Hana hanya bisa menyimak saat teman-temannya membahas sesuatu tentangnya pada Eyang Pohon Tua. Secara garis besar, Hana memahami bahwa kondisi sayapnya bukanlah hal yang umum terjadi. Sepertinya, beberapa peri menganggap ada kesalahan saat proses kelahirannya. Cacat. Hana tidak tahu kata apa yang lebih tepat dari itu.
"Memang bukan hal yang umum terjadi," ucap Eyang Pohon Tua setelah memeriksa sayap Hana dengan seksama. "Jangan terlalu gugup, peri muda. Bernapaslah," Hana menghirup udara dan menghembuskannya dengan pelan. Sejujurnya, Hana bahkan tidak sadar telah menahan napas sejak tadi.
Chloe memeluk Hana dengan lembut. "Maaf, Hana. Kami pikir, akan lebih baik kalau kau tahu mendadak."
Hana mengangguk. Ia mengerti teman-temannya tidak bermaksud buruk. "Jadi," Hana berusaha bicara dengan tenang "apakah saya cacat, Eyang?"
Eyang Pohon Tua terlihat terkejut. "Kenapa berkata begitu? Apa kau merasa sakit saat terbang?" Hana menjawab dengan gelengan kepala. "Nah. Kau tidak cacat, Sayang. Selama kau bisa terbang maka sayapmu tidak cacat."
Hana tidak yakin dengan jawaban Eyang Pohon Tua. Kalau tidak cacat, mengapa kondisi sayapnya dipertanyakan? Kenapa sayapnya berbeda dengan sayap peri lainnya? Terlalu banyak pertanyaan yang bermunculan di kepala Hana hingga Hana bingung mana yang harus ia tanyakan lebih dulu.
Melihat Hana kebingungan, Eyang Pohon Tua tersenyum simpul. "Hana, mau jalan-jalan dengan Eyang?" Eyang mengajaknya terbang keluar dan teman-teman hana mengikuti di belakang.
Rasanya, memang seperti berjalan-jalan. Mereka terbang berkeliling Taman Bunga kilau. Sebenarnya, Hana tidak mengerti mengapa Eyang Pohon Tua mengajaknya berkeliling. Hana hanya makin merasa peri-peri lain lebih cantik dari dirinya.
"Hampir setiap peri," Eyang Pohon Tua memulai percakapan dalam perjalanan mereka. "terlahir dalam kondisi sempurna saat dilahirkan. Warna sayapnya, besar sayapnya, kondisi fisiknya, akan tetap sama dari lahir hingga kematiannya. Semakin dewasa, ukuran tubuh dan sayapnya hanya bertambah sedikit dan kemudian pertumbuhannya berhenti hingga waktu kematiannya. Rosetta sudah memiliki sayap yang lebar sejak lahir. Begitu pun peri lain yang memiliki sayap lebih kecil darinya."
Hana menoleh ke belakang dan menatap Rosetta. Ucapan Eyang terdengar seperti pujian. Hana pun selalu ingin memujinya karena sayap Rosetta memang benar-benar indah.
"Sudah menjadi kebiasaan jika peri selalu menyukai sesuatu yang indah. Kau pun begitu, bukan?" Hana mengangguk menyetujui opini Eyang Pohon Tua. "Hana, setiap makhluk itu pasti dilahirkan cantik. Sang Pencipta sebagai pemilik segala keindahan selalu menciptakan makhluk yang indah juga."
"Tapi bagaimana dengan peri yang cacat, Eyang?" tanya Hana hati-hati.
"Bahkan, keindahan akan ada pada mereka yang memiliki kekurangan." Eyang Pohon Tua menggandengnya turun ke sebuah rumah peri di sela semak bunga kertas. "Aku akan memperkenalkanmu pada seorang peri yang cantik." Hana dan teman-temannya mengikuti Eyang Pohon Tua masuk ke dalam.
Keberadaan seorang peri yang sedang menenun membuat Hana terpukau. Peri itu cantik sekali. "Wah, lihat siapa yang membawa sepasukan peri imut ke gubukku." Peri cantik itu menyambut Eyang Pohon Tua dengan senyum yang seindah langit di luar. Sayapnya berwarna merah muda dan terlihat lembut hingga membuat Hana ingin menyentuh setiap seratnya.
"Halo, Floryn. Mengapa semakin bertambah tua kau malah semakin cantik?" Eyang Pohon Tua memeluk peri cantik itu dengan sangat lembut.
Peri yang dipanggil Floryn itu tertawa geli. "Jadi, ada tujuan apa mengunjungiku?"
Eyang Pohon Tua menunjuk Hana dan teman-temannya. "Kau sudah mengenal Rosetta, Chloe, Naura, Violett dan Sekar. Nah, aku ingin memperkenalkan Hana padamu."
Floryn merangkul Hana dengan senyum mengembang. "Wah, Hana. Peri muda yang baru lahir. Maaf aku tidak bisa menghadiri kelahiranmu saat itu." Floryn mengembangkan sayapnya dan berkata, "Kau lihat, aku tidak bisa pergi terlalu jauh tanpa merepotkan orang-orang."
Hana menutup mulutnya tanpa sadar karena terlalu terkejut. Sayap Floryn hanya berkembang sebelah, sedangkan sebelahnya terkoyak panjang seperti bunga kertas yang tergunting. Tanpa sadar, air mata Hana menetes. "Anda... tidak bisa terbang?" tanya Hana.
"Bagaimana mungkin terbang dengan kondisi sayap seperti ini?" Floryn tertawa kecil.
"Maaf, em, kak Floryn, apa yang terjadi pada anda?"
"Panggil saja aku Floryn. Usiaku mungkin hampir sama dengan Ratu Rania tapi memanggilku dengan nama saja membuatku merasa awet muda." Floryn mengecup kening Hana.
"Baiklah, Floryn."
"Sayapku sudah terkoyak sejak lahir. Katanya, saat bunga kertasku hampir mekar, kuntumnya terpisah dari tangkai hingga membentur bebatuan. Mungkin karena itu sayapku jadi terkoyak," jelas Floryn. Hana menatapnya dengan sedih. Namun, Hana tidak melihat kesedihan sama sekali di wajah Floryn. Peri di hadapannya tetap menunjukkan senyuman yang sangat cantik.
Berbincang sebentar lagi dengan Floryn, Eyang Pohon Tua mengajak mereka berpamitan. "Ada satu lagi yang ingin ku tunjukkan," ucap Eyang Pohon Tua.
Hana dan teman-temannya mengikuti Eyang Pohon Tua menuju kolam buatan di tengah taman. Eyang menunjuk seekor burung. "Hana, kau tau nama burung itu?"
Hana menggelengkan kepalanya. "Saya belum terlalu hapal nama-nama burung, Eyang."
"Burung itu namanya burung kolibri. Kalau kau perhatikan apa kesamaannya denganmu?" Eyang Pohon Tua bertanya lagi.
"Em, sepertinya, ia bertubuh kecil sepertiku. Burung itu adalah burung terkecil yang pernah saya lihat di taman ini," jawab Hana.
"Bukan hanya di taman ini, Hana. Jenisnya adalah burung terkecil di dunia. Namun, dengan sayapnya itu, ia menjadi satu-satunya burung yang bisa terbang . Kepakan sayapnya adalah kepakan sayap tercepat di dunia. Ia juga burung yang paling kuat untuk penerbangan jauh. Salah satu jenisnya dapat terbang ratusan mil tanpa istirahat."
"Woaaah..." Hana merasa suaranya bergema tapi ternyata itu karena suaranya tercampur dengan suara teman-temannya. Rupanya Naura, Rosetta, Violett, Chloe, dan Sekar juga baru mengetahui fakta ini. Mereka terlihat sangat antusias dengan penjelasan Eyang Pohon Tua. "Keren sekali," ucap Hana.
"Satu lagi keajaiban dari burung kecil ini. Kolibri bisa melakukan hal yang tidak bisa dilakukan oleh peri." Hana dan peri-peri lain menunggu dengan semangat. "Burung ini bisa terbang mundur."
"Woaaahhh..." Lagi-lagi, Hana dan teman-temannya tidak mampu menahan kekaguman mereka.
"Setiap makhluk itu indah, Hana. Semua juga memiliki keunikannya sendiri. Sekarang, coba lihat pantulan dirimu di air. Apakah kau tidak cantik?" Eyang Pohon Tua menuntunnya ke pinggir kolam, tempat air yang jernih menantinya.
Hana menatap pantulan seorang peri bertubuh kecil dan bersayap kecil di sana. Sayapnya berwarna putih dan berkilau seperti cahaya bulan purn
ama. Hana tersenyum dengan rasa penuh syukur. "Saya cantik, Eyang."