Sebenarnya, ada satu hal lagi yang belum pernah kuceritakan pada Yasmin. Aku enggan menceritakannya. Sungguh, jika aku menceritakan ini, mungkin banyak hal buruk yang akan terjadi. Jadi, aku menutupnya rapat-rapat.
Waktu berlalu dan aku sudah berusaha mengambil hati Mpok. Aku bersikap baik di rumah, Sam juga sudah berusaha menunjukkan sikap baik setiap bertemu Mpok. Namun, Mpok selalu terang-terangan bersikap kasar dan mencemooh Sam. Aku kenal Sam. Dia sebenarnya bukan orang mudah menahan amarah. Demi aku, dia rela menerima semua perlakuan tidak enak dari Mpok. Mpok tetap berusaha memisahkanku dengan Sam, sampai menerima bujukan Yudi untuk menjodohkanku dengan temannya yang bernama Yadi.
“Mpok bukannya nggak suka sama Sam gara-gara dia supir truk? Yadi kan juga supir, Mpok!” erangku.
“Eh, Sar. Yadi itu supir kontener. Duitnya banyak. Lu cuma lulusan SMP, mesti nyari laki yang duitnya banyak!” tegas Mpok Ani.
Berkali-kali pun aku menolaknya, Mpok Ani dan suaminya tetap saja menjodohkan aku dengan Yadi. Yadi pun berusaha mengambil hatiku dengan beragam barang. Dia sampai memberikanku sebuah ponsel yang cukup bagus. Melihat barang-barang yang dibawa Yadi, Mpok Ani semakin gencar memaksaku. Padahal aku masih menjalin hubungan dengan Sam.
Aku semakin tidak suka berada di rumah. Kadang, aku berada di rumah Yasmin. Kadang, aku juga berada di rumah keluarga Sam. Berbaur bersama orang tua dan adik-adik Sam yang penuh kehangatan. Hingga hari itu pun tiba.
Aku sedang membantu ibunya Sam memasak di dapur, Mpok Ani datang ke rumah Sam sambil mengamuk. Memintaku untuk pulang. Sebenarnya, aku juga berniat langsung pulang karena rasa malu, tapi belum sempat keluar rumah, Yudi dan Yadi datang dengan motornya sambil membawa botol kaca yang sudah kosong. Mereka berdua berteriak dengan mengancam dengan kata-kata yang sangat kasar. Botol kaca itu sampai dipecahkan sambil menunjuk-nunjuk keluarga Sam.
Mungkin, inilah batas kesabaran Sam. Seseorang yang terbiasa dengan kerasnya jalanan, tidak bisa melihat keluarganya diperlakukan buruk. Sam mengambil parang dan kami semua ketakutan dibuatnya. Suasananya menjadi semakin kacau. Aku menangis, khawatir Sam berbuat nekat. Adik-adik Sam pun berusaha menahan Sam. Melihat Sam yang kalap dengan dengan parangnya, Yudi dan Yadi kabur begitu saja meninggalkan Mpok Ani. Beruntung, setelah kepergian Yudi dan Yadi, Sam pun mulai tenang. Segera, aku pulang agar tidak terjadi sesuatu yang lebih buruk.
Setelah hari itu, keluarga Sam juga mulai membenciku. Mereka juga melarang Sam berhubungan denganku. Berkali-kali aku berusaha, keluarga Sam tetap enggan menerimaku. Sementara itu, perlakuan Mpok Ani dan Yudi semakin menjadi. Mereka mulai main fisik untuk menyiksaku. Bahkan Yudi, tidak segan menendang dan memukulku. Aku tidak takut. Aku justru semakin ingin pergi. Namun, kini aku tidak punya siapa pun lagi. Mpok lebih menyayangi suaminya dibanding aku. Alvin adikku bahkan dihasut untuk membenciku. Hampir setiap hari, aku hanya bisa menangis dan mengadu pada Yasmin sahabatku.
“Mama juga nggak bisa berbuat banyak, Sar. Bagaimanapun, Ani itu kakak kamu. Mama nggak punya hak buat membela kamu lebih dari ini. Mama bingung cara bantunya bagaimana. Mpok kamu juga nggak bisa dinasihati, dia udah dibikin buta mata hatinya karena si Yudi. Bapak kamu juga, nggak pernah memihak kamu karena takut nggak dikasih duit sama Yudi. Heran, semuanya tergila-gila sama duit. Padahal duitnya Yudi juga nggak seberapa,” sesal Mama.
“Ay, sebenarnya Sam masih sayang sama lu. Dia sering nanyain kabar lu ke gua. Cuma Sam belum bisa dateng, dia lagi berusaha ngeyakinin keluarganya dulu. Sumpah deh, gua kesel banget ama si Yudi itu. Udah tua kok nggak punya otak. Bisa-bisanya mukul cewek. Mpok lu juga bukannya belain lu,” omel Yasmin.
Dalam kondisi yang sudah sangat sakit hati, aku pun menceritakan hal itu. Hal yang sudah lama aku pendam. “Yas, sebenernya, Yudi pernah minta nete ama gue. Gue nolak. Kayaknya, Yudi jadi makin kasar semenjak gue nolak itu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar