Selasa, 23 Mei 2023

Part 3 : Berdamai dengan Semesta

Aku sudah dewasa, walau aku tahu tak seorang pun bisa dewasa secara sempurna. Aku masih mudah mengeluh, tapi keluhanku tak lagi sepanjang hari. Aku belum setegar yang orang-orang harapkan dariku. Aku masih menangis saat ketidakadilan menamparku.


Setidaknya, kali ini aku tidak lagi mengharapkan kematian. Entah sampai kapan. Aku hanya membiarkan tubuhku mengikuti keinginan semesta. Candaan semesta yang tidak lucu itu, tak lagi mengejutkanku. Hidup saja, selama masih hidup. Kalau mati, tidak apa-apa juga.


Aku menyadari bahwa cara kerja semesta memang seperti ini. Setiap manusia hanya mengikuti takdirnya masing-masing. Jika ingin hidup mendekati normal, berjuang jadi hal yang pasti. Selebihnya, tak ada yang bisa kulakukan saat semesta berbuat semaunya. Memaki,menghardik, menghina, dan melawan takdir tak membawa keuntungan apapun untukku. Terima saja. Memang selalu ada hikmah di balik setiap peristiwa. Walau hikmahnya hanyalah kau jadi semakin tegar untuk peristiwa-peristiwa aneh lainnya.


Sebuah hiburan yang tidak pantas terlintas di kepalaku. "Dunia tidak adil bagi semua manusia, itulah bukti keadilannya." Ironis, bukan? Di satu sisi, aku jadi sedikit tenang. Di sisi lain, aku jadi bertanya-tanya seperti apa candaan semesta untuk orang lain. Selain aku.


Beragam teori tentang cara kerja semesta masuk ke kepalaku. Beberapa orang percaya bahwa semesta bekerja sesuai apa yang kita pikirkan dan harapkan. Semakin kita berpikir buruk, maka keburukan itu akan benar-benar terjadi. Itu sebabnya kita harus selalu optimis dan yakin bahwa hal-hal baik akan terjadi.


Sebenarnya, aku sedikit bingung. Bukankah aku jadi berpikir buruk karena selama ini sering mendapat nasib buruk? Kenapa orang-orang berpikir nasib buruk datang karena aku berpikir buruk? Meski begitu, aku tetap ingin mencoba. Aku ingin berpikir yang baik-baik saja.


Tak mudah untuk berpikir positif setelah semua hal yang sudah kualami dalam hidup. Tak mudah untuk untuk tetap bersyukur atas semua kegagalan yang kulalui. Namun, aku tetap ingin mencoba.


Aku tahu, aku belum benar-benar berdamai dengan semesta. Aku tetap ingin meraung di bawah hujan, saat semesta selalu punya cara mengusikku sewaktu aku baru mulai beristirahat. Meski begitu, kemudian aku memaafkannya. Aku memaafkan semesta. Aku juga berusaha memaafkan diriku sendiri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar