Marah besar, Dafi berusaha memukul Milo dengan sapu ijuk, tetapi yang ia dapat hanya rasa lelah karena Milo terlalu gesit. Sebuah ide jahat pun terbesit di kepalanya. Dafi membuka pintu apartemen dan mengganjalnya. Membiarkan pintu itu terbuka, Dafi lalu merebahkan diri di sofa. Rencananya berhasil. Milo yang penasaran, turun dan melihat keluar. Saat Milo di luar, Dafi segera menutup pintu apartemennya. Dafi tertawa dalam hati.
Hanya butuh satu menit untuk membuat Dafi tersadar. Risa bisa kecewa padanya jika Milo sampai hilang. Jadi, ia segera membuka pintu dan menyesal. Milo sudah tidak ada. Dafi menyusuri lorong dan mencari Milo. Tidak ada celah untuk bersembunyi di sini. Harusnya Milo bisa dengan mudah ditemukan. Ya, perkiraan Dafi tepat. Milo terlihat berjalan di depan pintu tangga darurat yang terbuka. Terbuka! Astaga, siapa sih yang membiarkan pintu tangga darurat terbuka? Dafi menggerutu.
“Milo, Milo, ke mari. Ayo pulang, nanti Risa mencarimu,” panggil Dafi lembut.
Kucing itu tidak tertarik pada Dafi sama sekali. Dafi tidak berani menangkapnya dengan tangan kosong. Jadi, Dafi membuka jaketnya, berharap itu cukup untuk menjadi alat penangkap kucing. Dafi berlari hendak mendahului Milo dan menggiringnya ke arah unit Risa, tetapi melihat Dafi berlari, Milo justru ikut berlari lebih kencang. Ia masuk ke tangga darurat dan naik ke atas.
Aksi kejar-kejaran antara Dafi dan Milo pun berlangsung. Pintu di tiap lantai tertutup. Lantai 8, lantai 9, lantai 10, satu lantai lagi memiliki pintu yang terbuka. Saat Milo keluar, hap! Dafi berhasil menangkap Milo. Dafi berniat kembali karena ia tidak tahan menggendong Milo terlalu lama. Namun, baru saja membalikkan badan, pintu itu tertutup. Dafi berusaha membuka tetapi terkunci rapat. Dafi berbalik lagi hendak mencari jalan lain, namun pemandangan di depannya membuat Dafi tercengang.
Dafi berada dalam sebuah gubuk yang sangat jelek. Dinding-dindingnya terbuat dari anyaman bambu, atapnya terlihat akan rubuh, dan yang paling jelek dari semua itu adalah perabotannya. Perabotannya terlihat lusuh. Di tengah ruangan ada kuali besar yang sangat jelek. Dafi berbalik lagi, mencoba membuka pintu itu lagi. Berhasil. Belum sempat merasa lega, pintu yang harusnya terhubung ke tangga darurat kini menjadi hutan belantara.
“Hahaha...,” tawa Dafi frustrasi. Ia menutup pintu dan membukanya lagi. Menutupnya lagi lalu membuka lagi. Berkali-kali dilakukan, tetap saja pemandangan itu tetap sama. Ia berada dalam gubuk reot yang berada di tengah hutan. “Hahaha...,” Dafi tertawa lagi, “parah, sih, bercandanya,”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar