Senin, 12 Juni 2023

Dafi dan Seekor Kucing (5)

 Dafi menutup pintu dan memilih jongkok di dalam. Dafi berpikir, apa yang membuat ia bisa terdampar di sini. Tadi, setelah lantai 10, harusnya ia sampai di atap, kan? Dipikir seperti apapun, ini tidak masuk akal.


“Apa yang kau lakukan di rumahku?” sebuah suara yang sangat mengerikan terdengar. Dafi mendongak dan melihat seorang nenek-nenek yang jelek menghampirinya.


“Huwa!” Melihat nenek-nenek itu membawa pisau besar, Dafi berteriak dan berlari keluar gubuk. Ia terus berlari sampai mendengar sebuah suara memanggilnya. Dafi pun berhenti dan mengambil napas. Ia berusaha mendengarkan.


“Tunggu. Dafi, tunggu.” Suara itu terdengar lagi. Dafi menoleh ke arah suara dan tidak melihat siapa pun kecuali Milo yang berlari menghampirinya. “Wah, kau kejam sekali meninggalkanku bersama nenek seram itu,” ucap Milo.


“Huwa!” Saking terkejutnya, Dafi pun jatuh terduduk.


“Ck! Kenapa lagi manusia ini?” Milo ikut duduk dan menjilati bulu di ekornya.


“Kau... Kau bisa bicara!” seru Dafi.


Kali ini, gantian Milo yang terkejut. “Eh, kau bisa mengerti yang kukatakan?” Dafi mengangguk cepat beberapa kali.


 “Benarkah? Sekarang, masih kedengaran? Hei, Dafi. Halo, Dafi. Dafi jelek. Apa kau mengerti yang kukatakan?”


“Tentu saja. Berhenti menyebut namaku. Lagipula, yang jelek itu kau, bukan aku.” Dafi merasa, rasa takutnya sudah berkurang. Sekarang sisa rasa heran yang ada di hatinya.


“Wah, keren. Aku sudah sangat lama ingin bisa bicara denganmu.” Milo berlari mengelilingi Dafi dengan rasa senang.


“Ini tidak keren. Ini cenderung... mengerikan,” timpal Dafi.


“Mengerikan apanya? Hei, Dafi. Kau tidak tahu, ya? Aku menyukaimu, tahu!” cerocos Milo.


“Huh. Kau kan hanya menyukai Risa. Kerjamu hanya menggangguku selama ini,” Dafi tidak percaya sekarang ia sedang berbincang dengan seekor kucing.


“Mengganggu? Hei, jangan membuatku tersinggung. Kan, kau yang mengajakku bermain.” Milo kini menatapnya dengan kesal.


“Memang itu kenyataannya,” jawab Dafi. “Apalagi tadi. Kau pendatang baru pasti tidak tahu betapa berharganya plakat-plakat itu bagi Risa. Dengan bodohnya, kau merusak plakat itu.”


“Eh? Benarkah? Aku tidak berniat menjatuhkannya tadi. Karena kau memasang wajah lucu dari bawah, kupikir kau ingin main lempar tangkap.” Milo memberinya penjelasan. Namun, Dafi mengacuhkannya. “Baiklah, maaf. Kurasa hanya aku yang kegirangan sendiri. Risa tidak pernah mengajakku bermain, jadi aku senang sekali bermain denganmu. Risa lebih sering menangis.”


Dafi kini tertarik. “Risa sering menangis?” Dafi jarang sekali melihat Risa menangis. Wanita itu lebih sering menunjukkan wajah penuh semangat.


“Iya. Sejak pertama Risa membawaku ke rumahnya, aku langsung jatuh cinta padanya.”


“Ja... Jatuh cinta?” Dafi tercekat.


“Bukan seperti cintamu padanya. Ah, kau tidak akan tahu perasaan seekor kucing.” Milo menggeleng cepat. “Intinya, karena aku mencintainya, aku ingin membahagiakannya. Namun, ia tetap saja sering menangis.”


“Em, kau tahu penyebab ia sering menangis?” tanya Dafi penasaran.


“Tentu saja. Aku kan teman curhatnya. Beberapa karena tekanan deadline dan penulis yang sulit bekerja sama, tetapi yang paling sering adalah karena kau.”


Dafi terkejut. “Aku?” Dafi berusaha mengingat, kesalahan apa yang ia lakukan sampai membuat Risa menangis. Tidak ada. Selama ini, kan, Dafi sangat berusaha menjaga perasaan tunangannya itu.


“Ck ck ck... Inilah yang terjadi kalau berhubungan dengan pria tidak peka dan tertutup sepertimu.” Milo menggelengkan kepalanya dengan prihatin. “Risa sedih karena kau terus mengundur tanggal pernikahan kalian.”


“He? Kukira Risa senang-senang saja. Aku hanya ingin mengabulkan harapannya agar bisa menikah dengan tema seperti putri dalam dongeng.”


“Memangnya putri dalam dongeng apa yang ada dalam bayanganmu? Dia hanya ingin menikah dengan kau, pangerannya, dengan nuansa terbuka dan konsep alamiah.”


Dafi menatap Milo dengan mulut ternganga. Selama ini Dafi pikir Risa ingin pernikahan mewah seperti pernikahan Cinderella. Astaga. Kenapa jadi melenceng jauh seperti ini?


“Aku harus segera mencari cara untuk pulang dan menemui Risa,” gumam Dafi.

“Mudah saja. Nenek tadi bisa membantu kita,” ucap Milo.


“Membantu bagaimana? Beneran membantu? Kalau ternyata dia jahat bagaimana?”


Milo menggeleng. “Aku tidak tahu caranya, tapi nenek tadi bilang bisa membantu. Ayo,” ajak Milo sambil melangkah lebih dulu. Melihat Dafi masih terpaku, Milo menggigit celana Dafi dan berusaha menariknya. “Ayo, walau seram nenek itu tidak jahat, kok. Kau harus percaya pada naluri seekor kucing.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar