Masa remajaku rusak. Kesabaranku terus menerus diuji. Aku jadi mulai bertanya, kapan ini akan berakhir?
Seringkali aku harus memeluk diri sendiri, karena rasanya tubuh bisa remuk sewaktu-waktu. Sudah berkali-kali, perasaan ingin mati muncul. Namun, bagaimana dengan ibu yang hanya memilikiku? Apa yang akan terjadi padanya kalau aku menghilangkan diri? Aku takut menyesal. Ketidakwarasanku merasa lebih takut menyakiti hatinya, dibanding takut terbakar di neraka. Aku memang hamba yang seburuk itu.
Kadang, aku menghabiskan waktu hanya untuk mencari skenario kematianku. Bagaimana caranya membuat kematianku terlihat seperti kecelakaan. Aku mulai peka pada hal-hal berbahaya di sekitarku. Pisau yang biasa membantuku membuat prakarya, mulai merayuku menggunakannya untuk hal lain. Aku juga mencari tahu berbagai jenis racun, walau pada akhirnya aku hanya bisa membeli racun tikus dari pasar. Pernah racun tikus itu hampir masuk ke mulutku, tapi gagal karena suamiku merebutnya. Racun itu justru terlempar dan menyebar di kasurku.
Aku patah. Aku lelah. Rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya seperti tidak lagi relevan. Aku tidak bisa rajin belajar karena fokus mencari uang. Aku juga tidak bisa hemat karena uangku bahkan tidak cukup untuk membantuku hidup. Yang ada hanya batu sandungan yang muncul tiba-tiba. Yang ada hanya kerikil yang menghalangi jalanku, padahal aku tidak mampu membeli sepatu. Ada lagi, ada lagi, ada lagi saja masalah yang datang.
Sering menghadapi masalah, mungkin membuatku lebih kuat. Mungkin banyaknya cobaan membuatku lebih tegar. Tapi, banyaknya masalah juga membuatku lelah. Hidup terlalu melelahkan. Mati terasa seperti sumur yang dalam di tengah gurun pasir yang luas.
Aku merasa tidak lagi punya harapan. Aku takut untuk bercita-cita. Dahulu, aku memercayai kata-kata orang dewasa untuk bercita-cita setinggi langit. Aku memercayai bahwa aku bisa menggapai bintang. Namun, tidak ada yang berkata padaku bahwa saat cita-cita itu tidak tercapai, sakitnya akan seperti ini. Bahkan, aku seringkali aku tidak bisa berusaha untuk mencapainya. Usahaku hanya berpusat pada perjuanganku untuk tetap bertahan hidup. Bernapas saja rasanya sulit sekali.
Semesta selalu punya cara untuk menjatuhkan. Aku bangkit, lalu jatuh lagi. Siklusnya terus berulang sedang aku juga tidak boleh menyerah. Aku ingin menyerah, tapi tidak boleh. Ada orang-orang yang kusayang, yang harus kubahagiakan. Lelah itu datang lagi. Aku lelah harus ada di posisi yang wajib bangkit. Aku menepis semua motivasi, mengangguk di luar padahal dari dalam hati aku ingin mengusir semua orang yang menyuruhku untuk tetap optimis. Aku tidak bisa optimis. Aku sudah terlalu sering jatuh. Aku jadi sering merasa yakin duluan , bahwa aku pasti jatuh lagi. Aku tau, realistis dan pesimisku sudah tidak bisa dibedakan lagi.
Keresahan dan keputusasaan di tulisan, Kakak ini tersampaikan dengan baik. Semoga nanti, semesta sedikit memberi jeda untuk bernapas.
BalasHapusSemoga. Alhamdulillah sudah berdamai dengan semesta.
HapusSehat-sehat, Nur.
BalasHapusSemoga kali ini ada banyak cara untuk menyampaikan rasa dan sekadar melarikan diri sejenak melalui media yang jauh lebih bersahabat.
Ada banyak hal yang layak ditemui. Ada berbagai macam kemungkinan dan peluang baik yang siap kamu raih.
Terus sehat dan semangat, Nur. Karena memang adeknya Abang Robot ya begitu itu.
Yap. Batrenya masih penuh Bang!
HapusSesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Itu kata Al-Qur'an, saya hanya menyampaikan. Semoga ada jalan keluar yang lebih baik.
BalasHapusSemoga. Sudah berdamai dengan semesta nih
HapusPercaya atau tidak terkadang hasil bisa mengkhianati usaha sama halnya dengan impian bisa tak tercapai makanya agar tidak kecewa kita disuruh untuk tawakal, bukan hanya di akhir tapi tawakal harus ada di awal, tengah, sampai akhir. Setiap proses selalu melibatkan Allah agar ketika kecewa datang kita tidak akan merasa usaha kita sia-sia.
BalasHapusSiap. Laksanakan!
HapusKeresahan yang dituliskan seperti natural. Menarik tulisannya kak
BalasHapusThank u Kak!
HapusBagus banget penyampaiannya. Mengena di hati dan seperti ikut meraskan kesedihannya.
BalasHapusKrn meski kejadian nyata, ga smw penulis bisa mengemasnya secara baik dan ga cuma sekedar curhat. Tulisannya penulis itu memang harusnya beda.
Akhirnya ada yang komen tentang penulisan. Thank u Kak!
HapusTetap bangkit, sekalipun kita punya seribu alasan untuk jatuh. Pada akhirnya, kita menyadari kalau hidup menjadi medan perlawanan untuk mengenali diri kita yang sebenarnya. Saya berharap, Kakak selalu menghidupkan api harapan dalam diri untuk tetap hidup seutuhnya.
BalasHapusSelalu berjuang untuk itu dan akan terus berjuang. Insyaa Allah.
HapusHanya perlu yakin dan percaya bahwa ujian diberikan untuk hambanya yang mampu melewatinya, baru saja kemarin ya Allah dulu saat kejadian seperti ini kayak gak bakal bisa melewati, ternyata udah bertahun-tahun yang lalu terlewati dengan bahu tegap. Semangat sayang
BalasHapusTentu!
HapusSemangat Mbak. Saya pernah berada di posisi Mbaknya. Serius! *peluk jauh*
BalasHapusSetiap ujian yang datang adalah cara Allah mencintai kita. Itu kata-kata yang setidaknya bisa agak menguatkan. Banyak lagi sih Pasti Mbaknya akan sanggip kok, optimis.
Sudah berdamai dengan semesta yaaa
Hapuspernah banget mengalami ini mbak sewaktu remaja dulu, bahkan sampai ingin bunuh dri. Cerita mbak mengingatkan momen masa kelam itu dulu, tapi ternyata Tuhan masih sayang banget dan surprisingly mungkin aku yg 13 tahun lalu akan terkejut dengan aku yg sekarang. Survive ya mbak
BalasHapusSudah berdamai dengan semesta yaa
HapusKita sebagai manusia memang tidak boleh menyerah harus punya rasa semangat.
BalasHapusTentu!
Hapus