini. Semoga semakin baik dan semakin baik lagi.

Setoples Nigreta

Pantai terlihat sangat bersahabat. Cuacanya cerah dan ombaknya tidak terlalu besar untuk berenang. Untung saja Candice dan teman-temannya memilih pantai sebagai pengisi waktu liburan mereka hari ini. Beberapa anak kecil membuat istana pasir. Walaupun bentuknya tidak terlalu bagus, jelas sekali mereka membuatnya dengan sungguh-sungguh. Menoleh sedikit ke kanan, Candice melihat seorang wanita muda yang sedang bermain ayunan yang di dorong oleh seorang pria. Sepasang kekasih itu terlihat sangat bahagia. Ah, pemandangan itu menambah kebahagiaan Candice hari ini.

Kemarin Candice sudah sibuk sejak pagi. Candice membuat nigreta untuk acara pantainya. Dengan penuh kesabaran, Candice melumuri bagian atas kue-kue kecil itu dengan cokelat murni dan menggambar bentuk-bentuk lucu dengan cokelat putih. Candice yakin, teman-teman akan menyukainya.

Tidak lama setelah bermain cukup lama di pantai, Candice merasa ini waktu yang tepat untuk cemilan.

“Waktunya ngemil…!” seru Candice dengan ceria. Ketiga temannya itu langsung mengerubunginya. Penasaran dengan cemilan hari ini. 

“Apa nih?” Tanya Vanya

“Taraaa… Nigreta!” Candice mengacungkan setoples nigreta yang ia buat kemarin.

Di luar dugaan, ketiga temannya tidak menunjukkan antusias yang sama dengan Candice. “Yah, Candy. Kamu lupa ya? Aku alergi kacang.” Vanya mengerutkan keningnya.

Keke mundur selangkah. “Candy, aku lagi jerawatan, nggak mau makan kacang.”

“Candy, itu kelihatannya enak sekali, tapi sayangnya aku lagi diet.” Tasya memberi tatapan menyesal.

Candice sedih sekali. Padahal ia sudah bersusah payah membuatnya untuk dimakan bersama. Melihat Candice bersedih, Keke berkata, “Aku mau deh, cicip satu.”

Dengan erat, Candice mendekap toples itu dalam pelukannya. “Nggak boleh. Nanti kalau jerawatan aku yang disalahin.”

“Jangan marah ya, Candy…”

“Aku nggak marah, kok,” jawab Candy jujur.

Ya,  Candice memang tidak marah. Candice yang salah membuat kue tanpa memperhatikan kondisi teman-temannya. Meski tidak marah, Candice tetap merasa sedih. Candice berusaha ceria tapi yang ada di kepalanya sekarang hanya nigreta. Murung di sepanjang sisa hari, Candice tidak lagi bisa menikmati liburan mereka. Kemana-mana, Candice membawa toples nigretanya. Ia memutuskan untuk menghabiskan semuanya sendirian. Namun, Candice yang tidak terbiasa makan banyak hanya bisa menghabiskan setengahnya hingga malam hari. Candice jadi menyesali dirinya yang terlalu rajin menyenangkan hati teman-temannya.

Masih membawa toples nigretanya, saat teman-teman beristirahat di Villa, Candice keluar sendirian. Duduk di pasir pantai sambil memakan nigretanya dengan pelan.

“Makan apa?” Seorang laki-laki menyapanya.

Pria yang sama sekali asing. Candice tidak suka bicara dengan orang asing. Jadi Candice hanya mengacuhkannya. Melihat Candice yang bersikap dingin, pria itu tidak bertanya lebih jauh. Pria itu berjalan sedikit di depannya dan menggambar sesuatu di pasir pantai. Karena pria itu tepat di depannya, mau tidak mau Candice jadi memperhatikannya. Sebagian gambar yang dibuat pria itu hilang oleh air laut yang pasang surut tetapi pria itu tidak lelah menggambarnya lagi dan lagi.

Merasa gemas, Candice pun berbicara. “Kau harus membuat parit atau dinding agar gambarmu tidak terhapus.”

Laki-laki itu terlihat bingung. Cahaya bulan membuat wajah pria ini lebih jelas sekarang. Candice pun mengenali pria ini sebagai pria yang mendorong ayunan kekasihnya tadi pagi. Candice menghampiri pria itu dan membantu membuat tanggul dari tumpukan pasir pantai.

“Oh. Terima kasih,” ucapnya. Melihat toples yang dibawa-bawa Candice, laki-laki itu tersenyum. “Nigreta, ya? Ibuku dulu sering membuatnya.”

“Kau mau?” Candice mengulurkan toples itu. Ia juga sudah tidak bisa makan lebih banyak lagi.

“Kalau boleh, aku ingin memberikannya pada adik perempuanku. Ibu sudah setengah tahun ke luar kota, jadi dia pasti cukup merindukan kukis ini.”

Candice menunjuk ayunan yang tidak jauh dari mereka. “Apa adikmu adalah wanita yang bermain ayunan di sana tadi pagi?”

“Kau melihatnya?”

Candice mengangguk. Rupanya wanita itu adalah adiknya, pikir Candice. Setelah pria itu menerima toples nigretanya, Candice mengulurkan tangan. “Aku Candice. Teman-teman biasa memanggilku Candy.”

“Aku Tommy.” Tommy menyambut uluran tangan Candice dengan hangat.

Mereka pun jadi mengenal lebih dekat malam itu. Tommy sebagai penduduk lokal pantai ini, ternyata pria yang cukup ramah. Bersemangat lagi karena mendapat teman baru, Candice pun berniat untuk membuat dua jenis cemilan saat kunjungan berikutnya. Camilan untuk teman-temannya, dan setoples nigreta untuk Tommy dan adiknya.

Jumat, 02 Juni 2023

Worklife Balance

Beberapa waktu lalu, sebuah konten melintas di beranda media sosial saya. Kontennya berisi tentang pendapat seseorang tentang worklife balance. Worklife balance biasanya menyorot pada keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi di luar pekerjaan. Dalam konten tersebut, orang tersebut berkata bahwa worklife balance adalah previlage bagi orang yang berduit.


Intinya, dia beropini bahwa hanya orang berduit bisa memiliki kesempatan memilih untuk menyeimbangkan antara kerja dengan kehidupan pribadi. Sementara itu, orang yang tidak memiliki cukup uang ada di posisi tidak bisa memilih. Alias, sudah pasti harus kerja mati-matian demi mempertahankan kehidupan hingga kehidupan itu sendiri akhirnya dipenuhi dengan aktivitas kerja, kerja, dan kerja.


Dalam nalar saya, opininya terlalu dangkal jika sesuatu hanya dikotak-kotakkan antara hitam dan putih. Kaya dan miskin. Apalagi disebut bahwa worklife balance adalah sebuah previlage. Meski begitu, hati saya yang ingin mengasihani diri sendiri menyetujuinya.


Beberapa lama saya hidup dalam kesulitan. Saya memiliki cukup waktu bersama keluarga. Saya punya cukup waktu jika ingin menyenangkan diri sendiri. Tapi, keuangan tidak mendukung itu. Waktu saya pada akhirnya digunakan untuk memutar otak bagaimana bertahan esok hari. Bagaimana melanjutkan hidup. Bagaimana caranya tidak terusir dari kontrakan. Bagaimana caranya beras terbeli. Bagaimana caranya saat gas tiba-tiba habis saya bisa langsung membelinya. Saya punya banyak waktu, tapi dibilang menikmati waktu, tidak sepenuhnya. Yang ada, saya malah berulangkali ingin menyerah pada hidup.


Sekarang waktu saya sangat sedikit. Saya hanya punya waktu sebentar setelah bangun tidur di pagi hari untuk memandikan anak. Lalu saya berangkat kerja. Saya kembali lagi ke rumah menjelang waktu tidur. Waktu saya hanya cukup untuk memeluknya saat tidur. Meski begitu, saya tidak punya kekhawatiran anak saya terusir dari kontrakan. Saya bisa memiliki stok tabung gas, galon, Pampers, susu, dan segala hal yang bisa habis sewaktu-waktu. Saya merasa aman. Namun, saya jadi tidak bisa ikut dalam membentuk karakter anak saya. Saya harus rela melepas hal-hal yang jadi hobi saya. Selain bekerja, waktu yang tersisa untuk saya hanya waktu untuk tidur. Jika saya ingin melakukan hal lain, maka waktu tidur saya harus dikorbankan. Sedangkan, waktu kerja saya tidak bisa diotak-atik lagi. Waktu libur saya yang terbatas, saya gunakan semaksimal mungkin untuk membayar waktu saya yang kurang dengan anak. Waktu untuk diri saya sendiri, saya kesampingkan.


Saya tahu, pembaca akan menyarankan untuk pindah pekerjaan. Masalahnya, mencari pekerjaan yang sekarang saja sulitnya bukan main. Tidak mudah mencari pekerjaan yang penghasilannya bisa menanggung kebutuhan orang tua, anak, dan diri saya sendiri. Worklife balance jadi tidak terlalu penting. Yang penting dengan work saya masih life. Persetan dengan life yang seperti zombie. Asalkan ada makanan untuk mulut-mulut yang perlu saya beri makan.


Jadi, benarkah worklife balance adalah previlage bagi mereka yang berduit? Entahlah. Mungkin semakin tinggi posisi seseorang maka ia juga memiliki tanggung jawab yang banyak. Seperti memberi makan pekerjanya. Oleh sebab itu ia akan bekerja lebih banyak dari orang lainnya. Meskipun, jika ia benar-benar berduit ia bisa memilih untuk membayar dan menyerahkan tugasnya pada orang lain. Well, previlage.


Meski begitu, itu juga masih terlalu kotak. Mari lapangkan dada dengan kembali pada sesuatu yang disebut takdir. Setiap orang menjalani takdirnya masing-masing. Misalnya, mungkin pekerjaannya fleksibel, tapi di rumah ia punya tuntutan lain yang harus ditunaikan. Mungkin ia bisa meluangkan waktu banyak untuk dirinya tapi ia sebenarnya kesepian. Bukankah ketidakadilan yang terjadi di dunia ini terlihat adil karena semua orang mengalami ketidakadilan?

Kamis, 01 Juni 2023

Digilas Luka

Bangun, jatuh lagi. Bangkit, jatuh lagi. Hendak melangkah, tersandung lagi. Berusaha sabar, berusaha semangat, berusaha melihat sisi positifnya, tapi tetap tidak ada jaminan diri tidak akan terjerembab dan terluka lagi.


Lelah dan ingin istirahat bahkan terkadang tidak ingin bangun lagi, tapi ingat bahwa kebutuhan tidak bisa diistirahatkan. Ada orang-orang tersayang yang butuh diri tetap bergerak. Tahan, tahan, berusaha bertahan dan terus bergerak walau harus merangkak. Lutut hancur digilas tajamnya jalan yang harus dilalui.


Duh, diri terus menerus ingin mengeluh. Lelah, sungguh lelah. Namun, orang-orang menguatkan. "Jangan mengeluh, bersyukurlah," kata mereka.


Masih diberi kehidupan, masih diberi fisik yang sehat, anggota tubuh yang lengkap, ada orang yang menyayangi, tidak pantas jika mengeluh. Banyak yang harus disyukuri. Sungguh, sekarang ini, diri juga tidak ingin mengeluh.


Dulu, diri selalu mengeluh. Saat harus menjalani hidup tanpa ayah sejak masih dalam kandungan. Saat mengalami siksaan dari ibu yang emosional. Saat harus bertahan di tengah keluarga yang pecah. Saat berkali-kali terusir dan kehilangan tempat tinggal. Saat tertatih menjalani pendidikan. Dan saat berada di masa-masa yang membuat diri tidak mau mengingat sama sekali.


Sekarang, diri tidak mau mengeluh. Walau setelah perjalanan panjang itu, ketenangan belum juga terlihat. Walau setelah perjuangan itu, masih ada duri yang menghalangi jalan. Walau diri hanya bisa melihat darah di masa depan. Sungguh, diri tidak ingin mengeluh.


"Aduh," keluh diri ini.


Padahal tidak ingin mengeluh. Mengapa air mata tidak mau berhenti? Diri ini bersyukur pada semua nikmat yang ada. Tapi jatuh tetaplah sakit. Lukanya pun meninggalkan bekas. Bolehkah mengeluh saat ini saja? Keluh yang tertahan di hati terasa sesak dan membuat kesulitan bernapas.


"Aduh, malangnya diri ini. Aduh, menyakitkannya semua ini. Aduh, kejamnya dunia ini. Diri ini lelah. Luka ini sakit sekali," diri ini mengeluh panjang hingga tak terasa malam telah membangunkan mentari.


Yah, masih panjang. Dunia memang kejam. Mungkin, masih akan ada luka lain yang menanti. Tapi diri berhasil melaluinya selama ini. Jangan dulu menyerah. Belum, belum saatnya. Sesakit apapun diri saat ini, pasti tidak akan sesakit jika menyerah di tengah jalan dan ternyata jalan keluarnya sudah dekat. Walau sampai akhir hanya luka yang didapat, setidaknya diri bisa membuktikan tak ada yang bisa meruntuhkan keteguhannya.


Kasih Sayang Ibu Azka (3-Selesai)

Hari kepulangan Azka bertepatan dengan hari libur Nita. Jadi, Nita menemani Azka ke rumahnya. Karena kesibukan masing-masing, ini adalah pertama kalinya Nita mengunjungi rumah Azka walau mereka sudah menjalin hubungan selama setahun. Rumah Azka sangat ramai. Azka memiliki empat orang adik. Adik yang tertua masih sekolah SMA, sedangkan yang kecil masih SD kelas 3. Tanpa seorang Ayah, Nita bisa merasakan bagaimana perjuangan Azka sebagai tulang punggung keluarga.


Di rumah terlihat jelas Ibu Azka sangat menginginkan mereka cepat menikah. Azka dan Nita hanya tertawa walau tidak nyaman. Nita sih, mau saja. Namun, Azka sudah pernah menjelaskan pada Nita bahwa saat ini Ia sedang fokus untuk pendidikan adik-adiknya dulu. Jika yang adik yang tertua sudah bekerja, mungkin Azka baru bisa memikirkan pernikahan. Nita tidak masalah dengan itu, apalagi setelah melihat kondisi keluarga Azka secara langsung.


Karena kepulangan Azka dan kehadiran Nita, Ibu Azka memasak ikan goreng, sayur, dan sambal. Nutrisi yang cukup untuk tubuh manusia. Tersedia juga buah untuk vitamin. Tapi, keadaan Ibu Azka cukup mengganggu Nita sebagai Ahli Gizi. Hingga saat makan, Nita menyadari jumlah ikannya hanya cukup untuk mereka berenam. “Bu, ikannya kurang ya? Mari berbagi dengan saya,” ucap Nita pada Ibu Azka.


“Aduh, nggak usah, Nduk. Ibu sudah pisahkan di dapur. Ibu senangnya gadoin ikan belakangan,” jawab Ibu Azka.


“Bohong,” celetuk adik Azka yang tertua. “Ibu mah selalu begitu, lauknya selalu cuma pas untuk kami. Ibu nggak pernah makan pakai lauk. Malah kalau sayur habis, Ibu cuma makan pakai kuah sayur saja. Katanya, Ibu mau berhemat.”


Mendengar itu, Azka terlihat terkejut. “Ibu, benar begitu?”


“Nggak, Azka. Ibu benar-benar sisakan di dapur.” Sekarang, kebohongan Ibu Azka terlihat jelas di raut wajahnya.


Karena kesal, Azka berjalan ke dapur dan mencari. “Ibu simpan di mana ikannya? Ibu tega bohongin Azka?” Azka terlihat sangat marah. Azka membuka tiap laci dan buffet kemudian menutupnya dengan keras. “Buat apa Azka kerja keras kalau Ibu malah nggak mau makan pemberian Azka? Uang yang Azka kasih halal, Bu. Azka setiap bekerja sambil mikirin Ibu, bagaimana caranya biar Ibu sejahtera.” Nita belum pernah melihat Azka marah sampai seperti ini.


Melihat anak sulungnya marah, Ibu Azka kemudian menangis. “Maaf, iya Ibu salah, Azka.”


Melihat wanita itu menangis, Nita tidak tega. Nita menegur Azka, “Azka, sudah.” Nita kemudian beralih pada Ibu Azka. “Ibu, Ibu berhemat untuk apa? Apa uang dari Azka kurang?”


Ibu Azka menggeleng. “Ibu mau menabung untuk Azka. Setiap belanja, Ibu sudah perhitungkan agar uang belanjanya tidak terpakai semua. Ibu mau kumpulkan untuk Azka. Rencananya, Ibu mau serahkan saat Azka mau menikah.. Azka itu sampai belum menikah karena mikirin Ibu dan adik-adiknya, Ibu nggak tega. Sebelum kamu, Azka sudah berkali-kali ditinggal kekasihnya gara-gara keadaan keluarga kami.”


Mendengar itu, Azka jadi ikut menangis. “Maaf ya, Bu. Sudah membuat Ibu kepikiran. Tapi Ibu jangan begini, kesehatan Ibu lebih penting bagi Azka. Kalau Ibu begini, Azka jadi sedih.”


Setelah adegan tangis yang cukup lama, Nita dan Azka membawa Ibu Azka ke rumah sakit. Benar saja, Ibu Azka mengalami malnutrisi yang cukup parah. Jika tidak segera diobati, Ibu Azka bisa semakin mengalami penurunan fungsi tubuh.


Nita sangat tersentuh pada keluarga Azka. Mereka semua saling menyayangi sampai mengorbankan kesehatan diri sendiri. Adik Azka yang tertua ternyata juga bekerja sambilan di sebuah bengkel setiap pulang sekolah, agar tidak merepotkan Azka. Nita berdoa, semoga kasih sayang tidak membuat seseorang harus mengorbankan kesehatan mereka, tapi justru bisa saling menyehatkan. 


Kasih Sayang Ibu Azka (2)

“Bagaimana kata dokter? Ada patah tulang?”


Azka menggeleng. “Kata dokter, kemungkinan tidak ada. Finalnya, masih menunggu hasil rontgen keluar. Aku baik-baik saja, Nita.”


Nita bangkit dan menyiapkan alat ukur. “Saya Nita, Ahli Gizi di rumah sakit ini. Saya minta izin untuk melakukan pengukuran tubuh Bapak, ya. Hasil pengukurannya nanti akan berguna untuk mengetahui nutrisi di tubuh Pak Azka sudah cukup baik atau belum," jelas Nita.


"Iya, Dok." Azka meledeknya lagi.


Nita menahan tawa saat mendengar panggilan itu. Azka tau betapa lelahnya Nita menjelaskan pada tiap pasien bahwa ahli gizi dan dokter adalah dua profesi yang berbeda.


Bahkan, Nita tidak bisa disebut dokter gizi karena dokter gizi dengan ahli gizi pun berbeda, walau keduanya memiliki kemiripan tugas dan bekerja sama dalam menentukan menu sehat pasien.


Setelah melakukan pengukuran tubuh dan melakukan wawancara singkat terkait keseharian dan pola makan, Nita menyudahi sesinya.


"Azka, aku khawatir kamu ada diabetes. Sementara kuresepkan menu untuk diabetes dulu, ya. Sudah tes darah, kan?”


“Oke, Beb,” jawab Azka. Nita membereskan barangnya dan bersiap pergi.


***


Rupanya, perkiraan Nita benar. Azka memang memiliki diabetes. Belum terlalu parah, jadi hanya dengan menu makanan yang sesuai dan perawatan dokter, diabetesnya bisa ditangani. Hari ini, Nita menjenguk Azka di ruangannya pada waktu senggang. Di samping ranjang Azka sudah terdapat wanita paruh baya yang Nita kenali sebagai Ibu Azka. Nita sudah beberapa kali melihatnya melalui foto, baru kali ini Nita bertemu langsung. Dengan sopan, Nita memperkenalkan diri.


“Oh, Nita. Azka sudah sering cerita tentang kamu. Wah, aslinya lebih cantik dari yang di foto, ya, Nduk,” ujar Ibu Azka. Nita tersipu malu mendengarnya. “Maaf ya, kalau Azka  sering manja. Azka itu manjanya cuma sama kamu. Dia terlalu baik sama Ibu dan adik-adiknya. Setiap ada masalah nggak mau cerita sama Ibunya.”


Azka menutup wajahnya dengan selimut. “Ibu jangan begitu, dong. Azka malu.”


Perbincangan kemudian berlangsung hangat dan menyenangkan. Namun, Nita melihat tubuh Ibu Azka kurang sehat. Ibu Azka sering tidak fokus, tubuhnya kecil, dan ada pembengkakan di beberapa bagian tubuhnya. Setelah Ibu Azka pulang, Nita mencoba mengungkapkan apa yang ia pikirkan sejak tadi.


“Sayang, Ibu kalau di rumah pola makannya bagaimana?”


Azka duduk dan menjawab, “Biasa saja. Kadang Ibu masak, kadang beli makanan di luar. Tergantung mood adik-adikku. Aku sih selalu makan di tempat kerja. Kenapa, Beb?”


“Sepertinya Ibu kurang gizi,” ujar Nita.


Mendengar itu, wajah Azka langsung berubah. “Kok kamu tega sih, Nit. Kamu kan tahu bagaimana aku bekerja keras untuk Ibu dan adik-adikku. Aku memastikan mereka tidak hidup kekurangan. Masa, kurang gizi?”


Nita berusaha menjelaskan. “Aku hanya melihat dari pengamatanku. Ibu sepertinya kekurangan protein dan vitamin.”


“Nita, orang tua fisiknya memang begitu. Jangan bicara yang tidak-tidak. Aku jadi kesal.”


Membaca raut wajah Azka, Nita tidak mau berdebat lebih lanjut. Pembicaraan pun berhenti sampai di situ. 


Kasih Sayang Ibu Azka (1)

Nita menatap kamar indekosnya sekali lagi sebelum berangkat. Baju-bajunya sudah rapih, tinggal menata buku-buku. Sepaket rak buku portabel tergeletak di pojok kamar. Kemarin, Nita sudah mencoba memasangnya, namun setengah jam berkutat dengan potongan puzzle itu Nita selalu saja gagal memasangnya. Jadi Nita menyerah, Ia mungkin akan meminta tolong pada temannya nanti. Terganggu karena rambut panjangnya yang selalu turun ke wajah, Nita mengambil karet rambut dan mengikat rambutnya asal-asalan.


Keluar dari kamarnya, Nita berangkat ke Monde Hospital, rumah sakit tempatnya bekerja. Butuh waktu selama setengah tahun untuk memantapkan hati dan memilih pindah. Setelah seminggu mengintari lingkungan sekitar rumah sakit, Nita akhirnya menemukan sebuah indekos yang cukup nyaman. Ya, indekosnya saat ini. Jarak dari indekos ke rumah sakit hanya sekitar 5 menit berjalan kaki. Jika kelelahan pulang bertugas, Nita bisa menggunakan jasa ojek online dengan harga yang cukup murah.


Sampai di rumah sakit, Nita absen baru membenahi riasannya. Pagi itu Nita memulai hari dengan melihat catatan medis para pasien. Tinggi dan berat badan, riwayat penyakit, juga gejala yang sedang dirasakan saat ini. Nita membaca dengan teliti dan mulai meresepkan menu yang tepat untuk setiap pasien itu.


"Kak Nita, ada seorang pasien baru di 203. Apakah sudah bisa dilakukan antropometri?" seorang perawat bertanya.


Nita membereskan berkasnya. "Kita lakukan sekarang saja. Tidak bentrok dengan pemeriksaan dokter, kan?"


Perawat itu mengangguk. "Mari saya temani, Kak."


Sambil menuju bangsal, Nita membaca catatan medis awal yang dibuat oleh dokter penanggung jawabnya. “Azka?” Nita terkejut saat menatap nama yang sangat di kenalnya.


“Kenapa, Kak?” tanya perawat. 

Nita menepis pemikirannya. “Tidak apa-apa.” Ya, pasti bukan Azka yang sama kan?


Mereka sampai di bangsal kelas tiga. Bangsal paling ramai di banding bangsal lainnya. Di kamar 2 kasur 03, terbaring seorang yang sangat dikenalnya. Azka yang sama.


“Hai, Beb.” Azka menyapanya dengan senyuman lebar.


“Kejutan macam apa ini?” Nita menatap kaki Azka dengan sedih. Tulang keringnya diperban sedangkan beberapa titik penuh dengan luka lecet. Nita beralih ke perawat yang menemaninya dan berkata, “Nayla, kamu kembali saja ya. Ini kenalan saya, saya mau berbincang sebentar.”


“Baik, Kak.”


Setelah perawat pergi, perhatian Nita kembali pada Azka yang kini menatapnya dengan geli. “Kenalan?” ledek Azka.


“Jadi? Kenapa?” Nita tidak menggubris ledekan Azka. Ia mengambil kursi terdekat dan duduk di samping ranjang Azka.


“Terjatuh saat tugas. Sebenarnya tidak parah, tapi atasan malah membawaku ke rumah sakit. Jadi, di sinilah aku sekarang.” Azka kembali memamerkan cengiran khasnya.