Aku lulus dengan nilai yang terbilang kurang. Tidak seperti Yasmin yang bisa bersekolah di SMA Negeri, tidak ada sekolah negeri yang mau menerimaku. Sementara Mpok Ani tidak mampu membiayaiku di sekolah swasta. Aku pun menerima takdirku untuk berpuas diri sebagai lulusan SMP. Aku bekerja di sebuah pabrik roti dan berusaha menabung. Hubunganku dengan Sam pun terjalin baik. Beberapa kali kami bertengkar karena sifatku yang kekanakan, tapi Yasmin selalu membantu menengahi kami. Hal yang tidak bisa kuatasi adalah, Mpok tidak merestui hubungan kami.
“Yang bener aje lu, Sar. Laki-laki modelan begitu lu pacarin. Mau jadi ape lu?” ucap Mpok.
“Sam baek, Mpok. Dia dewasa. Mpok liat dong, gimana dia sama keluarganya. Dia laki-laki yang bertanggung-jawab.”
“Elu mana tahu soal laki-laki yang baek!” oceh Mpok lagi.
Dengan kesal, aku pun membalasnya, “Terus yang baek itu modelan Yudi? Yang suka ngejablay?”
“Lu didiemin makin kurang ajar, ya!” Mpok mulai menimpukku dengan barang-barang terdekat yang ada di dekatnya. Aku pun memilih pergi dengan tangis tertahan. “Sono! Pergi lu ke rumah si Yasmin! Enak lu ye, ada yang lindungin!” Aku tidak menggubris ocehannya.
Aku memang ke rumah Yasmin. Rumah yang menerimaku dengan tangan terbuka. Kadang, aku juga memilih tidur di sini. Bahkan, tanpa kuminta, Mama yang kini kuanggap seperti ibuku sendiri, sering memasak makanan kesukaanku.
“Ma, masak apa?” tanyaku pada wanita yang suka tersenyum lebar itu.
“Ayam kecap. Kamu makan gih, ajak Yasmin. Dia belum makan, nunggu kamu katanya,” jawab Mama sambil mengisi buku teka-teki silang favoritnya.
“Yas, lu belum makan?” tanyaku pada Yasmin yang asik membaca novelnya. Tak mendengarku, dia pun tak menjawab. Inilah Yasmin. Dia tidak bisa mendengar apa pun kalau pikirannya sudah masuk ke buku. “Yas, woi, makan. Jangan baca melulu.” Aku melambaikan tanganku untuk mengganggunya.
“Eh, Ay. Udah dateng?” tanyanya setelah kembali fokus di dunia nyata.
“Makan, hayuk,” ajakku.
“Duh, belom kelar baca, nih, tinggal 200 halaman lagi,” rengeknya.
Aku menggeleng-geleng melihatnya. Apa serunya menghabiskan buku beratus-ratus halaman? “Lu bohong sama Mama, ya? Bilangnya nungguin gue, padahal emang lu ga pengen diganggu karena lagi baca, kan?” ejekku. Yasmin membalasku dengan cengiran khasnya. “Ya udah, gue makan duluan, ya,” ucapku.
“Ah, jangan. Hayuk bareng.” Yasmin segera bangkit. Aku pun tertawa melihatnya. Yasmin lebih suka makan sepiring berdua dibanding makan sendiri. Aku pun mulai menyukainya. Tidak peduli menambah beberapa kali karena masih lapar, makan bersama memang lebih menyenangkan.
Aku menyendok nasi dan lauk sementara Yasmin menunggu. Masih dengan bukunya yang ia baca sambil mencuri-curi waktu. Begitu piring dan dua sendok dihidangkan di hadapannya, ia segera menutup buku dan makan bersamaku.
“Lu berantem lagi sama Mpok Ani, ya?” tebak Yasmin asal-asalan.
“Iya. Gua kebawa emosi pas dia ngatain Sam. Dia bilang, ‘laki-laki modelan begitu’. Nyebelin banget,” curhatku.
“Padahal suaminya lebih parah, ya,” komentar Yasmin.
“Nah, itu! Gue nyindir suaminya terus dia jadi ngamuk. Gue tinggal pergi aja.”
Yasmin mengangkat sepotong ayam dengan tangan dan menggigitnya. “Lu, lagian. Mpok lu emosi, lu bales emosi. Kapan ademnya? Pelan-pelan, Ay. Kali aja ntar kebuka hatinya.”
“Iya, sih. Tahulah. Gue juga nggak paham. Kalo sama orang laen bisa sabar, kalo ama Mpok gue gampang ikutan emosi. Gue keselnya dia selalu belain suaminya dibanding gue, adeknya sendiri. Udah jelas lakinya yang salah, tetep aja gue yang diomelin,” celotehku.
Yasmin menatapku simpati. “Gua kalo jadi lu kesel juga, sih.”
Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum pernah kuceritakan pada Yasmin. Aku enggan menceritakannya. Sungguh, jika aku menceritakan ini, mungkin banyak hal buruk yang akan terjadi. Jadi, aku menutupnya rapat-rapat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar