Mia membuka sebuah album foto dan mengelus sosok laki-laki di dalamnya. Sosok bercelana denim abu-abu dengan kaos garis-garis. Air mata Mia menetes. Mia ingat sekali, sewaktu sekolah dulu ia sering malu untuk menulis pekerjaan bapaknya. Mia malu menulis kata buruh di formulir apa pun yang diminta oleh pihak sekolah. Mia tidak muluk-muluk, berharap ayahnya adalah seorang insinyur atau dokter. Hanya saja, buruh terasa sangat hina di telinganya.
Tinggal di ibu kota yang keras, Mia tahu bahwa pekerjaan bapaknya sebagai kuli panggul di pasar, adalah pekerjaan yang dipandang hina oleh orang lain. Selain menjadi kuli panggul, Bapak Mia juga kerap mengambil pekerjaan sebagai kuli bangunan. Intinya, pekerjaan itu hanya berputar di dunia perburuhan.
Perasaan buruk Mia ini bukan tanpa alasan. Selain karena statemen itu memang sudah menjadi statemen umum bagi banyak orang, Mia juga menyaksikan sendiri bagaimana bapaknya diperlakukan dengan hina. Pernah sewaktu-waktu, Mia mengantarkan makan siang untuk bapaknya yang sedang bekerja. Saat itu, Mia menyaksikan, seseorang mencaci maki bapaknya hanya karena reflek ingin bersalaman. Kotor, katanya. Padahal, tangan bapaknya sudah dicuci karena tahu makan siangnya sebentar lagi datang.
Sejak saat itu, Mia bercita-cita ingin memiliki pekerjaan yang lebih baik. Pekerjaan yang bukan buruh. Mia menuliskan cita-citanya itu di sebuah kertas karton sambil membayangkan sebuah pekerjaan yang akan terpampang di kartu identitasnya. Setiap hari menatap puas pada tulisan "Karyawan Swasta" yang selalu tertempel di dinding dekat tikar tidurnya.
Beranjak dewasa, Mia sadar, pemikirannya salah. Lingkungannya yang terlalu mengkotak-kotakkan profesi seseorang. Bagusnya, Indonesia saat ini sudah lebih baik. Rakyatnya pun sudah banyak yang cerdas. Sudah banyak yang sadar bahwa karyawan swasta dan kuli bangunan adalah sama-sama buruh. Dalam hierarki pekerjaan, semua divisi dari yang terendah sampai yang tertinggi saling membutuhkan. Bahkan di tengah perkembangan transformasi digital, buruh seperti bapaknya tetap dibutuhkan.
Tak peduli seperti apapun besarnya gaji seseorang, tidak ada yang berhak menghina bapaknya hanya karena pekerjaannya. Bapaknya mencari uang dengan cara yang baik, hingga Mia bisa bersekolah, dan kini Mia bisa menjadi karyawan swasta di perusahaan yang cukup bagus.
Miya membalik foto berikutnya. Foto anak lelakinya yang sedang bermain peran di sebuah taman hiburan anak-anak. Anaknya tersenyum bangga, sambil memamerkan rumah yang ia susun dari bata buatan. Tahun ini sudah baik. Indonesia 2024 , pasti lebih baik lagi.
Ini memang bukan tentang buruh. Melainkan tentang kita.
BalasHapusKita yang asyik mengkotak-kotakkan manusia berdasarkan predikat tertentu dalam hidup.
Gelar kebangsawanan, keturunan, pekerjaan, lulusan sekolah, dan berbagai model dikotomi yang tampil dan membuat manusia tak sepenuhnya layak mengakui diri sebagai makhluk sosial.
Cerita yang Nur tulis ini sungguh baik dan menjadi tamparan kecil, betapa manusia senang membuat kotak-kotak atas manusia lain, kendati sehari-hari mengeklaim dirinya adalah orang paling toleran dan open minded.
Keren, Nur!
Yap. Thank u Bang!
HapusWah ceritanya keren kak, kakak mengambil sudut pandang bahwa transformasi digital tak selamanya buruk bagi buruh.
BalasHapusDan yg perlu digarisbawahi apapun pekerjaan orang tua jangan pernah malu. Selagi halal mereka bukan orang yg hina
Betuuuuul. Terima kasih sudah mampir
HapusWahh terbawa suana sama isi cerpennya. Banyak pesan penting di dalamnya. Semoga kita salah satu dari sekian manusia yang bangga dengan pekerjaan apapun yang kita lakukan, selagi halal.
BalasHapusAamiin semoga Indonesia dan dunia akan menjadi lebih baik, meski saat ini benar-benar sedang tidak baik-baik. Semangat mia
BalasHapusSemangat juga Umma!
HapusMenafkahi anak dan istri dengan cara yang halal, sangat mulia di mata Allah. Jangan pedulikan pandangan manusia.
BalasHapusSetelah dewasa, saya jadi sadar kalau kita sebagian besar adalah buruh. Hal yang berbeda hanyalah pada profesi yang kita lakoni. Apapun itu, kita memiliki satu tujuan yang hampir sama. Bekerja untuk memperoleh penghasilan yang halal untuk membantu perekonomian diri sendiri dan keluarga. Semoga apapun pekerjaan yang kita pilih, tidak menjadi pembeda satu sama lain.
BalasHapusBetuul. Semangat terus, ya!
HapusCeritanya bagus kak, tidak perlu malu mengakui pekerjaan. Selagi halal dan tidak merugikan orang lain, harus kita banggakan.
BalasHapusBuruh hanya sebagai sebutan saja, tetapi mereka sama saja tujuan nya bekerja untuk keluarga .
BalasHapusKalo gak ada buruh, gak akan ada bahan bangunan yang beberapa masih dicetak dengan bantuan tenaga manusia. Itu salah satu contohnya. Semoga orang-orang seperti Mia tidak pernah malu dan terus bangga memiliki bapak yang berprofesi sebagai buruh.
BalasHapusBenar sekali mba, semua kita ada peranannya di tatanan semesta ini karena itu kita tidak bisa bermegah diri karena kita masih saling butuh satu sama lain
BalasHapusMenyentuh hati banget ceritanya. Kalau ditulis dalam teks yg lebih panjng pasti makin baper nih
BalasHapus