"Jaga Milo? Memang kamu mau ke mana?” tanya Dafi bingung.
“Aku mau bertemu dengan seorang penulis sebentar,” jawab Risa sambil memakai sepatunya.
Sedikit sedih karena akan ditinggal, Dafi berusaha melarang, “Memang harus hari ini? Kamu, kan, sedang tidak terlalu sehat, Risa.” Dafi menempelkan tangannya ke kening Risa. Memeriksa suhu tubuhnya. Sudah tidak sepanas hari sebelumnya.
“Aku sudah membaik. Lagi pula, lokasinya dekat. Kamu tahu Hazel’s Cafe di Jalan Deli, kan? Kami akan bertemu di sana. Hanya sebentar, aku janji.” Risa mengecup pipi Dafi kemudian menuju pintu. “Oh, jangan lupa isi mangkuk susunya Milo, ya,” pesan Risa tepat sebelum ia menutup pintu.
Dafi menghela napas dan meletakkan cokelat yang ia beli ke atas meja. Lagi-lagi, Dafi harus berduaan dengan kucing itu. Ogah-ogahan, Dafi mengambil susu dari kulkas dan menuangnya ke mangkuk Milo.
“Tuan Milo, susunya sudah siap...,” ucap Dafi meledek. Dafi menoleh ke kanan dan ke kiri, namun ia tidak melihat kehadiran Milo. Suara gemerusuk dari suatu tempat terdengar mencurigakan. Dafi pun mencari asal suaranya.
Jantung Dafi berdebar cepat saat melihat kucing itu berdiri di atas lemari, tepat di tempat plakat-plakat kesayangan Risa berada. “Hus! Hus! Milo, turun! Nanti plakatnya jatuh!” teriak Dafi. Bukannya turun, kucing itu malah melenggak lenggok memamerkan kelihaiannya berjalan di antara plakat itu. Ekornya bergoyang dan mengelus plakat itu satu persatu.
Dafi benar-benar khawatir. Kalau jatuh, plakat-plakat itu akan pecah berantakan dan mungkin tidak akan bisa diperbaiki. Mengambil sapu, Dafi mencoba menakuti Milo. “Hus! Hus! Turun!” perintah Dafi sambil mengayunkan sapunya.
Melihat Dafi membawa sapu, Milo duduk terdiam di antara plakat. “Bagus. Kucing pintar, ayo turun.” Dafi tidak percaya ia sekarang sedang bersikap manis di depan seekor kucing. Namun, bayangan Risa yang sedih karena plakatnya rusak membuat Dafi frustrasi.
Saat melihat Milo bangun, Dafi kira Milo akan turun. Di luar dugaan, kucing itu malah dengan sengaja mendorong plakat itu dengan tangannya. Ya, tangannya! Atau kaki depannya bisa dibilang. Plakat itu bergeser hingga ke pinggir lemari. Dafi segera melepas sapunya dan bersiap menangkap. “Milo, please, jangan,” bujuk Dafi. Dengan cengiran menyebalkan, kucing itu mendorong sekali lagi. Nice catch, plakat itu selamat di tangan Dafi. Dafi segera meletakkan plakat itu di atas meja.
“Kucing sialan!” maki Dafi. Milo menggoyangkan ekornya dengan rasa senang. “No, jangan lagi. Milo jangan!” tangan Dafi berkejaran menangkap plakat yang satu persatu dijatuhkan Milo. Satu plakat tertangkap saat masih ada satu plakat di tangannya. Dua plakat itu bertubrukan di tangannya hingga membuat retakan yang cukup besar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar