Desa Harmoni adalah tempat tinggal para peri-peri hebat. Peri-peri bertalenta yang sudah diakui bahkan oleh desa-desa tetangga. Tidak percaya? Coba lihat, baju yang digunakan oleh para peri di Desa Harmoni begitu indah. Ini karena Desa Harmoni memiliki peri perancang busana yang hebat. Bangunannya pun begitu menarik karena memiliki peri arsitek yang cerdas. Pantas saja, semua peri di sini selalu terlihat cerah dan bahagia. Kecuali... aku.
Aku Kania. Putri dari seorang peri kebersihan. Akhir-akhir ini aku sering merasa sedih. Aku iri pada teman-temanku yang memiliki ibu yang keren. Ibu Tini adalah peri bunga yang bisa menumbuhkan bunga-bunga indah. Ibu Robi adalah peri flouna yang bisa menjinakkan hewan buas. Ibu Naya adalah peri hukum yang selalu menemukan jawaban di setiap masalah para peri. Semua teman-temanku memiliki ibu yang keren. Tidak seperti ibuku. Ibuku hanya seorang Peri Kebersihan.
Sebenarnya, ibuku adalah ibu yang baik. Ibu sangat menyayangiku dan disegani banyak peri. Namun, aku rasa pekerjaan ibu tidak keren sama sekali. Apa kerennya membersihkan sampah desa? Setiap hari harus memegang sampah.
“Kania!” Lusi memanggil sambil menghampiriku. Lusi terlihat khawatir.
“Ada apa?” tanyaku.
“Ibumu sakit! Tadi, ia ditemukan pingsan di jalan. Tubuhnya panas sekali,” jawab Lusi.
Aku dan Lusi segera menuju rumah peri kesehatan. Di sana, Ibu terlihat sangat lemas. Aku menyentuh dahinya dan terkejut. Tubuhnya panas sekali.
“Peri Kesehatan, ibuku kenapa? Apakah ibuku bisa sembuh?” tanyaku.
“Kania, ibumu terserang virus. Namun, tenang saja. Ini tidak terlalu berbahaya. Dengan minum obat teratur dan istirahat selama satu minggu, ibumu akan sembuh,” Peri Kesehatan menjelaskan.
Aku mengangguk-angguk. Aku membawa ibu pulang dan berniat merawatnya dengan baik. Merawat ibu tidak sulit sama sekali. Aku hanya perlu menyiapkan makanan, mengingatkan ibu meminum obat, dan menjaga ibu tetap nyaman. Namun, sepertinya desa jadi kesulitan karena ibu tidak ada.
Lihatlah. Sejak hari ketiga ibu tidak bekerja, wajah-wajah para peri terlihat keruh. Ini karena tidak ada yang memiliki kemampuan mengelola sampah sebaik ibu. Mereka hanya mengumpulkan sampah asal-asalan di setiap sudut desa. Bau pun mulai menyebar dengan cepat. Bahkan, harum bunga-bunga yang ditumbuhkan peri bunga tidak bisa menutup bau dari tumpukan sampah itu.
Danau kebanggaan Desa Harmoni yang tadinya jernih, kini terlihat gelap. Sampah bertebaran di atasnya. Para peri yang dulu sering duduk di sekitar danau, kini tidak mau mendekat lagi.
Hari ini, aku dan teman-teman bermain di depan rumahku. Karena halaman rumahku adalah halaman rumah yang tidak terlalu kotor dibanding rumah lain. Ini semua berkat ibu yang mengajariku cara membersihkan halaman dengan baik. Saat sedang bermain, teman-teman membahas Ibu.
“Kania, kapan ibumu sembuh? Saat ini, ibuku tidak bisa merancang baju dengan baik. Katanya ibuku tidak bisa berkonsentrasi karena bau sampah.” Tanya Mira, anak dari Peri Perancang Busana.
Robi, anak dari Peri Arsitektur mengangguk dan berkata, “Benar, Kania. Ayahku juga tidak bisa merancang bangunan untuk balai desa dengan baik. Katanya, ia terganggu dengan banyaknya sampah di jalanan.”
“Kania, kami harap ibumu segera sembuh. Tanpa ibumu, seluruh pekerjaan ibu kami jadi terhambat,” ucap para peri itu.
Pagi hari di hari kedelapan, Ibu keluar rumah dan disambut oleh para peri. Mereka bersorak gembira dan mengucap syukur. Aku pun membantu ibu menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Aku dan ibu mengumpulkan setiap sampah di desa. Ibu memilah sampah yang bisa didaur ulang dan tidak. Sampah yang tidak bisa didaur ulang dikumpulkan di penampungan, sedangkan sampah yang bisa didaur ulang dibawa ke beberapa tempat. Pabrik pupuk, pabrik perabotan, pabrik mainan, dan lain-lain. Hari itu sangat melelahkan, tetapi melihat wajah-wajah warga desa kembali cerah, membuat aku dan ibu menjadi lebih bersemangat.
Saat perjalanan pulang, aku menatap hasil kerja ibu. Bunga-bunga jadi terlihat lebih indah. Jalan-jalan di desa terasa nyaman. Air danau masih perlu waktu untuk kembali jernih, tapi kini terlihat lebih baik. Rupanya, pekerjaan ibuku sangat keren. Aku bangga dengan pekerjaan ibuku.
Aseli, ini tulisan yang keren banget, Nur!
BalasHapusIdenya keren! Meski premisnya sederhana, tapi eksekusinya mantap dan cakep banget hasilnya.
Bangga!