"Ya ampun, lucunya...," ucap Risa sambil menggendong kucing kurus dengan tatapan tidak sopan itu.
"Jelek gitu, Sa. Kurus. Bulunya lepek," sambar Dafi.
Risa tersenyum cerah sambil mengangkat kucing itu lebih tinggi. Dafi berusaha menjaga raut wajah sementara ia menata detak jantungnya yang semakin keras. Dalam hati, Dafi ketakutan setengah mati. Takut kucing itu tiba-tiba lompat dan menubruk wajahnya. "Mau taruhan?" tanya Risa.
"Maksudnya?" Dafi bertanya balik.
"Kalau kucing ini jadi lebih cantik bulan depan, kamu harus memberiku sebatang cokelat yang besar." Risa menggendong kucing itu di bahunya dan berjalan pulang. Dafi merasa khawatir saat melihat kucing itu berpegangan dan mencengkram baju Risa. Pasti sakit, kan? Namun, Dafi tidak cukup mental untuk menggantikan Risa. Risa sendiri terlihat senang-senang saja.
"Maksudnya, kucingnya mau kamu pelihara?" Dalam hati, Dafi berharap Risa menjawab tidak.
Alih- alih menggeleng seperti yang Dafi harapkan, Risa malah menoleh dan memberinya pandangan berbinar. "Aku akan memberinya nama Milo."
Begitu saja, kucing jantan berwarna putih pucat dengan corak kecokelatan yang aneh terutama di ujung-ujung telinganya itu, menguasai Risa beserta seluruh apartemennya. Seperti kata Risa, penampilan kucing itu membaik. Tubuhnya kini gemuk dan bulunya semakin cerah walau warna putih pucat yang mengganggu itu ternyata memang dari sananya. Namun, seperti apa pun monster diberi tuksedo, tetap saja seekor monster.
Kucing itu sangat licik. Setiap Dafi mengobrol dengan Risa, si Milo itu selalu mengganggu dengan beragam cara. Di depan Risa dia berpura-pura bersikap baik, tapi saat Risa tidak ada nakalnya tidak karuan. Kembali ke masa kini, Dafi menatap ujung sepatunya yang rusak karena dibuat mainan oleh hewan penggigit itu. Menghela napas kesal, Dafi membuang mangkuk es krimnya yang telah habis dan kembali melangkah.
Langkah kaki Dafi memasuki sebuah halaman apartemen. Salah satu unit di apartemen yang memiliki sepuluh lantai itu adalah tempat tinggal Risa. Pekerjaan Risa sebagai seorang editor di sebuah penerbitan terbilang cukup sibuk. Seringkali Risa lupa makan hingga jatuh sakit. Seperti hari ini. Herannya, Risa tidak pernah lupa memberi makan Milo.
Di depan unit B701 Dafi menekan interkom dan memanggil, "Risa, ini Dafi. Aku masuk, ya." Dafi menekan sandi pintu yang berupa hari ulang tahun Dafi. Dafi tidak meminta Risa mengatur sandi dengan hari ulang tahunnya. Risa sendiri yang mau. Yah, Dafi mengakui, ini lumayan mengharukan.
Pintu terbuka, terlihat terduduk di meja kerjanya sambil memasukkan notes dan pulpen. "Dafi, pas sekali," ujar Risa, "tolong jaga Milo sebentar, ya."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar