Beberapa waktu lalu, sebuah konten melintas di beranda media sosial saya. Kontennya berisi tentang pendapat seseorang tentang worklife balance. Worklife balance biasanya menyorot pada keseimbangan antara pekerjaan dengan kehidupan pribadi di luar pekerjaan. Dalam konten tersebut, orang tersebut berkata bahwa worklife balance adalah previlage bagi orang yang berduit.
Intinya, dia beropini bahwa hanya orang berduit bisa memiliki kesempatan memilih untuk menyeimbangkan antara kerja dengan kehidupan pribadi. Sementara itu, orang yang tidak memiliki cukup uang ada di posisi tidak bisa memilih. Alias, sudah pasti harus kerja mati-matian demi mempertahankan kehidupan hingga kehidupan itu sendiri akhirnya dipenuhi dengan aktivitas kerja, kerja, dan kerja.
Dalam nalar saya, opininya terlalu dangkal jika sesuatu hanya dikotak-kotakkan antara hitam dan putih. Kaya dan miskin. Apalagi disebut bahwa worklife balance adalah sebuah previlage. Meski begitu, hati saya yang ingin mengasihani diri sendiri menyetujuinya.
Beberapa lama saya hidup dalam kesulitan. Saya memiliki cukup waktu bersama keluarga. Saya punya cukup waktu jika ingin menyenangkan diri sendiri. Tapi, keuangan tidak mendukung itu. Waktu saya pada akhirnya digunakan untuk memutar otak bagaimana bertahan esok hari. Bagaimana melanjutkan hidup. Bagaimana caranya tidak terusir dari kontrakan. Bagaimana caranya beras terbeli. Bagaimana caranya saat gas tiba-tiba habis saya bisa langsung membelinya. Saya punya banyak waktu, tapi dibilang menikmati waktu, tidak sepenuhnya. Yang ada, saya malah berulangkali ingin menyerah pada hidup.
Sekarang waktu saya sangat sedikit. Saya hanya punya waktu sebentar setelah bangun tidur di pagi hari untuk memandikan anak. Lalu saya berangkat kerja. Saya kembali lagi ke rumah menjelang waktu tidur. Waktu saya hanya cukup untuk memeluknya saat tidur. Meski begitu, saya tidak punya kekhawatiran anak saya terusir dari kontrakan. Saya bisa memiliki stok tabung gas, galon, Pampers, susu, dan segala hal yang bisa habis sewaktu-waktu. Saya merasa aman. Namun, saya jadi tidak bisa ikut dalam membentuk karakter anak saya. Saya harus rela melepas hal-hal yang jadi hobi saya. Selain bekerja, waktu yang tersisa untuk saya hanya waktu untuk tidur. Jika saya ingin melakukan hal lain, maka waktu tidur saya harus dikorbankan. Sedangkan, waktu kerja saya tidak bisa diotak-atik lagi. Waktu libur saya yang terbatas, saya gunakan semaksimal mungkin untuk membayar waktu saya yang kurang dengan anak. Waktu untuk diri saya sendiri, saya kesampingkan.
Saya tahu, pembaca akan menyarankan untuk pindah pekerjaan. Masalahnya, mencari pekerjaan yang sekarang saja sulitnya bukan main. Tidak mudah mencari pekerjaan yang penghasilannya bisa menanggung kebutuhan orang tua, anak, dan diri saya sendiri. Worklife balance jadi tidak terlalu penting. Yang penting dengan work saya masih life. Persetan dengan life yang seperti zombie. Asalkan ada makanan untuk mulut-mulut yang perlu saya beri makan.
Jadi, benarkah worklife balance adalah previlage bagi mereka yang berduit? Entahlah. Mungkin semakin tinggi posisi seseorang maka ia juga memiliki tanggung jawab yang banyak. Seperti memberi makan pekerjanya. Oleh sebab itu ia akan bekerja lebih banyak dari orang lainnya. Meskipun, jika ia benar-benar berduit ia bisa memilih untuk membayar dan menyerahkan tugasnya pada orang lain. Well, previlage.
Meski begitu, itu juga masih terlalu kotak. Mari lapangkan dada dengan kembali pada sesuatu yang disebut takdir. Setiap orang menjalani takdirnya masing-masing. Misalnya, mungkin pekerjaannya fleksibel, tapi di rumah ia punya tuntutan lain yang harus ditunaikan. Mungkin ia bisa meluangkan waktu banyak untuk dirinya tapi ia sebenarnya kesepian. Bukankah ketidakadilan yang terjadi di dunia ini terlihat adil karena semua orang mengalami ketidakadilan?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar