Dulu sekali, aku adalah anak kecil yang penuh harapan. Aku adalah anak yang punya cita-cita tinggi. walau kondisi hidup yang susah. Mudah sekali untuk dimotivasi.
Bukannya aku adalah anak dari keluarga yang sejahtera. Tidak. Aku hanyalah anak kecil yang harus terusir dari satu tempat ke tempat lain karena ketidakmampuan membayar kontrakan. Aku tidak tahu rasanya memiliki keluarga besar, yang aku tahu, memiliki ibu seorang sudah cukup.
Aktivitasku seperti anak-anak lain. Bermain, sekolah, dan mengaji. Hanya bedanya ada aktivitas mencari uang di dalamnya. Aku memulung barang bekas, membantu ibu menjual koran, dan mengamen di bis kota di lain waktu.
Hidupku sulit saat itu. Tapi aku masihlah anak kecil yang penuh impian. Sewaktu taman kanak-kanak, aku akan menjawab dengan alas bahwa aku ingin jadi polwan atau dokter. Hingga di sekolah dasar aku bercita-cita ingin menjadi guru, seniman, dan sastrawan. Aku akan bersemangat untuk menjawab bahwa aku akan bersekolah setinggi-tingginya. Aku akan menjadi orang sukses. Aku akan mengangkat harkat dan martabat ibuku. Aku mempercayai setiap harapan itu, sebagai masa depan yang akan jadi milikku. Aku mempercayai dan mengikrarkan hal yang diharapkan oleh ibu dan semua orang yang mengenalku.
"Kamu pasti sukses, Nak. Kamu harus sukses. Cuma kamu satu-satunya harapan Mama," ucap ibuku.
Kata-katanya seperti sihir. Bagiku, ucapan ibu adalah titah untuk masa depanku.
Aku mungkin menangisi hal-hal menyedihkan dari hidupku. Namun, aku masih bisa mempercayai adanya pelangi setelah hujan. Aku masih percaya bahwa aku dilahirkan untuk sukses. Nanti, hari itu akan datang. Aku... hanya perlu untuk terus hidup dan bersabar.
Itulah yang kurasakan saat itu. Sebelum muak menghampiri mental remajaku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar