Kamis, 18 Mei 2023

Hamka : Religius yang Sesungguhnya

Rasa tidak berani muncul saat saya harus menulis tentang Hamka. Sosok yang mansyur namanya tidak hanya di negeri ini tapi juga negeri-negeri yang jauhnya ribuan kilo meter dari Indonesia. Namun, saya juga ingin menjadi salah satu penyiar nama beliau. Hamka, adalah manusia yang tidak boleh dilupakan bahkan oleh generasi yang akan datang.


Nah, untuk kamu yang belum kenal dengan Hamka, kenalan dulu, ya. Beliau seorang ulama, filsuf, dan sastrawan Indonesia yang menggunakan nama pena Hamka untuk setiap tulisannya. Beliau biasa dipanggil Buya Hamka karena dianggap sebagai orang tua yang dihormati dan memiliki keilmuan yang tinggi terhadap agama. Berikut ini adalah profilnya:

Nama : Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah Datuk Indomo

Nama Pena : Hamka

Kelahiran : Sungai Batang , 17 Februari 1908

Wafat : Jakarta, 24 Juli 1981

Karya terkenal : Tafsir Al-Azhar

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Di Bawah Lindungan Ka'bah


Judul tulisan ini saya dapatkan dari opini seorang teman mengenai beliau, setelah saya menanyakannya melalui siaran daring. Religius yang sebenarnya. Opini yang menarik, dan saya rasa sangat tepat untuk menggambarkan Hamka. Islam seperti menyatu dalam darahnya. Itu sebabnya setiap tulisannya pasti menyiratkan filsafat nan religius yang amat dalam. Meski begitu, Hamka tahu memanfaatkan keilmuan Islam untuk mendukung setiap aktivitas dunia. Hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan manusia dengan manusia, dan hubungan manusia dengan setiap keputusan dan tindakan yang bisa memengaruhi segala hal di dunia ini. Apa lagi kalau bukan religius yang sesungguhnya?


Sudah lama sekali sejak saya membaca Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, dan Dalam Lindungan Ka'bah. Saya pun menyegarkan ingatan saya dengan membaca karya-karya Hamka yang lain melalui google book. Saya tidak membacanya sampai selesai. Saya hanya membaca beberapa sampe gratis yang disediakan oleh google book. Lalu, saya mendapatkan sensasi yang sama seperti saat membaca karya-karya bertahun-tahun yang lalu. Napas saya berat, lambat, seakan saya lupa caranya bernapas. Begitulah, Hamka mampu menyihir pembacanya. Padahal, gaya menulisnya cenderung lebih sederhana dibanding penulis lain pada jamannya, tapi setiap informasi yang tertuang di dalamnya seperti membuka peti harta karun. Seperti itulah perasaan saya setiap membaca karya Hamka.


Dalam beberapa saat, saya langsung ingin memiliki karya seperti beliau. Karya yang tak begitu tebal, malah cenderung tipis jika dibanding kebanyakan buku best seller saat ini. Bukan karya dengan petualangan yang berseri-seri. Namun, satu buku itu mampu mengubah pandangan pembaca tentang dunia. Ditambah, selipan pengetahuan tentang Islam, terasa begitu ramah dan universal. Sesuatu yang hebat menurut saya, karena dengan ilmu yang luar biasa banyak tapi tidak ada kesan menggurui dalam tulisannya.


Kamu akan tertegun, membaca sepak terjang dalam mengajar sambil menulis. Atau menulis sambil mengajar. Entahlah. Bahkan, ia masih menulis walau ia dalam keadaan sakit dan menjadi tahanan. Saya tidak melihat langsung Perjuangannya karena saya belum lahir pada masa itu. Yang saya lihat, semua aktivitas yang Hamka lakukan pada masa itu, terukir dalam sejarah bahkan tulisannya abadi dicetak berkali-kali. Tulisannya menetap di ingatan, diceritakan ulang melalui orang tua ke anak, guru ke murid, dan disebarluaskan oleh para sutradara melalui film layar lebar.


Sekarang, apakah kamu masih belum mengenal Hamka? Baca karyanya untuk ikut merasakan sendiri apa yang saya rasakan. Karya dari Hamka. Religius yang sesungguhnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar